BANJARMASINPOST.CO.ID - Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan mengajak warga, khususnya orangtua yang memiliki anak usia balita, untuk mengikuti vaksinasi campak atau measles dan rubella (MR) sebagai upaya mencegah penularan virus.
Kendati program imunisasi campak sudah dilaksanakan secara rutin, tak dipungkiri masih ada penolakan bagi sebagian warga. Hal itulah yang disampaikan oleh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Balangan, Juhriadi, Selasa (10/3).
Menurutnya, imunisasi ini penting untuk mencegah penularan virus campak yang rentan terjadi pada anak-anak. Bahkan virus ini juga bisa menyerang orang dewasa dan ibu hamil yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.
Program imunisasi campak semakin diperketat menyusul adanya 15 pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit. “Kasus campak di Balangan sudah 15 yang dibuktikan dari hasil laboratorium. Kami sudah mengirim 24 sampel dan 15 di antaranya positif,” ungkapnya.
Mereka yang terkena campak, sudah menjalani perawatan dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Dari hasil investigasi yang dilakukan Dinkes, rata-rata menyerang anak-anak yang belum imunisasi. Padahal imunisasi bisa dilakukan di Posyandu dan Puskesmas.
Lebih rinci, Juhriadi menyampaikan kasus campak didapati pada empat kecamatan meliputi enam kasus di Paringin, lima kasus di Paringin Selatan, dua kasus di Halong dan dua kasus di Batumandi.
Baca juga: Tidak Menemukan Pelaku di Lokasi Tambang Emas Ilegal, Polres Tanahlaut: Penyelidikan Masih Berjalan
Pihaknya juga terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat agar secara berkala memeriksakan anak ke posyandu dan memastikan anak-anaknya mendapat imunisasi yang disarankan. Imunisasi campak diberikan kepada anak usia sembilan bulan dan berlanjut pada usia 18 bulan.
Selain itu imunisasi diberikan untuk anak tingkat sekolah dasar Dinkes Kabupaten Tabalong juga terus melakukan upaya pencegahan campak. Berdasarkan data, jumlah kasus pada 2025 sebanyak 14 dan sepanjang Maret 2026 sudah ada 14 kasus.
Kabid Penanggulangan Penyakit, Rapolo Manik, mengatakan pihaknya melakukan upaya mitigasi yang komprehensif untuk mencegah dan mengatasi kasus campak. Di antaranya melakukan kewaspadaan dini dan respon cepat dari puskesmas dan rumah sakit melalui laporan mingguan, sehingga jika ada kenaikan kasus dapat segera direspons. Selain itu, mereka melakukan surveilans aktif di masyarakat, sehingga jika ada gejala demam dan ruam, masyarakat dapat segera melaporkannya ke petugas kesehatan.
Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan mudah menyebar melalui percikan batuk atau bersin. Agar menghindari tidak terjangkit, maka anak-anak dianjurkan untuk tidak mendekati atau bermain dengan penderita yang memiliki gejala klinis campak.
“Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan campak, namun pengobatan berfokus pada meredakan gejala, pencegahan dehidrasi, istirahat, dan pemberian vitamin A dosis tinggi,” ucap Rapolo.
Dinkes Provinsi Kalimantan Selatan juga mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit campak.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul ditemukannya sejumlah kasus yang mayoritas terjadi pada anak-anak yang belum memperoleh imunisasi secara lengkap.
Kepala Dinkes Kalsel, Diauddin mengatakan, anak-anak dan bayi tanpa imunisasi menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi. “Kejadian ini banyak terjadi pada anak-anak atau bayi yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Pada kesempatan ini kami menghimbau kepada masyarakat supaya jangan sampai tidak melakukan imunisasi kepada anak-anaknya, apalagi sengaja menolak,” ujarnya.
Menurutnya, campak sebenarnya dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, bayi memiliki risiko komplikasi lebih tinggi karena daya tahan tubuh yang masih rendah.
“Usianya memang semua usia bisa kena campak. Tapi yang lebih berisiko menyebabkan kematian adalah bayi karena daya tahan tubuhnya rendah,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kalsel Selatan telah melakukan surveilans lapangan untuk memantau perkembangan kasus.
Selain itu, surat edaran juga telah disampaikan kepada seluruh kabupaten/kota agar memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian penularan.
“Untuk campak, surveilans kita sudah turun ke lapangan. Kita juga sudah membuat surat edaran ke kabupaten/kota untuk memastikan pencegahan penularan yang lebih luas,” katanya.
Diauddin juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal campak, seperti demam tinggi, munculnya ruam pada kulit, mata merah, serta diawali batuk dan pilek.
Apabila gejala tersebut muncul, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan. (ell/dny/msr)