TRIBUNJAKARTA.COM - Ahli hukum tata negara, Feri Amsari, menyoroti ucapan Permadi Arya alias Abu Janda saat berdebat dengan Profesor Ikrar Nusa Bhakti dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV yang dipandu Aiman Witjaksono.
Sorotan tersebut disampaikan Feri lewat akun Threads miliknya.
Ia menilai gaya bicara Abu Janda dalam perdebatan tersebut kasar dan tak pantas disampaikan di ruang publik.
"Saat offair dia ngaku bukan bilang **jing tapi **jir. Saya bilang dia bohong. Video ini menjelaskan rusaknya orang ini. TV dan media lain harusnya melarang orang ini dengan keras," tulis Feri dalam unggahannya.
Perdebatan keduanya sebelumnya menyinggung peran Amerika Serikat dalam sejarah Indonesia di tengah diskusi tentang konflik perang AS-Israel vs Iran.
Dalam diskusi tersebut, Ikrar menyampaikan pandangannya bahwa keterlibatan Amerika Serikat pada akhir 1940-an tidak lepas dari kepentingan geopolitik, terutama kekhawatiran terhadap pengaruh komunisme di Indonesia.
"Coba anda baca Revolution and Nationalism in Indonesia, tulisan Kahin. Di situ dijelaskan mengapa Amerika turun tangan karena ketakutan bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan komunis," kata Ikrar.
Namun pernyataan tersebut disanggah oleh Abu Janda yang menilai Amerika tetap memiliki peran besar dalam mendorong Belanda meninggalkan Indonesia.
"Betul, karena ada pemberontakan di Madiun itu memang betul. Tapi apapun itu pak, Amerika itu perannya besar pak," ujar Abu Janda.
Perdebatan pun sempat memanas dengan saling balas pernyataan antara keduanya.
Dalam salah satu momen, Abu Janda juga melontarkan komentar yang kemudian memicu kritik dari Ferry Amsari.
Feri menilai tayangan televisi seharusnya lebih selektif dalam menghadirkan narasumber agar diskusi publik tetap berlangsung secara sehat.
Abu Janda menilai sentimen anti-Amerika Serikat di Indonesia kerap muncul karena kebencian tanpa melihat sisi lain sejarah.
Ia menyebut Amerika memiliki peran besar dalam proses pengakuan kedaulatan Indonesia.
"Intinya sentimen anti Amerika ini luar biasa sekali di negara ini dan semua didasari sama kebencian buta tanpa mencoba untuk mencoba adil seperti yang disarankan Al-Maidah ayat 8," kata Abu Janda.
Ia kemudian menyinggung situasi setelah Proklamasi 1945 ketika Belanda kembali datang bersama pasukan NICA.
Menurutnya, posisi militer Belanda saat itu jauh lebih kuat dibandingkan Indonesia.
"Bahkan Jenderal Sudirman pun hanya bisa melawan Belanda dengan taktik gerilya, hit and run. Apakah dengan hit and run itu efektif untuk mengusir Belanda dari bumi pertiwi? I don't think so," ujarnya.
Abu Janda lalu menyebut Belanda akhirnya meninggalkan Indonesia karena tekanan dari Amerika Serikat.
"Tiba-tiba tahun 1949 Belanda mudik. Karena siapa? Karena ditekan Amerika. Jadi tahun 1949 Amerika itu ngancem ke Belanda, kalau masih jajah Indonesia akan disetop bantuan Amerika," kata dia.
Ia juga menyinggung peran Amerika dalam mendorong Belanda mengikuti Konferensi Meja Bundar.
"Bukan cuma itu aja, Amerika itu nyeret Belanda ke Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Amerika juga bikin veto, bikin resolusi di Dewan PBB untuk menekan agar Belanda cabut dari Indonesia," ucap Abu Janda.
Namun, Prof Ikrar Nusa Bhakti memberikan pandangan berbeda.
Ia menilai keterlibatan Amerika pada masa itu tak lepas dari kepentingan geopolitik, khususnya kekhawatiran terhadap pengaruh komunisme.
"Amerika kenapa turun tangan pada 1948–1949 itu karena ketakutan bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan komunis," kata Ikrar.
Ia bahkan menyarankan agar melihat penjelasan tersebut dalam kajian sejarah.
"Coba anda baca Revolution and Nationalism in Indonesia, tulisan Kahin. Di situ dijelaskan mengapa Amerika turun tangan karena ketakutan Indonesia akan jatuh ke tangan komunis," ujar Ikrar.
Dalam perdebatan itu, Ikrar juga mengingatkan bahwa kebijakan Amerika terhadap Indonesia tidak selalu berpihak.
"Tapi jangan anda pikir, Amerika itu negara yang baik ya," kata Ikrar.
Ia menambahkan Amerika Serikat justru membantu menyokong adanya pemberontakan-pemberontakan daerah.
"Bagaimana Amerika Serikat itu awal-awal kemerdekaan Indonesia juga membantu pemberontakan daerah di PRRI dan Permesta," ujarnya.
Menurut Ikrar, kebijakan Amerika terhadap Indonesia juga berubah ketika John F. Kennedy menjadi Presiden Amerika Serikat pada 1961.
"Ketika Kennedy dari Partai Demokrat terpilih menjadi presiden pada 1961, ada perubahan besar kebijakan Amerika terhadap Indonesia. Mengapa kemudian Kennedy membela Indonesia dalam kaitannya dengan Irian Barat," kata dia.