Oleh: Salman Ahmad
JARUM jam di dasbor mobil terasa seperti detak jantung yang memburu.
Tinggal lima belas menit menuju waktu yang dijanjikan, sementara jalanan di depan, masih terkunci rapat oleh mobil dan motor yang juga sedang menuju tujuannya.
Saya, yang seharusnya duduk tenang di kursi mimbar membicarakan tentang kesabaran dan keluhuran budi, kini justru sedang mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih.
Berharap bisa segera lolos dari jebakan kemacetan.
Sebuah motor, tiba-tiba memotong jalur dengan serampangan, memaksa saya menginjak rem secara mendadak.
Berikutnya, sebuah mobil bergerak lambat seolah sedang menikmati perjalanannya, atau mungkin sedang menelpon, di dalam mobilnya.
Ada gejolak di dada, campuran antara kecemasan, kegelisahan, kejengkelan, dan rasa tanggung jawab yang mendesak.
"Saya harus cepat," bisik batin saya.
"Jamaah sudah menunggu. Panitia pasti gelisah."
Namun, di sela-sela dorongan untuk menginjak gas lebih dalam dan mulai melakukan manuver menyalip yang agresif, sebuah tanya menghantam kesadaran: Jika saya memaksakan jalan dengan mengabaikan hak pengendara lain, adab mana yang sebenarnya sedang saya perjuangkan?
Ini adalah paradoks yang mengusik jiwa.
Saya sedang menuju sebuah majelis untuk menyampaikan pesan-pesan tentang indahnya adab, tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menjadi sumber kedamaian bagi sekitarnya.
Namun, di sini, di balik kemudi ini, saya sedang diuji dengan materi ceramah saya sendiri sebelum lisan sempat mengucapkannya.
Jika saya menyalip dengan kasar, membunyikan klakson dengan nada memerintah, atau memaki dalam hati hanya demi mengejar waktu "ibadah" di atas panggung, bukankah saya sedang merobek pesan itu bahkan sebelum ia disampaikan?.
Kita seringkali terjebak dalam formalitas "tugas mulia" hingga lupa bahwa perjalanan menuju kebaikan haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula.
Keterlambatan memang sebuah aib bagi seorang profesional, apalagi seorang pengemban dakwah.
Ada rasa malu kepada panitia, ada rasa bersalah kepada jamaah yang meluangkan waktu.
Namun, bukankah Allah lebih melihat bagaimana proses kita menjaga hati di tengah kemacetan, daripada kefasihan lidah kita saat berada di bawah sorot lampu mimbar?
Bagi seorang pendakwah, jalan raya adalah mimbar yang sesungguhnya.
Di sanalah integritas diuji tanpa ada mata jamaah yang mengawasi.
Menghadapi situasi ini, pilihannya bukan sekadar "telat atau tidak telat", melainkan "ikhlas atau tidak ikhlas".
Kondisi keterjebakan di tengah kemacetan, menguji sikap Penerimaan, Kejujuran, dan Dakwah bil Hal.
Penerimaan: Kemacetan adalah takdir yang berada di luar kendali. Yang berada dalam kendali saya adalah bagaimana reaksi saya terhadapnya.
Kejujuran: Lebih baik tiba dengan nafas yang tenang dan permintaan maaf yang tulus karena terlambat, daripada tiba tepat waktu dengan hati yang penuh amarah dan sisa-sisa perilaku yang tidak beradab di jalanan.
Dakwah Bil Hal: Memberi jalan bagi orang lain saat kita sendiri sedang terburu-buru adalah bentuk ceramah bil hal, tanpa suara.
Pada akhirnya, kita belajar bahwa dakwah bukan dimulai saat mikrofon dinyalakan.
Dakwah dimulai saat kita memutuskan untuk tetap tersenyum dan bersabar ketika motor memotong jalur, dan mobil di depan berjalan bak kura-kura.
Kita tidak bisa mengajak orang menuju surga dengan cara menginjak kaki mereka di dunia.
Biarlah saya terlambat beberapa menit dalam pandangan manusia, asalkan saya tidak terlambat dalam menjaga adab di hadapan Tuhan yang memberikan saya kesempatan untuk bicara.
Sebab, apa gunanya ribuan telinga mendengar kata-kata saya, jika di jalanan tadi, saya justru menjadi duri bagi sesama?. (*)