Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zubir | Kota Langsa
SERAMBINEWS.COM, ACEH TAMIANG - Trauma healing pada anak adalah proses pemulihan psikologis untuk mengatasi dampak emosional, kecemasan, dan rasa takut pascatrauma, terutama akibat bencana atau kejadian traumatis.
Pendekatan utamanya meliputi menciptakan rasa aman, memberikan dukungan emosional, bermain, dan mendengarkan, untuk membantu anak kembali ceria, percaya diri, dan beraktivitasAnak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis paska terjadinya bencana alam banjir bandang terparah di Kabupaten Aceh Tamiang.
Menyadari pentingnya pemulihan mental bagi anak-anak, Dosen Universitas Samudra (Unsam) melakukan kegiatan trauma healing dan konseling bagi anak-anak terdampak bencana, di Kampung Matang Cincin, Kecamatan Manyak Payed.
Trauma Healing melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai Unsam ini diketuai Thursina Mahyuddin, S.Sos., M.SP, didampingi narasumber Helmi Ghoffar, M.Pd (Dosen Bimbingan Konseling Unsam).
Thursina Mahyuddin, S.Sos., M.SP, kepada Serambinews.com, Rabu (11/3/2026), menyebutkan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi psikologis anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana yang melanda wilayah tersebut.
"Program ini bertujuan membantu anak-anak kembali merasa aman, nyaman, serta mampu mengekspresikan perasaan mereka setelah mengalami peristiwa yang menegangkan," sebut dosen ini.
Dalam kegiatan ini, sambung Thursina, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas kreatif yang menyenangkan dan edukatif.
Salah satu metode yang digunakan adalah terapi melalui kegiatan menggambar.
Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat menyalurkan emosi dan pengalaman mereka dalam bentuk visual sehingga membantu proses pemulihan trauma secara perlahan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut, tim PkM juga membagikan berbagai perlengkapan menggambar, seperti crayon, kertas gambar, dan meja belajar kepada anak-anak yang mengikuti kegiatan.
Bantuan ini tidak hanya digunakan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga diharapkan dapat dimanfaatkan anak-anak untuk belajar dan berkegiatan kreatif di rumah.
Dikatakannya, kegiatan trauma healing sangat penting dilakukan setelah bencana karena dampak yang dirasakan anak-anak tidak hanya bersifat fisik tetapi juga psikologis.
“Anak-anak sering kali mengalami ketakutan, kecemasan, bahkan kesulitan untuk kembali beraktivitas secara normal setelah bencana," ucapnya.
Oleh karena itu, timpal Thursina, kegiatan trauma healing dan konseling ini diharapkan dapat membantu mereka kembali ceria dan percaya diri.
Selama kegiatan berlangsung yang diadakan tanggaln7 Maret 2026 lalu, anak-anak tampak antusias mengikuti setiap aktivitas yang diberikan.
Mereka terlihat senang saat menerima perlengkapan menggambar dan mulai menuangkan imajinasi mereka ke dalam kertas gambar,dan suasana kegiatan pun berlangsung hangat dan penuh keceriaan.
Selain menggambar, tim pengabdian juga memberikan pendampingan psikologis ringan melalui permainan edukatif, komunikasi yang interaktif, serta motivasi untuk meningkatkan semangat belajar anak-anak.
Pendekatan ini dilakukan agar anak-anak merasa lebih nyaman dan tidak lagi teringat pada pengalaman traumatis yang mereka alami.
Masyarakat di Kampung Matang Cincin menyambut baik kegiatan ini dan berharap hal serupa dapat terus dilakukan untuk membantu pemulihan mental anak-anak pascabencana.
Dukungan dari berbagai pihak dinilai sangat penting agar proses pemulihan psikologis anak-anak dapat berjalan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan PkM ini, diharapkan anak-anak terdampak bencana di Desa Matang Cincin dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih optimis, ceria, dan semangat dalam belajar.
Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kepedulian akademisi dalam membantu masyarakat menghadapi dampak sosial dan psikologis akibat bencana. (*)