Suami Istri Asal Bekasi Ungkap Kegigihan Warga Iran Hadapi Rudal AS-Israel: Tak Ada yang Sembunyi
Adi Suhendi March 11, 2026 02:16 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Genggaman tangan pasangan suami istri (pasutri) tak terlepas ketika kembali ke Indonesia setelah dievakuasi dari Iran akibat adanya serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Teheran.

Saat tiba di Arrivals Lounge Umrah, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/3/2026) sekira pukul 18.51 WIB, pasangan suami Istri bernama Muhammad Jawad dan Zainab selalu berdiri berdampingan.

Keduanya terlihat kompak mengenakan pakaian muslim berwarna hitam saat keluar dari area bandara sambil mendorong troli berisi sejumlah koper dan tas lainnya.

Tak ada ketakutan yang terpancar dari wajah keduanya setelah mengalami situasi perang dengan banyaknya rudal menghancurkan sejumlah bangunan di Kota Teheran.

Ketangguhan keduanya ini juga menggambarkan cerita gigihnya warga Iran ketika negaranya diserang senjata militer Amerika-Israel.

Baca juga: Zulfan Lindan Ungkap Banyak Pelajar WNI di Iran Ingin Pulang ke Tanah Air, Tapi Sekolah Tak Libur

Muhammad Jawad (26) bercerita, sebagai warga asing di Iran, tentunya sangat terkejut saat mendengar ledakan meski tinggal di Kota Masyhad yang notabene jauh dari Kota Teheran.

Meski begitu, ia mengaku kaget ketika melihat warga negara Iran sama sekali tidak takut meski banyaknya serangan yang diluncurkan pihak AS-Israel.

"Yang menarik adalah masyarakat Iran, ketika terjadi perang, terjadi ada serangan-serangan ini, mereka tidak takut. Mereka tidak bersembunyi di dalam rumah, di bunker atau segala macam," kata Jawad saat ditemui.

Jawad yang baru selesai melaksanakan studi S1 di Universitas International Al-Mustafa (MIU) yang berada di Kota Qom, Iran itu mengatakan warga Iran malah melakukan 'Tajammu' atau berkumpul di beberapa titik di jalan Kota Teheran.

Baca juga: Megawati Kirim Surat ke Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei: Saya Gembira

Jawad mengatakan mereka menyerukan slogan-slogan perlawanan hingga mengobarkan api semangat atas serangan yang dilakukan Amerika dan Israel.

"Jadi dari hari pertama itu kan serangannya mulai pagi pukul 10 pagi, itu sorenya pukul 4, masih dalam keadaan puasa, mereka terus melakukan perkumpulan-perkumpulan ini. Bahkan buka puasa, salat Magrib, salat Isya mengadakan tajammu lagi atau berkumpul lagi dan terus sampai hari ini," tuturnya.

Suasana yang berbeda terlihat ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei wafat akibat serangan AS-Israel.

Warga negara Iran sangat berduka atas tewasnya Ali Khamenei dan memutuskan 7 hari libur nasional dan 40 hari berduka.

"Sebenarnya kondisinya karena memang libur, libur nasional, bank-bank, sekolah semuanya pada tutup. Tapi balik lagi, dengan syahidnya, dengan terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei ini masyarakat Iran semakin membara hatinya untuk semakin mengadakan Tajammu atau perkumpulan itu tadi," ungkapnya.

Ketangguhan warga negara Iran pun tertular kepada Jawad dan Istrinya. 

Keduanya tergerak untuk mengikuti Tajammu dengan warga lainnya meski merupakan warga asing.

"Setiap ada tajammu' sebisa mungkin kita ikut. Karena mewakili dari masyarakat Indonesia yang mungkin tidak bisa hadir tapi ingin ada di situasi seperti itu, kami selalu ikut turun ke jalan untuk meneriakkan dukungan terhadap perang ini," ucapg Zainab.

