BANJARMASINPOST.CO.ID - Usia yang terbilang muda tak menggentarkan niat Gusmy Adhiny (23) terjun ke dunia binis dengan mendirikan Bakmie Homemade Ady Jaya Rasa. Bisnis yang didirikan Gusmy pada 6 Agustus 2024 itu telah menjadi salah satu jajanan primadona di kawasan Siring, Rantau Baru, Tapin, Kalimantan Selatan.
Bukan tanpa sebab. Berjalan hampir 2 tahun Gusmy begitu menjaga kualitas bakminya. Dengan tangan sendiri, mahasiswi ekstensi Uniska Banjarbaru ini mengolah langsung terigu menjadi lembaran panjang mi dengan tekstur yang tipis dan pangsit goreng reyah yang berbeda dengan lainnya.
Semula bisnis yang digeluti Gusmy bermulai dari keisengan berdagang online dengan membuka orderan. Namun siapa sangka ternyata bakmi buatanya banjir orderan hingga membuatnya kewalahan.
Keputusan besar pun akhirnya diambil Gusmy usai melihat adanya peluang besar. Dengan dukungan orangtua serta tekat yang kuat, Gusmy akhirnya mendirikan kedai Bakmie Ady Jaya Rasa yang hingga kini ditanganinya seorang diri.
Tak berlangsung mudah, sejumlah tantangan dihadapi Gusmy, mulai dari segi produksi yang dilakukan sendiri hingga menjaga konsistensi kualitas. “Tantangan kebanyakan dari segi produksi karena fokus dari pertama homemade, jadi saya harus mengatasinya dengan melakukan evaluasi kekurangan misalnya yang dulu full manual sekarang dibantu alat biar hasil mienya konsisten,” tutur Gusmy.
Baca juga: Tidak Menemukan Pelaku di Lokasi Tambang Emas Ilegal, Polres Tanahlaut: Penyelidikan Masih Berjalan
Kurang tersedianya SDM hingg daya beli masyarakat yang sempat menurun juga sempat menjadi tantangan yang harus dilalui Gusmy.
Selain kualitasnya yang dijaga betul, Bakmie Ady Jaya Rasa juga mulai dilirik kalangan remaja khususnya Gen Z lantaran harganya terjangkau. Satu porsinya mulai Rp 10 ribu.
Tak heran setiap hari Gusmy mampu menjual hingga 200 porsi.
Salah satu strategi yang digunakan Gusmy untuk menarik pelanggan adalah memperlihatkan secara langsung cara produksi bakmi di depan pembeli. Peminat pun meluas hingga menyasar acara besar seperti hajatan.
“Sekarang menerima pesanan untuk catering di acara pernikahan, gathering, dan acara lainnya. Jadi kami langsung live cooking di situ pake gerobak dengan harga Rp 10 ribu,” ujarnya lagi.
Selain bakmi yang kini menjadi primadona jajanan, sebelumnya Gusmy menggeluti beberapa usaha lain seperti gelato, steak daging, lalapan, hingga bakery. Tak memiliki tujuan khusus, dengan kemampuan dan ide kreatifnya di usia muda Gusmy berharap ingin bisa memiliki karya yang bisa dinikmati banyak orang.
Selain itu Gusmy berhasil membuka lowongan pekerjaan terkhususnya untuk kalangan muda dan Gen Z seperti dirinya. (banjarmasinpost.co.id/danti ayu)