Sempat Terjebak di Teheran, Zulfan Lindan Sebut Belum Ada Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Ibriza Fasti Ifhami/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politisi Indonesia, Zulfan Lindan sempat terjebak selama kurang lebih 10 hari di Teheran, Iran, negara yang menghadapi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, beberapa waktu belakangan ini.
Hal itu disampaikan Zulfan Lindan saat baru tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa (10/3/2026).
Ia merupakan satu dari 22 warga negara Indonesia yang dievakuasi dari Iran buntut adanya serangan yang dilancarkan AS dan Israel.
Baca juga: Hari ke-11 Perang Iran: Teheran Digempur Bom, Massa Turun ke Jalan Berikan Dukungan Mojtaba Khamenei
Serangan gabungan AS-Israel yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026 itu diketahui menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Zulfan mengatakan, selama di Teheran, belum ada gelaran prosesi pemakaman untuk Khamenei.
Menurutnya, hingga saat ini Ayatulloh Ali Khamenei belum dimakamkan.
Alasannya, kata Zulfan, situasi konflik yang masih tinggi diikuti serangan-serangan rudal masih belum memungkinkan pemakaman digelar.
"Oh belum. Sampai saat ini Ayatulloh Ali Khamenei belum dikuburkan. Karena alasannya kalau dikuburkan dalam situasi tegang seperti ini, itu akan turun ke jalan yang mengantarkan 50 juta orang. 50 juta orang kalau kena serang bagaimana," kata Zulfan, saat ditemui, Selasa.
"Jadi kalau ada info Ayatulloh Khamenei sudah dimakamkan, belum. Belum dimakamkan," tambahnya.
Zulfan menambahkan, berdasarkan informasi dari warga Iran yang dia temui, pemakaman Ayatulloh Ali Khamenei baru akan digelar ketika situasi konflik mereda.
"Menurut mereka (warga Iran) setelah aman, apakah bicara kalah atau menang atau damai, barulah dikuburkan. Rencana pemakamannya kan di sebelah Imam Khamenei," jelasnya.
Ia kemudian menggambarkan bagaimana serangan yang dilancarkan AS dan Israel ke Iran masih begitu masif.
Bahkan, menurutnya, serangan itu berlangsung setiap hari.
"Iya (masih ada serangan), hari pertama sampai hari ke-10. Bahkan ketika kita di Azerbaijan juga kita masih was-was karena ada ketegangan kedua negara itu," ucap Zulfan.
Zulfan Lindan merupakan seorang politisi senior kelahiran Banda Aceh, 1 November 1956.
Zulfan menamatkan sekolah dasar hingga menengah di Banda Aceh.
Dia melanjutkan pendidikan di Universitas Jayabaya, Jakarta meski tidak sempat menyelesaikan perkuliahannya.
Di keorganisasian, Zulfan Lindan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sempat menjadi Ketua PB HMI pada 1983.
Zulfan Lindan sempat tercatat sebagai pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) dan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK).
Dia sempat bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan duduk di kursi anggota DPR RI periode 1999-2004.
Hingga akhirnya, ia bergabung dengan NasDem dan disebut ikut menjadi satu di antara pendiri partai pimpinan Surya Paloh itu.
Di partai itu, Zulfan Lindan sempat menjadi Ketua DPP bidang Organisasi dan Industri dan Tenaga Kerja.
Jabatan lain yang pernah diemban Zulfan Lindan adalah Ketua Teritorial Pemenangan Pemilu Sumatera 1 yang meliputi Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).
Di Pemilu 2014, Zulfan Lindan kembali mencoba peruntungan dengan menjadi calon anggota legislatif (caleg).
Saat itu, Zulfan Lindan menghadapi sejumlah caleg incumbent di daerah pemilihan (Dapil) Aceh II.
Ia meraih 23.748 suara dan berhasil mengantarkannya kembali ke parlemen.
Zulfan Lindan tercatat memiliki harta kekayaan sebesar Rp 47 miliar atau tepatnya Rp 47.484.203.357 per 28 Maret 2022.
Harta kekayaan ini dilaporkan Zulfan Lindan saat menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama/Komisaris Independen PT Jasa Marga (Persero) Tbk atau Jasa Marga.