Sejarah Fatayat NU: Organisasi Perempuan Muda yang Lahir di Surabaya
Pipit Maulidya March 11, 2026 12:04 PM

 

SURYA.CO.ID - Fatayat atau Fatayat NU adalah organisasi perempuan muda di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Organisasi ini memiliki sejarah panjang yang bermula sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Fatayat NU lahir di Surabaya. Tujuan terbentuknya sebagai wadah bagi perempuan Islam untuk beraktualisasi sekaligus berkontribusi bagi bangsa.

Sejarah berdirinya Fatayat NU tidak lepas dari kegigihan tokoh-tokoh perempuan yang ingin memiliki kemandirian dalam berorganisasi.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut perjalanan sejarah Fatayat NU dari masa ke masa.

Awal Mula Berdirinya

Dalam bahasa Arab, Fatayat berarti pemudi.

Dikutip SURYA.CO.ID dari laman nu.or.id, cikal bakal Fatayat NU sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 1940.

Saat itu, dalam penyelenggaraan Muktamar ke-15 NU di Surabaya, sejumlah pelajar putri Madrasah Tsanawiyah (MTs) NU Surabaya dilibatkan sebagai panitia bersama para senior dari Muslimat NU (yang saat itu disebut NUM).

Sejak peristiwa tersebut, keterlibatan perempuan muda NU dalam berbagai agenda organisasi terus meningkat.

Namun pada masa itu, status mereka masih sebatas kepanitiaan dengan sebutan Putri NUM, Pemudi NUM, atau Fatayat.

Baca juga: Profil Margaret Aliyatul Maimunah Ketua Umum PP Fatayat NU yang Tutup Usia, Lulusan UIN Surabaya

Pendiri Fatayat NU

Fatayat NU berdiri berkat kegigihan tokoh perempuan yang dikenal sebagai Tiga Serangkai. Ketiga tokoh tersebut adalah:

Chuzaimah Mansur (Gresik)

Aminah Mansur (Sidoarjo)

Murthosiyah (Surabaya)

Ketiga tokoh ini mulai melakukan konsolidasi pemudi NU sekitar tahun 1948.

Selain mereka, sejumlah nama lain juga tercatat sebagai perintis organisasi ini, seperti Nihayah Bakri, Maryam Thoha, dan Asnawiyah.

Para tokoh tersebut mencurahkan tenaga dan pikiran dalam masa-masa awal perintisan Fatayat NU.

Perjuangan Menjadi Badan Otonom (Banom)

Dalam perjalanannya, Fatayat NU harus meyakinkan organisasi induknya, yakni Nahdlatul Ulama, mengenai pentingnya wadah khusus bagi perempuan muda.

Upaya tersebut akhirnya mendapat restu dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat itu, KH Mochammad Dahlan.

Ia mendukung pembentukan Pengurus Pusat Puteri NUM yang kemudian diberi nama Dewan Pimpinan Fatayat NU pada 26 Rabiul Akhir 1369 H atau 14 Februari 1950.

Secara administratif, Fatayat NU kemudian disahkan sebagai badan otonom (Banom) NU dalam Muktamar ke-18 NU di Jakarta yang berlangsung pada 20 April hingga 3 Mei 1950.

Namun, berdasarkan kesepakatan atas proses perintisannya, Fatayat NU menetapkan bahwa organisasi ini secara resmi disetujui berdiri di Surabaya pada 24 April 1950 atau 7 Rajab 1369 H.

Daftar Ketua Umum Fatayat NU

Setelah resmi menjadi Banom NU, Fatayat NU mulai merekrut anggota dari wilayah-wilayah terdekat.

Langkah ini kemudian menyusul terbentuknya struktur organisasi hingga tingkat cabang, ranting, dan wilayah.

Berikut daftar tokoh yang pernah memimpin Fatayat NU:

Murtasiyah, Chuzaimah Mansur, dan Aminah Mansur (1950–1952)

Nihayah Bakri (1952–1956)

Hj Aisyah Dahlan (1956–1959)

Nihayah Maksum (1959–1962)

Hj Malichah Agus Salim (1962–1979)

Hj Mahfudhoh Aly Ubaid (1979–1989)

Hj Sri Mulyati Asrori (1989–2000)

Maria Ulfah Anshor (2000–2010)

Ida Fauziyah (2010–2015)

Anggia Ermarini (2015–2022)

Margaret Aliyatul Maimunah (2022–sekarang)

Kepergian Margaret menyisakan kesedihan mendalam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.