Sindir Pemkab, Santri Ponpes Matholi’ul Anwar Kuras Banjir di Depan Pesantren, 4 Bulan Tak Surut
Alga W March 11, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM - Banjir yang berlangsung selama hampir empat bulan, menggenangi jalan provinsi di depan Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo, Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng.

Para santri turun ke jalan melakukan aksi menguras genangan air yang sudah berbulan-bulan tak kunjung surut di sepanjan jalan provinsi depan pondok pesantren, Selasa (10/3/2026).

Baca juga: Operasional SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 Kota Malang Dihentikan Sementara Pasca Temuan di Menu MBG

Meski menyadari upaya tersebut sepenuhnya sulit menghilangkan genangan, para santri tetap beraksi menguras air yang menggenangi jalan provinsi di depan sekolah mereka.

Dengan membawa gayung dan timba plastik, para santri membuang air dari badan jalan dan membuangnya ke saluran di sekitarnya.

Kondisi ini diperparah karena permukaan air di sisi kanan dan kiri jalan justru lebih tinggi dari badan jalan, sehingga air terus mengalir kembali dan membuat genangan sulit surut.

Para santri tetap bahu membahu menyiduk air dari badan jalan dan membuangnya ke saluran drainase di sekitar lokasi.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk sindiran pada berbagai pihak terkait lantaran tidak mampu menangani  banjir yang mengganggu aktivitas para santri dan para ustaz.

Banjir di jalan provinsi tersebut juga mengganggu para pengguna jalan, baik yang menuju wilayah pantura maupun ke selatan Sumlaran.

Koordinator, Maulana Arif Hidayatulloh mengatakan, aksi ini merupakan inisiatif para santri untuk membantu mengatasi genangan air yang selama ini mengganggu aktivitas warga.

Banjir ini sudah menggenang di depan pesantren dan di jalan ini selama lebih dari empat bulan, tapi belum juga bisa diatasi.

"Ini inisiatif kami bersama ratusan santri untuk membantu pemerintah menguras jalan ini agar banjirnya segera selesai," ujar Maulana.

Ia menjelaskan, genangan air yang bertahan cukup lama tidak hanya menghambat akses transportasi.

Tetapi juga membuat permukaan jalan menjadi licin karena ditumbuhi lumut sehingga membahayakan pengguna jalan.

Maulana menambahkan, selama ini pemerintah daerah disebut telah melakukan berbagai upaya penanganan banjir, termasuk melalui sistem pompanisasi.

Namun, kondisi di lapangan dinilai belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

"Selama ini pemerintah selalu menyampaikan sudah berusaha maksimal, tapi kenyataannya sampai sekarang banjir di Lamongan bukannya surut, malah semakin parah," katanya.

Para santri bersama warga sekitar berharap, Pemerintah Kabupaten Lamongan segera mengambil langkah penanganan yang lebih efektif agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.

"Harapannya agar genangan banjir ini bisa segera diatasi, kalau bisa sebelum Hari Raya ini dapat diselesaikan. "

"Dan tak ada lagi banjir dikemudian hari," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.