Dua Kapal Pertamina Akhirnya Berhasil Lolos, Sempat Terjebak di Zona Merah Selat Hormuz
Sinta Darmastri March 11, 2026 08:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Ketegangan di wilayah Timur Tengah sempat menyisakan kekhawatiran bagi armada laut Indonesia. Namun, kabar lega datang dari PT Pertamina International Shipping (PIS). Dua kapal tanker andalan mereka, PIS Rinjani dan PIS Paragon, dilaporkan telah berhasil keluar dari zona konflik dan kini berada di posisi yang aman.

Langkah taktis ini menjadi angin segar di tengah situasi geopolitik yang memanas. Sebelumnya, saat percikan konflik mulai membara, PIS Rinjani diketahui sedang bersandar di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, sementara PIS Paragon tengah melakukan bongkar muat (discharge) di perairan Oman.

Nasib Dua Armada Lain di Teluk Arab

Meski dua kapal telah menjauh dari area berbahaya, tantangan belum sepenuhnya usai. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyebutkan masih ada dua unit kapal lain, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang saat ini berada di kawasan Teluk Arab.

Keduanya kini dalam posisi siaga sembari menunggu lampu hijau untuk melewati Selat Hormuz.

"Kapal-kapal ini sedang menunggu situasi aman untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz. Keduanya dalam kondisi aman," ungkap Vega dalam keterangan resminya.

Sebagai informasi, VLCC Pertamina Pride sedang mengemban misi vital mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) demi menjaga ketahanan energi nasional. Sementara itu, Kapal Gamsunoro tengah melayani kargo untuk mitra pihak ketiga.

Baca juga: 2 Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Bahlil Sudah Punya Alternatif: Bukan Masalah Penting

Jaminan Pasokan Energi Nasional

Walaupun ada armada yang tertahan, masyarakat tidak perlu cemas akan kelangkaan energi. PIS memastikan bahwa rantai pasok distribusi BBM dan energi ke seluruh pelosok Indonesia tetap kokoh. Kekuatan ini didukung oleh total 345 armada kapal di bawah naungan Pertamina Group.

Untuk menghadapi situasi darurat, Pertamina telah menyiapkan tiga skema matang: metode reguler, alternatif, hingga emergency. Strategi ini dirancang agar distribusi tetap berjalan efektif tanpa hambatan berarti.

Baca juga: Dirut Pertamina Dikecam DPR Usai Purbaya Bilang ‘Kita Kalah Sama Mafia’

Pantauan 24 Jam Non-Stop

Keselamatan kru dan muatan menjadi prioritas utama. PIS melakukan pemantauan ketat secara real-time selama 24 jam penuh terhadap seluruh posisi armada di dunia.

"Kami juga menjalin koordinasi erat dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan serta keselamatan seluruh kru kapal dan muatan yang dibawa," pungkas Vega.

Dengan pengawasan intensif dan koordinasi lintas otoritas, Pertamina optimistis mampu melewati dinamika di Timur Tengah sekaligus memastikan napas energi Indonesia tetap terjaga.

(TribunTrends.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.