TRIBUNTRENDS.COM - Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menyoroti kematian pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT), Ermanto Usman (65).
Peristiwa tragis itu terjadi pada Senin (2/3/2026) dini hari. Ermanto ditemukan meninggal dunia di rumahnya yang berada di Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Di lokasi yang sama, sang istri berinisial P (60) ditemukan dalam kondisi kritis.
Ia kemudian dilarikan ke Primaya Hospital Kalimalang untuk mendapatkan perawatan intensif.
Kasus ini menarik perhatian Rieke karena Ermanto dikenal sebagai rekan aktivis pelabuhan yang vokal mengungkap dugaan korupsi bernilai triliunan rupiah.
Bahkan sebelum kejadian nahas itu, korban disebut sempat menitipkan pesan khusus kepada keluarganya.
Baca juga: Sosok Misterius Paksa Bertemu Istri Ermanto Usman yang Kritis, Ngaku Penyidik, Rieke: Gak Bener!
Ia meminta agar keluarga menghubungi Rieke jika sesuatu terjadi pada dirinya.
Politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut kemudian mendesak aparat penegak hukum mengusut kasus ini secara tuntas.
Ia menilai terdapat sejumlah kejanggalan, salah satunya hilangnya barang pribadi yang dinilai tidak lazim terjadi dalam kasus perampokan.
Perkembangan terbaru muncul setelah aparat menangkap terduga pelaku bernama Sudirman pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 18.54 WIB di wilayah Cilincing, Jakarta Utara.
Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui bahwa Sudirman diduga melakukan pembunuhan menggunakan linggis.
Barang tersebut kemudian dibuang di depan rumah korban.
Meski demikian, penyidik masih terus mendalami motif di balik pembunuhan tersebut.
Aparat juga menyelidiki kemungkinan keterlibatan pelaku lain dalam kasus ini.
Sementara itu, kriminolog dari Universitas Budi Luhur, Lucky Nurhadianto, menilai pola kejahatan dalam peristiwa ini tidak sekadar mengarah pada pencurian dengan kekerasan.
Ia menilai, rangkaian kejadian justru lebih menunjukkan ciri-ciri pembunuhan berencana.
Menurutnya, pelaku kemungkinan tidak bekerja sendiri, melainkan melibatkan lebih dari satu orang dengan pembagian peran yang terstruktur.
"Tentu pasti ini tidak hanya dilakukan oleh satu orang, dalam artian bahwa ada pihak-pihak yang memang melakukan pengawasan. Apakah mengawasi eksekutor atau mengawasi lingkungannya," katanya, dikutip dari YouTube KompasTV.
Menurut analisisnya, pelaku tampak sangat profesional karena telah memetakan kondisi rumah korban terlebih dahulu.
Baca juga: Rekam Jejak Ermanto Usman, 2 Kali Dipecat karena Terlalu Vokal Bela Buruh, Tewas Diduga Dibunuh
Pelaku diketahui memahami titik buta CCTV untuk masuk ke dalam rumah.
Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa pelaku langsung menuju kamar korban tanpa membuang waktu untuk mencari harta benda lain.
"Mereka tidak lagi melihat-lihat atau mengkalkulasikan sejauh mana tingkat harta benda yang seharusnya mereka bisa dapatkan. Mereka sudah menyasar titik yang memang disasar, dalam hal ini adalah diri korban sendiri," lanjutnya.
Terkait barang-barang yang hilang seperti ponsel dan kunci, Luki menilai hal itu bukan motif ekonomi, melainkan bagian dari intimidasi atau upaya menghilangkan jejak komunikasi.
Ia menduga ada motif dendam di balik aksi keji ini karena penggunaan senjata tumpul.
Lebih lanjut, Luki mencurigai adanya keterlibatan orang dalam atau pihak yang sangat mengenal aktivitas korban.
Informasi dari dalam dianggap vital bagi para pelaku untuk memetakan rutinitas di rumah tersebut.
(TribunTrends/Tribunnews/Faisal Mohay)