TRIBUN-MEDAN.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak meminta Israel untuk segera menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi di Iran.
Peringatan ini disampaikan setelah Israel memperluas target militernya hingga menghantam sejumlah depot minyak Taheran, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.
Atas permintaan Donald Trump tersebut, sejumlah pejabat AS dan seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan Washington telah menjalin komunikasi dengan Israel.
Dalam pembicaraan itu, AS menyatakan bahwa mereka tidak senang dengan serangan terhadap fasilitas energi Iran baru-baru ini.
Washington juga menginstruksikan Israel agar tidak mengulangi tindakan serupa di masa depan, kecuali jika telah mendapatkan persetujuan langsung dari pemerintah AS.
Langkah Israel yang menyasar infrastruktur energi ini pun memicu kritik dari sekutu Presiden AS Donald Trump, termasuk Senator Lindsey Graham yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat perang tersebut.
Menurut seorang pejabat AS, Israel, dan sumber yang mengetahui masalah itu serangan Israel tersebut dianggap melampaui apa yang diharapkan Washington.
Serangan itu pun memicu perselisihan signifikan pertama antara AS-Israel sejak perang dimulai pada 28 Februari.
AS disebut khawatir serangan Israel terhadap infrastruktur yang melayani warga Iran dapat menjadi bumerang secara strategis.
Bagi mereka, serangan itu justru dapat dimanfaatkan untuk menggalang dukungan masyarakat Iran terhadap rezim.
Para pejabat Israel dan AS menuturkan, militer Israel telah memberi tahu sebelum serangan itu terjadi. Namun, AS terkejut dengan luasnya jangkauan serangan.
"Kami rasa itu bukan ide yang bagus," kata seorang pejabat senior AS.
Baca juga: Media Israel Ungkap Kondisi Netanyahu, Isu Rudal Iran Hantam Rumah PM Israel, Adik Netanyahu Tewas?
Baca juga: MANTAN Intelijen AS Sebut Rudal Iran Hantam Rumah PM Israel dan Menteri Keamanan: Keduanya Tewas?
Trump Isyaratkan Perang Bisa Segera Berakhir
Dalam laporan terbaru, Presiden Donald Trump mengisyaratkan perang di Timur Tengah bisa segera berakhir, di tengah munculnya pemimpin baru Iran yang dikenal berhaluan keras, Mojtaba Khamenei.
Pernyataan itu muncul ketika Iran justru menunjukkan sikap perlawanan dengan menggalang dukungan besar terhadap pemimpin barunya, setelah ayah Mojtaba, Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel pada hari pertama perang.
Trump mengatakan, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tersebut kemungkinan tidak akan berlangsung lama. “Ini akan selesai cukup cepat,” kata Trump kepada anggota parlemen Partai Republik, dikutip dari Reuters.
Meski demikian, ia menegaskan perang akan terus berlanjut sampai Iran benar-benar “dikalahkan secara total dan menentukan”.
Trump juga menilai pihaknya sudah memenangkan banyak hal dalam konflik tersebut, meski belum mencapai kemenangan yang dianggap cukup. Namun, Trump tidak menjelaskan secara rinci seperti apa definisi kemenangan yang dimaksud oleh pemerintah Amerika Serikat.
Lonjakan harga minyak jadi perhatian
Yang pasti, konflik AS-Israel dengan Iran tengah membuat harga minyak global melonjak.
Pemerintah AS pun disebut tengah menyiapkan sejumlah opsi untuk meredam lonjakan harga minyak tersebut.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Presiden Trump mempertimbangkan melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia serta melepaskan cadangan minyak darurat Amerika Serikat ke pasar.
Langkah tersebut dibahas sebagai bagian dari upaya menstabilkan harga energi yang melonjak setelah lebih dari sepekan serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian serius Gedung Putih karena dikhawatirkan akan membebani bisnis dan konsumen Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang, ketika Partai Republik berharap mempertahankan kendali atas Kongres.
Trump sendiri mengatakan pemerintahannya akan mencabut sanksi terhadap beberapa negara untuk sementara waktu guna menstabilkan pasar energi. “Kami memiliki sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi itu sampai jalur (Selat Hormuz) kembali terbuka,” ujar Trump kepada wartawan, tanpa menjelaskan negara mana yang dimaksud.
Melonggarkan sanksi terhadap Rusia berpotensi meningkatkan pasokan minyak dunia di tengah terganggunya pengiriman energi dari Timur Tengah akibat konflik Iran.
Namun langkah tersebut juga berisiko mempersulit upaya Amerika Serikat menekan pendapatan Rusia terkait perang di Ukraina.
Trump juga mengatakan telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait situasi perang di Ukraina.
Sementara itu di Iran, tokoh-tokoh politik dan lembaga negara segera menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut.
Mojtaba, seorang ulama Syiah berusia 56 tahun, dikenal memiliki dukungan kuat dari aparat keamanan serta jaringan bisnis yang terhubung dengan kelompok militer elite Iran.
