WARTAKOTALIVE.COM -- Sebuah drone yang diduga Kamikaze atau Shahed-136 milik Iran menghantam fasilitas diplomatik Amerika Serikat (AS) di Irak pada Selasa (10/3/202) malam, menurut dua sumber yang mengetahui kejadian tersebut kepada CNN.
Drone tersebut dilaporkan menghantam Baghdad Diplomatic Support Center, sebuah pusat dukungan logistik dan operasional besar milik AS yang terletak di dekat Bandara Baghdad.
Salah satu sumber mengatakan drone tersebut menghantam area dekat menara penjaga.
Baca juga: Connie Rahakundini: Perang AS vs Iran Tak Mudah Selesai, Ini Matematika Perang yang Jarang Dibahas
Belum diketahui apakah ada korban dalam insiden tersebut.
Tingkat kerusakan yang ditimbulkan juga masih belum dapat dipastikan.
Serangan ini terjadi ketika Iran dilaporkan menargetkan instalasi militer dan diplomatik Amerika Serikat sebagai bentuk balasan atas operasi militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran.
Peristiwa ini kembali menegaskan ancaman yang terus dihadapi personel Amerika di kawasan Timur Tengah.
CNN menyatakan telah menghubungi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk meminta komentar. Serangan tersebut pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.
Pekan lalu, Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan sebagian staf yang tidak memiliki tugas mendesak untuk meninggalkan Irak.
Baca juga: Intelijen Iran Ringkus 30 Agen Asing Mata-mata AS dan Israel, IRGC Sebut Trump Frustrasi
Dalam peringatan keamanan yang dirilis Selasa, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad mengimbau warga negara Amerika untuk tetap waspada.
Warga AS diminta berhati-hati, menghindari menarik perhatian, serta menjauhi area yang berpotensi menjadikan mereka target.
Peringatan tersebut juga menyebut bahwa berkumpul di lokasi yang terkait dengan Amerika Serikat atau bersama kelompok warga Amerika lainnya dapat meningkatkan risiko.
“Serangan terhadap warga negara Amerika dan kepentingan AS di Irak pernah terjadi. Warga Amerika menghadapi risiko penculikan, dan perusahaan Amerika, hotel yang sering dikunjungi warga asing, serta fasilitas lain di Irak yang memiliki kaitan dengan Amerika Serikat juga pernah menjadi sasaran serangan,” demikian bunyi peringatan tersebut.
Selain itu, sejumlah lokasi penting di berbagai wilayah Irak juga dilaporkan pernah menjadi target serangan dalam beberapa waktu terakhir.
Negara-Negara Teluk Hadapi Gelombang Serangan Rudal dan Drone Iran
Sementara itu, negara-negara di kawasan Teluk Persia menghadapi gelombang baru serangan rudal dan drone dari Iran pada Rabu dini hari waktu setempat.
Uni Emirat Arab memperingatkan warganya untuk tetap berada di lokasi yang aman.
Kementerian Pertahanan negara itu menyatakan sistem pertahanan udara sedang “merespons ancaman rudal dan drone yang datang dari Iran”.
Dalam dua jam terakhir, Arab Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang mengarah ke Prince Sultan Air Base.
Selain itu, sejumlah drone juga berhasil dicegat di wilayah timur negara tersebut, menurut kementerian pertahanan.
Sebelumnya, Arab Saudi juga menyatakan telah mencegat senjata balistik yang menuju Ladang Minyak Shaybah.
Sementara itu, sirene peringatan terdengar di Bahrain pada Rabu pagi. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengimbau warga untuk segera menuju tempat perlindungan atau lokasi aman terdekat.
Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan, pasukan elit Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan pihaknya telah melancarkan “gelombang serangan berlapis dan berkelanjutan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel”.
Laporan mengenai serangan sebelumnya di Bahrain juga disampaikan oleh jurnalis CNN, Antoinette Radford.
Kapal Angkatan Laut Irak Diserang AS di Selat Hormuz
Sebelumna Militer Amerika Serikat menyatakan telah menghancurkan sejumlah kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau, di dekat Selat Hormuz pada Selasa.
Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) mengunggah video yang memperlihatkan beberapa serangan tersebut melalui platform X.
Baca juga: Ketegangan Meningkat: Pusat Satelit Tel Aviv Hancur, Drone Ditembak Jatuh, Iran Siap Perang Panjang
Sebelumnya, CNN melaporkan bahwa Iran mulai menebar ranjau di Selat Hormuz, jalur energi paling penting di dunia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah global, menurut dua sumber yang mengetahui laporan intelijen AS mengenai hal itu.
Presiden Donald Trump menulis dalam unggahan di Truth Social pada Selasa bahwa jika Iran benar-benar menempatkan ranjau di selat tersebut, maka ranjau itu harus segera disingkirkan.
“Jika Iran telah menempatkan ranjau di Selat Hormuz, dan kami belum menerima laporan bahwa mereka melakukannya, kami ingin ranjau itu segera dihapus, SEKARANG JUGA!” tulis Trump.
Setelah pernyataan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan melalui X bahwa atas arahan Trump, US Central Command telah menghancurkan kapal-kapal penebar ranjau di Selat Hormuz.