Sutaat Kenang Tokoh Babat Alas Blora, Sunan Pojok sebagai Panglima Perang hingga Penyebar Islam
M Syofri Kurniawan March 11, 2026 05:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, BLORA  - Di pusat Kota Blora terdapat makam Sunan Pojok, panglima perang Mataram Islam era Sultan Agung sekaligus sesepuh penyebar Islam di Blora.

Makam Sunan Pojok itu berlokasi di sebelah selatan Alun-alun Blora.

Kalau dilihat dari jalan raya, tampak bangunan tembok megah berbahan bata merah, tertulis Makam Sunan Pojok.

Selain itu, tampak di kanan-kiri ada gapura ala mataraman. 

Di dalamnya, dilengkapi dengan bangunan joglo. Makam Sunan Pojok, berada di bangunan sebelah barat joglo tersebut.

Ketua Yayasan Sunan Pojok Blora, Sutaat, menjelaskan, Sunan Pojok Blora mempunyai empat nama atau sebutan. Di antaranya Mbah Benun, Syekh Abdurrohim, Pangeran Sedah, dan Pangeran Surobahu. 

Adapun untuk silsilahnya, Mbah Benun Wali Pojok Blora bin Pangeran Sedayu bin Panembahan Marengat bin Pangeran Singobarong (Pangeran Singobarong merupakan menantu Sunan Kudus /Pangeran Jafar Sodik), Sunan Kudus bin Sunan Ngudung, bin Kholifah Husein, bin Raden Aryo Bariben (Raden Aryo Bariben merupakan menantu cucu nomor 13 dari Raden Brawijaya, Raja Majapahit).

"Nama kecil Syekh Abdurrohim, adalah pangeran Pojok atau Pangeran Surobahu," ujarnya, Selasa (3/3).

Setelah dewasa, kata Sutaat, Pangeran Surobahu diangkat sebagai panglima perang oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo (Sultan Mataram Islam, yang memerintah selama 32 tahun, 1613-1645 M). Menurutnya, setelah diangkat menjadi panglima perang, Pangeran Surobahu mendapatkan dua tugas pokok dari Sultan Agung. 

Pertama, mengamankan wilayah Pati, Tuban, Surabaya, dan Pasuruan dari pengaruh kraman (pemberontakan) dan mengajak bersatu, serta bersama-sama mengusir VOC Belanda di Batavia, Jakarta.

Kedua, menyiapkan dan melakukan penyerangan kepada VOC yang ada di Batavia, terutama mengorganisir para adipati di kawasan pesisir utara Jawa.

Pangeran Surobahu, mampu melaksanakan tugas pertama dengan baik, yakni menumpas pemberontakan terhadap Mataram Islam.

Selain itu, untuk tugas yang kedua juga terlaksana dengan baik, yakni mengusir VOC di Batavia. 

Kemudian atas prestasinya itu, Pangeran Surobahu diangkat menjadi Adipati Tuban dengan gelar Pangeran Sedah (1619 M). Pangeran Sedah memimpin para adipati di pesisir utara Jawa mengusir VOC pada 20 November 1626 dan mendapatkan kemenangan.

Setelah memerintah Kadipaten Tuban selama 42 tahun (1619-1661), Pangeran Sedah menyerahkan kembali jabatan Adipati Tuban kepada Sultan Mataram saat itu, yakni Amangkurat I atau Sunan Tegalarum di Kedaton Plered.  

Oleh Amangkurat I jabatan Adipati Tuban diserahkan kepada Pangeran Anom, adik 

Pangeran Sedah. Hal ini, karena putra Pangeran Sedah atau sunan pojok sendiri masih terlalu muda untuk menjadi seorang Adipati. 

Ketiga putra beliau adalah Pangeran Joyodipo, Pangeran Klenco dan Pangeran Dipoyudo (Tambaksari). 

"Kemudian, bersama tiga putra beliau memberi nama sejumlah desa di Blora, seperti, Karangnongko, Sasak, dan Kaliwangan. Mereka juga mendirikan masjid yang saat ini dikenal dengan nama Masjid Agung Baitunnur yang terletak di sebelah barat Alun-alun Blora," jelasnya.

Perkembangan Blora yang semakin pesat, menarik perhatian Sultan Mataram, Sunan Tegalarum.

Sehingga, Blora dijadikan Kadipaten tersendiri, terpisah dari Kadipaten Tuban.

"Adapun Kadipaten Blora yang baru lahir ini, dipimpin oleh Adipati Raden Mas Joyodipo, putra Pangeran Sedah atau sunan pojok," terangnya.

Raden Mas Joyodipo bergelar Raden Tumenggung Joyowiryo atau Raden Tumenggung Jatiwiryo atau Raden Tumenggung Joyodipo.

Raden Tumenggung Joyodipo ini juga yang memindahkan makam Pangeran Sedah yang sebelumnya berada di Dusun Pojok Desa Karangnongko Kecamatan Banjarejo ke Makam Gedong (Makam Sunan Pojok saat ini).

Adipati Blora kedua, adalah Raden Tumenggung Joyokusumo. Dia merupakan anak menantu dari Raden Tumenggung Joyodipo. Raden Tumenggung Joyodipo setelah wafat dimakamkan di Makam Gedong, letaknya di sebelah timur Makam Pangeran Sedah.

Raden Tumenggung Joyokusumo juga dimakamkan di kompleks yang sama, Makam Gedong. Makam Adipati Blora kedua ini, berada di sebelah barat makam Pangeran Sedah.

"Jadi Syekh Abdurrohim atau Sunan Pojok ini merupakan tokoh yang babat Kabupaten Blora," jelasnya.

Sutaat menyampaikan setiap tahun selalu digelar Haul Sunan Pojok, setiap tanggal 27 Muharram.

"Haul setiap tahun, tepatnya setiap tanggal 27 Muharram, biasanya dimeriahkan Bazar UMKM, khataman Qur'an Bin Nadzir, khataman Qur'an Bil Ghoib, dan pengajian," jelasnya.

Dengan digelarnya Haul Sunan Pojok, tersebut, bertujuan untuk mengenang perjuangan Sunan Pojok.

"Untuk mengenang perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam, sekaligus tabarukan," paparnya. (Iqbal M Shukri)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.