SURYA.co.id, SURABAYA - Persebaya Surabaya akan menjalani jeda panjang pasca kekalahan telak 1-5 dari Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda, Sabtu (7/3/2026).
Kekalahan terbesar era Bernardo Tavares ini membuat Bajol Ijo harus segera berbenah demi menjaga peluang di papan atas Liga 1.
Kini, fokus Persebaya bukan hanya pada evaluasi performa inti, tetapi juga memanfaatkan jeda kompetisi untuk persiapan menghadapi laga-laga penting berikutnya.
Persebaya akan kembali berlaga pada 4 April 2026 menjamu Persita Tangerang di Stadion Gelora Bung Tomo. Laga ini menjadi ujian penting setelah jeda kompetisi yang bertepatan dengan FIFA Matchday dan Idul Fitri.
Selanjutnya, Bajol Ijo akan bertandang ke Jakarta menghadapi Persija pada 11 April 2026. Pertandingan ini diprediksi berlangsung sengit mengingat Persija tengah bersaing di papan atas klasemen.
Baca juga: John Herdman Rilis 41 Pemain, Ernando Ari Satu-satunya Wakil Persebaya Surabaya
Pada 17 April 2026, Persebaya akan menjamu Madura United di Gelora Bung Tomo. Laga ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki catatan kandang setelah hasil kurang memuaskan sebelumnya.
Persebaya kemudian akan melawat ke markas Malut United pada 23 April 2026. Pertandingan tandang ini menjadi tantangan besar karena Malut United tampil konsisten di musim ini.
Arema akan menjadi lawan berikutnya pada 28 April 2026 di Malang. Derby Jawa Timur ini selalu sarat gengsi dan menjadi laga yang ditunggu-tunggu oleh suporter kedua tim.
Pada 2 Mei 2026, Persebaya akan menjamu PSBS Biak di Gelora Bung Tomo. Laga ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan Bajol Ijo.
Perjalanan berat berlanjut dengan tandang ke markas Persis Solo pada 9 Mei 2026. Persis dikenal memiliki dukungan suporter yang kuat sehingga laga ini diprediksi berlangsung ketat.
Baca juga: Rasisme di Laga Persebaya Surabaya vs Persib Jadi Sorotan PSSI, Langkah Tegas Lawan!
Semen Padang akan menjadi lawan berikutnya pada 15 Mei 2026. Bermain di kandang lawan, Persebaya dituntut tampil disiplin untuk meraih poin.
Rangkaian jadwal padat ditutup dengan laga kandang melawan Persik Kediri pada 23 Mei 2026. Pertandingan ini bisa menjadi penentu posisi Persebaya di klasemen akhir musim.
Kekalahan dari Borneo FC membuat Persebaya turun ke posisi enam klasemen dengan 39 poin. Persib Bandung memimpin dengan 54 poin, disusul Borneo FC dengan 53 poin, Persija Jakarta 51 poin, Malut United 45 poin, dan Persita Tangerang 41 poin.
Dengan sembilan laga tersisa, peluang Bajol Ijo untuk kembali ke lima besar masih terbuka. Namun, konsistensi dan evaluasi menjadi kunci agar tim tidak kembali terpuruk.
Evaluasi skuad menyoroti pemain muda yang belum pernah tampil musim ini, seperti Adre Arido, Muhammad Ilham, Sheva Kardanu, dan Ahmad Mujtaba. Minimnya kesempatan bermain bagi mereka menjadi catatan penting dalam strategi tim.
Baca juga: Bonek Tetap Dukung, Persebaya Surabaya Diminta Bangkit dari Evaluasi
Sementara itu, pemain reguler seperti Ernando Ari (23 penampilan, 2070 menit), Arief Catur (24 penampilan, 1965 menit), dan Leo Lelis (19 penampilan, 1346 menit) tetap menjadi tulang punggung tim.
Pemain asing lain seperti Jefferson (8 penampilan) dan Gustavo Fernandes (4 penampilan) masih belum menunjukkan kontribusi maksimal.
Bernardo Tavares menegaskan perlunya keseimbangan antara pemain inti, pelapis, dan talenta muda. “Kami melihat video pertandingan mereka. Kami coba untuk berlatih, tetapi hari ini sayangnya kami tidak dapat memberikan yang terbaik,” katanya.
Kapten Bruno Moreira menambahkan, “Yang bisa kami lakukan sekarang adalah menganalisis kesalahan kami selama pertandingan dan mencoba memperbaikinya menjadi lebih baik di masa depan.”
Dengan evaluasi menyeluruh, Persebaya diharapkan bisa menemukan keseimbangan antara pemain asing, pemain inti, dan talenta muda yang belum mendapat kesempatan.
Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, menegaskan bahwa praktik rasisme dan ujaran kebencian tidak boleh lagi terjadi di sepak bola Indonesia.
Pernyataan ini muncul setelah insiden dalam laga Persebaya Surabaya kontra Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (2/3/2026).
Dalam pertandingan tersebut, suporter tuan rumah terdengar melontarkan ujaran kebencian dari tribun dan menyalakan flare.
Situasi panas juga melibatkan dua pemain muda, Kakang Rudianto (Persib) dan Mikael Alfredo Tata (Persebaya), yang kemudian mendapat serangan bernuansa rasis di media sosial.
Arya menyebut hal ini sangat memprihatinkan. “Kami cukup sedih melihat hal ini. Dalam sepak bola, nilai fair play sangat kuat dan gerakan anti-rasisme sudah lama menjadi bagian dari sepak bola dunia,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa masyarakat Indonesia seharusnya lebih sadar, mengingat selama ini justru sering menjadi korban rasisme di luar negeri.
“Ironisnya, orang Indonesia sering menjadi korban rasisme di luar negeri, khususnya di Asia. Namun sekarang justru kita sendiri yang melakukan hal tersebut,” katanya dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews
Arya menilai bahwa rasisme tidak memiliki tempat dalam sepak bola. Ia menekankan beberapa poin penting:
Rasisme merusak nilai fair play yang menjadi dasar olahraga.
Ujaran kebencian di ruang publik, termasuk media sosial, sangat berbahaya.
Indonesia sering menjadi korban rasisme di luar negeri, sehingga tidak pantas melakukan hal serupa di dalam negeri.
Menurut Arya, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menulis atau mengucapkan sesuatu.
“Kami berharap ada kesadaran dari semua pihak untuk tidak lagi mengeluarkan ungkapan seperti itu karena sangat tidak sehat bagi sepak bola kita. Jangan terlalu mudah menulis sesuatu tanpa berpikir,” tegasnya.
Ia juga berharap media dapat berperan aktif dalam menyebarkan edukasi dan kesadaran menolak segala bentuk rasisme.
Sebagai respons atas insiden tersebut, manajemen Persebaya Surabaya memutuskan menutup Tribun Utara Stadion Gelora Bung Tomo hingga akhir musim.
Keputusan ini diambil setelah adanya ujaran kebencian dan flare yang dinilai membahayakan atmosfer pertandingan.
Arya mengapresiasi langkah tegas tersebut. “Saya melihat langkah Persebaya sebagai respons yang sangat positif. Kami sangat menghargai keputusan mereka menutup tribun utara,” ujarnya.
Ia berharap tindakan ini bisa menjadi contoh bagi klub lain.
“Semoga langkah tersebut bisa menjadi contoh bagi klub lain untuk bersama-sama menolak rasisme. Kami berharap semua pihak, termasuk suporter, juga melakukan hal yang sama,” pungkasnya.