SURYA.CO.ID - Sosok Rektor Universitas Brawijaya (UB) periode 2014-2018, Prof Mohammad Bisri, diketahui memiliki Pondok Pesantren (Ponpes) di daerah Malang, Jawa Timur (Jatim).
Kisah mengenai kehidupan Prof Bisri hingga memiliki ponpes tersebut terungkap dalam program eksklusif "Cerita Para Kiai" di Youtube Tribunnews, tayang Sabtu (28/2/2026).
Anak kiai kampung di Mbetek, Kota Malang ini awalnya menekuni karier sebagai akademisi usai lulus kuliah di Teknik Pengairan UB Malang hingga meraih gelar profesor di kampus tersebut.
Pada 2013, Prof Bisri mendapat amanah mengisi posisi sebagai Dekan Fakultas Teknik (FT) UB.
Setahun kemudian, ia terpilih sebagai Rektor Universitas Brawijaya (UB) pada 2014.
"Saya ini sebenarnya terpaksa nyalon rektor, tapi akhirnya malah terpilih," katanya sambil tertawa.
Di samping karier sebagai akademisi, Prof Bisri juga terlibat dalam pendirian pondok pesantren yang awalnya hanya berdiri di atas lahan sekitar 500 meter persegi pada tahun 1996.
Saat itu, Prof Bisri diajak oleh temannya untuk membangun ponpes.
Baca juga: Sosok Prof Bisri, Anak Kiai Kampung Jadi Rektor UB hingga Bangun Ponpes Berbasis Sains dan Agama
Prof Bisri akhirnya membangun ponpes dengan dukungan restu orang tua.
Pesantren itu diberi nama Bahrul Maghfiroh.
Kini, Ponpes Bahrul Maghfiroh berkembang dan memiliki luas lahan hampir 4 hektare.
"Singkat cerita pada saat itu saya fokus di bidang akademik dan juga menjadi rektor, Ponpes kemudian dikelola oleh adik saya Gus Lukman."
"Saat itu saya memilih untuk tidak ikut campur agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan."
"Karena fokus saya masih di bidang akademik di kampus," ungkap Prof Bisri yang kini telah menginjak usia 68 tahun itu.
Namun, titik balik terjadi pada 2017, saat sang adik wafat.
Sebulan sebelum meninggal, adiknya sempat mengajak Bisri berkeliling pesantren, sebuah momen yang kemudian ia anggap sebagai pesan terakhir untuk melanjutkan perjuangan.
"Akhirnya pengurus meminta saya melanjutkan. Saya pikir ini amanah dan harus kembali lagi mengelola pondok pesantren ini," ujarnya.
Seiring perjalanan, Prof Bisri menilai ada yang perlu diperbaiki dari sistem lama ponpes.
Ia menolak stigma bahwa pesantren adalah tempat penitipan anak nakal.
"Pondok itu tempat mencari ilmu agama dan mengamalkannya, bukan tempat anak-anak nakal," tegasnya.
Ia kemudian menerapkan sistem seleksi santri dan mengubah arah pendidikan pesantren menjadi lebih terstruktur.
Salah satu gebrakan terbesar Prof Bisri adalah menggabungkan pendidikan agama (din) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (sains).
Menurutnya, keberhasilan dunia dan akhirat harus ditempuh dengan dua jenis ilmu tersebut secara bersamaan.
Konsep itu diwujudkan dalam berbagai program, mulai dari kewirausahaan santri, pelatihan kerja, hingga pengembangan unit usaha seperti peternakan, budidaya, hingga produksi.
Tak hanya itu, pesantren juga dilengkapi laboratorium digital dan Artificial Intelligence (AI), serta studio multimedia kreatif untuk menunjang keterampilan santri di era modern.
"Kalau hanya ilmu agama, dunia bisa tertinggal. Kalau hanya ilmu dunia, akhirat bisa terlantar. Jadi harus berjalan beriringan," pesannya.
Meski banyak yang menyebut konsepnya sebagai pesantren modern, Prof Bisri menolak label tersebut.
Ia menilai, Islam sejatinya adalah ajaran yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Ia menekankan bahwa Islam harus hadir dalam semua aspek kehidupan, mulai dari teknologi, bisnis, hingga budaya.
"Islam itu bukan modern atau tidak. Islam itu harus menang di segala zaman," ujarnya.
Ke depan, Prof Bisri juga berencana mengembangkan pendidikan berbasis internasional dengan standar Cambridge, termasuk penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran.
Langkah ini menjadi bagian dari visinya mencetak santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu bersaing secara global.
Di akhir wawancara, Prof Bisri berpesan agar santri tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu dunia.
Menurutnya, umat Islam harus berada di garis depan dalam memimpin peradaban.
"Belajarlah dua-duanya (ilmu agama dan ilmu dunia)."
"Supaya kita bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Islam harus memimpin, bukan tertinggal," tandasnya.
Dilansir SURYA.CO.ID dari laman bahrulmaghfirohmalang.or.id, Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang berada di bawah naungan Yayasan Bahrul Maghfiroh Cinta Indonesia.
Berazaskan aqidah ahlus sunnah wal jama'ah dengan memadukan pendidikan salaf dan modern. Mengutamakan keunggulan profesionalisme, membangun generasi yang berakhlaq alkarimah dan berjiwa mandiri
Saat ini, Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang memiliki 345 santri, 43 ustadz dan pengajar, 15 laboratorium, serta 13 unit usaha santri.
Awal mula Ponpes Bahrul Maghfiroh didirikan oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS., pada 1995 dibawah naungan Yayasan Al Ma’rifat dengan nama Ponpes Al Ma’rifat As Syafi’iyyah.
Kemudian pada 1998, pondok berganti nama menjadi Ponpes Bahrul Maghfiroh dan diasuh oleh KH.
Luqmanul Karim yang merupakan adik dari Prof. Bisri.
Pada 2011, Gus Luqman mendirikan yayasan bernama “Bahrul Maghfiroh Cinta Indonesia”.
Yayasan tersebut menjadi payung hukum yang menaungi Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh.
Kemudian, beliau mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti TK, SD, SMP dan SMA, dan menambah fasilitas untuk santri sehingga pondok pesantren semakin berkembang.
Pada 2017, tepatnya 7 September 2017, Gus Luqman meninggal dunia.
Kepemimpinan Ponpes Bahrul Maghfiroh akhirnya dijabat oleh Prof Bisri, kakak almarhum Gus Luqman.
===
Kami mengajak Anda untuk4 bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung