TRIBUN-SULBAR.COM - Pihak Iran menegaskan menolak opsi gencatan senjata dan akan terus menyerang ke Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat (AS).
Hal itu ditegaskan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.
Iran ingin memberikan pelajaran kepada AS dan Israel yang sudah menewaskan pemimpin tertinggi mereka pada serangan gabungan ke Teheran 28 Februari 2026 lalu.
Keputusan Iran menolak gencatan senjata dengan AS-Israel, untuk mencegah ancaman masa depan Iran dan seluruh rakyatnya.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Baru Iran Didukung Penuh Garda Revolusi, IRGC Siap Jalankan Perintah Mojtaba
Baca juga: Intip Sepak Terjang Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Mojtaba Khamenei
"Kami tentu saja tidak mencari gencatan senjata; kami percaya bahwa kami harus menyerang agresor agar mereka mendapat pelajaran dan tidak pernah lagi berpikir untuk melakukan agresi terhadap Iran," kata Qalibaf dalam sebuah unggahan di akun X-nya pada Selasa (10/3/2026).
Qalibaf mencatat siklus rezim Zionis selama ini yakni perang, negosiasi, gencatan senjata, dan kemudian perang lagi dalam rangka mengkonsolidasikan dominasinya.
Untuk itu, Iran akan memutus siklus rezim Zionis tersebut.
"Kita akan memutus siklus ini," ucapnya.
Terpisah, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memperingatkan Presiden AS Donald Trump,
Larijani menegaskan bangsa Iran yang tangguh tidak takut akan ancaman kosong dari Trump.
Dalam sebuah unggahan di akun X, Larijani membalas Donald Trump karena mengancam Iran.
Dia menegaskan bahwa bangsa Iran yang pemberani dan terinspirasi ajaran Ashura, tidak takut dengan ancaman kosong presiden AS.
“Bahkan mereka yang lebih hebat dari Anda pun gagal untuk melenyapkan bangsa Iran,” kata Larijani kepada Trump.
"Hati-hati jangan sampai Anda sendiri yang disingkirkan!" ujar pejabat Iran itu memperingatkan presiden AS.
Komentar-komentar tersebut muncul setelah Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di Truth Social bahwa Iran akan terkena dampak "dua puluh kali lebih parah" jika menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
"Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini. Selain itu, kami akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan yang akan membuat Iran hampir tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara. Kematian, Api, dan Amukan akan menimpa mereka. Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak terjadi!" klaim Trump.
Dilansir dari Aljazeera,com, militer Israel menyatakan dalam sebuah unggahan di akun X telah melancarkan 'gelombang serangan besar-besaran' terhadap Teheran.
Serangan tersebut diklaim menargetkan infrastruktur di ibu kota Iran.
Peristiwa ini terjadi beberapa hari setelah pasukan Israel menargetkan fasilitas minyak di Teheran dan provinsi Alborz di dekatnya, menyebabkan kebakaran dan kondisi udara beracun yang memicu kekhawatiran luas tentang kesehatan masyarakat.
Terbaru, ledakan terdengar di ibu kota Iran setelah tentara Israel mengumumkan serangan baru besar-besaran tersebut.
Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menghadapi serangan tersebut Iran melakukan balasan dengan meluncurkan rudal ke sejumlah Pangkalan Militer AS yang ada di kawasan Timur Tengah.
Dampak dari perang AS-Israel Vs Iran kini meluas dan merembet terhadap pasokan energi dunia.
Pasokan energi seperti minyak dan LNG dunia saat ini terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi dari wilayah Timur Tengah ke Asia, Afrika, dan Eropa.
Tak hanya itu, buntut serangan AS-Israel ke Iran, penerbangan ke sejumlah wilayah Timur Tengah pun terganggu.