Pulang ke Indonesia Bukan karena Takut

Jawad dan Zainab mengaku kepulangannya ke Indonesia itu bukan karena mereka takut atas peperangan yang terjadi.

Pelajar yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan S2 di Iran ini mengaku pulang ke tanah air hanya untuk bisa berlebaran bersama keluarga besarnya.

Kepulangannya itu memang sudah direncanakan.

Bahkan, sudah membeli tiket untuk kepulangannya ke Indonesia pada 3 Maret 2026 lalu.

Namun, karena situasi konflik, mereka akhirnya pulang atas bantuan pemerintah Indonesia.

"Kami memilih untuk dievakuasi dan pulang ke Indonesia bukan karena kami takut atas serangan Israel-Amerika, tetapi memang karena kami sudah ada rencana pulang dan sudah punya tiket tanggal 3 Maret 2026. Takutnya kalau mau nunggu penerbangannya buka lagi lama, kebetulan KBRI mengadakan evakuasi, jadi kami memilih untuk ikut evakuasi," ucapnya.

Apalagi ketika kondisi masih memanas di Iran, komunikasi dengan keluarga di Indonesia sangat sulit akibat pembatasan penggunaan internet dan aplikasi percakapan di luar buatan Iran.

Jawad mengatakan keluarganya yang berada di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat pun akhirnya senang ketika mendapat kabar bahwa mereka akan pulang ke Indonesia.

"Mereka sebenarnya sangat senang kita bisa pulang karena memang sebelum perang ini kan kita sudah kasih kabar kalau mau pulang. Mereka tuh khawatir bukan karena kondisi perang, khawatirnya malah penerbangannya gimana, flight-nya di-cancel atau enggak. Gitu aja sih," ungkapnya.

Jawad dan Zainab mengaku akan kembali ke Iran setelah kondisi kondusif.

"Pasti, pasti ada rencana kembali lagi. Setelah kondisinya sudah kondusif di sana," ujarnya.

22 WNI Tiba di Indonesia

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyambut ketibaan rombongan WNI gelombang pertama dari Iran di Terminal Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa (10/3/2026) sore.

Langkah evakuasi ini diambil menyusul eskalasi konflik berdarah pasca-serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.

Mengawali keterangan persnya, Sugiono nampak melempar senyum dan menyampaikan proses pemulangan WNI ke Tanah Air gelombang pertama ini berjalan dengan lancar.

"Alhamdulillah pada sore hari ini kita menerima kedatangan saudara-saudara kita yang kembali dari Tehran, dalam rombongan yang tergabung dalam gelombang pertama proses repatriasi Warga Negara Indonesia," kata Sugiono.

Sugiono pun merinci, pada gelombang pertama ini, terdapat puluhan WNI yang berhasil diselamatkan dari zona konflik. 

Dia pun menyebut, bahwa proses evakuasi ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan akan terus dilanjutkan secara bertahap.

"Sore ini ada 22 saudara-saudara kita yang kembali di gelombang pertama ini. Besok 10 lagi yang berasal dari Iran," ungkapnya.

Lebih lanjut, Sugiono membeberkan bahwa Kemenlu saat ini tengah mempersiapkan evakuasi gelombang kedua. 

Pasalnya, tingginya tensi militer di Timur Tengah membuat puluhan WNI lainnya berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk segera keluar dari Iran.

"Kemudian gelombang kedua, saat ini, per sore ini sudah ada 36 yang mendaftarkan diri untuk bisa repatriasi ke tanah air dari Iran," tegasnya.

Menlu memastikan bahwa negara tidak akan lepas tangan terhadap para WNI.
Sejak serangan AS dan Israel pecah, Kemenlu langsung menyiagakan perwakilan RI di negara-negara terdampak untuk memantau keselamatan para WNI.

"Kami dari Kementerian Luar Negeri terus melakukan koordinasi yang cukup erat, sangat erat, dengan perwakilan-perwakilan kita yang ada di negara-negara tersebut. Hari demi hari, jam demi jam, kita lakukan penilaian terhadap situasi," pungkas Sugiono.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.