Ganjar Bagikan Hitung-hitungan Jika MBG Cuma Disalurkan ke yang Butuh, Bantu Atasi Defisit Negara?
Rr Dewi Kartika H March 11, 2026 03:08 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, membagikan simulasi perhitungan anggaran jika program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak diberikan kepada seluruh anak, melainkan hanya ditargetkan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan. 

Hitung-hitungan tersebut dikemukan oleh influencer Alif Towew.

"Yuk belajar matematika sebentar. Kayaknya mudah untuk dipahami & bisa diterapkan dalam membuat kebijakan: reprioritas! Setuju?

Makasih kang @aliftowew" tulis Ganjar Pranowo.

Menurut Alif Towew, skema tersebut bisa memangkas anggaran ratusan triliun rupiah sekaligus membantu menjaga defisit negara agar tetap di bawah batas aman.

Alif Towew menilai kondisi ekonomi global saat ini tidak sedang baik-baik saja. 

Ia menyinggung harga minyak dunia yang sudah menembus angka 110 dolar per barel, sementara defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah mendekati batas maksimal yang diizinkan undang-undang.

“Harga minyak ini sudah tembus 110 dolar dan defisit pada APBN sudah mendekati 3 persen,” ujar Alif Towew dalam penjelasannya.

Dalam situasi tersebut, Alif Towew mengusulkan konsep MBG Targeted, yaitu penyaluran program makan bergizi gratis hanya kepada anak-anak yang mengalami stunting serta kelompok rentan seperti ibu hamil.

“Di sini ada solusi namanya MBG Targeted. Jadi kita arahkan saja MBG ini ke anak-anak yang stunting, karena ternyata di data yang stunting ini banyaknya di kategori kuning sama merah. Jadi tidak mesti semuanya,” kata Alif Towew.

Ia kemudian memaparkan perhitungan anggaran program MBG yang selama ini diproyeksikan mencapai Rp335 triliun untuk sekitar 82,9 juta anak. 

Dengan jumlah tersebut, rata-rata biaya yang dikeluarkan negara untuk satu anak mencapai sekitar Rp4,04 juta per tahun.

“Kalau kita lihat anggaran makanan bergizi gratis itu Rp335 triliun untuk 82,9 juta orang. Artinya satu anak itu biayanya sekitar Rp4,04 juta tiap tahun,” jelasnya.

Namun jika program tersebut difokuskan hanya pada anak-anak stunting yang jumlahnya sekitar 4,4 juta orang, kebutuhan anggaran akan jauh lebih kecil.

“Anak yang stunting itu ada sekitar 4,4 juta. Berarti 4,4 juta dikalikan biaya per anak Rp4,04 juta dapat sekitar Rp18,1 triliun,” ujar Alif Towew.

Selain anak-anak, ia juga memasukkan kelompok ibu hamil yang rentan mengalami masalah gizi. 

Berdasarkan perhitungannya, terdapat sekitar 4,8 juta kelahiran setiap tahun, dengan sekitar 32 persen di antaranya berisiko mengalami gangguan gizi.

“Sehingga ibu hamil yang rentan itu sekitar 1,53 juta orang. Kalau biaya makannya sama Rp4,04 juta, berarti butuh biaya sekitar Rp6,2 triliun,” katanya.

Dengan demikian, total anggaran yang dibutuhkan untuk anak stunting dan ibu hamil hanya sekitar Rp24,3 triliun.

“Berarti total biaya untuk anak dan ibu hamil itu sekitar Rp24,3 triliun. Artinya biaya MBG yang tadi Rp335 triliun bisa dipangkas menjadi hanya Rp24,3 triliun saja,” ujar Alif Towew.

Jika skema tersebut diterapkan, menurutnya negara berpotensi menghemat hingga Rp292,6 triliun.

Alif Towew juga mengaitkan perhitungan tersebut dengan kondisi defisit APBN. 

Ia menjelaskan, pemerintah sebelumnya merencanakan defisit sekitar 2,68 persen atau setara Rp689 triliun. 

Namun kenaikan harga minyak dunia bisa membuat defisit melonjak.

“Kalau harga minyak 90 sampai 92 dolar per barel saja, katanya defisit bisa mencapai 3,6 persen. Ini sudah melebihi batas aman 3 persen,” ucapnya.

Dalam nominal, defisit 3,6 persen tersebut setara sekitar Rp925 triliun. 

Menurut matematikawan lulusan ITB tersebut, penghematan dari skema MBG yang ditargetkan bisa membantu menutup sebagian defisit tersebut.

“Kalau kita pakai MBG Targeted, artinya ini bisa dialihkan untuk mengurangi defisit sehingga nanti defisitnya hanya jadi Rp633 triliun. Artinya cuma 2,46 persen, kurang dari target awal,” jelasnya.

Alif Towew menegaskan bahwa ekonomi pada dasarnya berkaitan dengan penentuan prioritas. Di tengah situasi global yang tidak menentu, menurutnya pemerintah perlu memilih kebijakan yang paling efektif.

“Pada dasarnya ekonomi ini tentang opportunity cost. Kita memang harus memilih prioritas mana yang lebih penting,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan MBG Targeted bisa menjadi jalan tengah: program makan bergizi tetap berjalan untuk kelompok paling membutuhkan, sementara kondisi fiskal negara tetap terjaga.

“MBG-nya tetap berjalan untuk anak-anak yang stunting dengan biayanya Rp24,3 triliun dan defisit negara pun masih aman di 2,46 persen,” kata Alif Towew.

“Karena di kondisi global yang tidak baik-baik saja ini, kita harus menetapkan prioritas yang lebih utama,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

  • Baca juga: Saran Ekonom Pangkas Dana MBG Saat Minyak Mentah Dunia Meroket, Kenaikan Harga BBM Pilihan Akhir

  • Baca juga: Viral Menu MBG Lele Mentah di SMAN 2 Pamekasan, Politikus PDIP Tantang Pejabat BGN Ikut Mencicipi

  • Baca juga: Siswa di Pamekasan Tolak MBG Lele Mentah Berbau Amis, BGN dan SPPG Klafirikasi: Cegah Gizi Berkurang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.