Menurut media pemerintah Iran, IRIB, keluarga dekat Mojtaba, termasuk istri, anak, dan ibunya, juga tewas pada awal serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Dalam sebuah pernyataan, Dewan Pertahanan Iran menegaskan loyalitasnya kepada pemimpin baru. “Kami akan mematuhi panglima tertinggi hingga tetes darah terakhir,” demikian isi pernyataan tersebut.
Di sejumlah kota besar Iran, media pemerintah menayangkan kerumunan massa yang berkumpul sambil mengibarkan bendera nasional dan membawa foto Ali serta Mojtaba Khamenei.
Di kota Isfahan, massa berkumpul di Imam Square untuk memberikan dukungan.
Militer Iran juga menyatakan akan meningkatkan serangan rudal sebagai bentuk balasan.
Para pendukung pemerintah Iran menilai penunjukan Mojtaba sebagai bentuk perlawanan terhadap musuh Iran.
“Saya sangat senang dia menjadi pemimpin kami. Ini seperti tamparan bagi musuh yang mengira sistem akan runtuh setelah ayahnya terbunuh,” kata Zahra Mirbagheri (21), mahasiswa di Teheran.
Seorang pebisnis bernama Babak (34) dari kota Arak mengatakan kekuatan militer Iran masih sangat besar.
“Pasukan Garda Revolusi dan sistem masih sangat kuat. Mereka memiliki puluhan ribu pasukan siap bertempur,” ujarnya.
Pentagon: Washington Tidak Terlibat Langsung dalam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei
Di sisi lain, Kepala kebijakan Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon Elbridge Colby menegaskan, Washington tidak terlibat langsung dalam serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurutnya, serangan tersebut merupakan operasi militer yang dilancarkan oleh Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Colby saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat, dikutip Rabu (11/3/2026).
Dia mengklarifikasi bahwa serangan yang menargetkan Khamenei serta sejumlah pemimpin senior Iran lainnya bukan merupakan bagian dari kampanye militer Amerika.
"Itu adalah operasi Israel," ujar Colby saat menjawab cecaran anggota parlemen mengenai apakah perubahan rezim menjadi tujuan dari aksi militer AS di kawasan tersebut.
Sikap yang ditunjukkan Colby tampak kontras dengan narasi Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dilansir AFP.
Sejak serangan dimulai, Trump justru membawakan narasi kemenangan yang lebih agresif melalui pernyataan-pernyataannya.
"Selama 47 tahun, rezim Iran telah meneriakkan 'matilah Amerika' dan mengobarkan kampanye pertumpahan darah serta pembunuhan massal yang tiada henti," ujar Trump pada Sabtu (28/2/2026) pekan lalu.
Melalui unggahan di media sosial, Trump mengeklaim bahwa Khamenei tidak mampu menghindar dari sistem pelacakan canggih milik intelijen.
Trump juga mengisyaratkan adanya kerja sama erat antara AS dan Israel. "Bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada satu hal pun yang bisa dia (Khamenei), atau pemimpin lain yang terbunuh bersamanya, lakukan," tulis Trump.
Trump juga secara terbuka mendesak rakyat Iran untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggulingkan pemerintah.
Ketidaksinkronan nada bicara antara Gedung Putih dan Pentagon ini memicu pertanyaan lebih luas mengenai tujuan akhir pemerintahan Trump di Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menyatakan bahwa Washington baru mengambil tindakan setelah mengetahui bahwa Israel tengah bersiap untuk menyerang.
Hal ini mengindikasikan bahwa peran AS lebih bersifat reaktif daripada bagian dari rencana besar yang disusun sebelumnya.
Di sisi lain, Colby berupaya mempersempit cakupan sasaran militer AS. Dia menekankan bahwa prioritas utama Washington adalah melemahkan kekuatan tempur Iran, bukan menggulingkan kekuasaan.
"Tujuan dari kampanye militer ini difokuskan untuk menangani kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militer terhadap kami, pangkalan kami, pasukan kami, serta sekutu dan mitra kami di kawasan maupun di luarnya," jelas Colby.
Dia merinci bahwa target utama serangan AS mencakup kekuatan rudal Iran yang berkembang pesat, fasilitas produksi senjata, serta elemen-elemen dari angkatan laut Iran.
Menurut Colby, sasaran-sasaran tersebut adalah tujuan yang terukur, masuk akal, dan dapat dicapai.
Saat ditekan oleh Jack Reed, anggota senior Partai Demokrat di panel tersebut, mengenai bagaimana kematian pemimpin tertinggi Iran selaras dengan tujuan militer AS, Colby kembali menegaskan batasannya.
"Saya berbicara tentang tujuan kampanye militer Amerika," kata Colby seraya mengulangi bahwa serangan terhadap kepemimpinan tersebut sepenuhnya adalah tindakan Israel.
Hingga saat ini, fokus kampanye militer AS tetap diklaim hanya untuk mendegradasi kemampuan proyeksi kekuatan Iran, bukan secara eksplisit bertujuan untuk melakukan perubahan rezim di Teheran.
Berbeda dengan Israel, ingin melakukan perubahan rezim terhadap Taheran.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: AS Tuduh Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Trump Ancam Singkirkan, Siapkan Konsekuensi Berat