Upus Ni Mama, Renungan W/KI GMIM 15-21 Maret 2026, Berjaga dan Berdoa Agar Tak Jatuh dalam Pencobaan
Chintya Rantung March 11, 2026 05:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Upus Ni Mama, renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 15 - 21 Maret 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada Markus 14 : 32 - 42.

Tema perenungan adalah Berjaga-jagalah dan Berdoalah Supaya Kamu Jangan Jatuh ke dalam Pencobaan.

Khotbah:

Wanita/Kaum Ibu yang dikasih dan diberkati Tuhan Yesus,

Sebuah cerita bijak yang mengangkat kisah seorang ibu sedang mendampingi dan menjaga putra kecilnya lagi sakit dan 
demam tinggi di tengah malam.

Sang ibu berkata kepada suaminya untuk bergantian jaga dengan mengatakan bahwa ia nanti mulai jam  24.00, untuk rela tidak tidur supaya bisa mengganti kompres anaknya setiap jam.

Tepat jam 24.00, suaminya membangunkan dia untuk aplos jaga.

Namun, karena kelelahan setelah bekerja seharian, tanpa sadar mata sang ibu pun terpejam dan ia tertidur di samping tempat tidur anaknya.

Saat ayam berkokok, iapun terjaga dan merasa sangat bersalah. Lalu, ia berkata kepada anaknya: "hati  mama ingin sekali menjagamu anakku, tapi badan mama tidak sanggup, maafkan mama ya ".

Cerita bijak ini, mungkin bisa menjadi rujukan pada apa yang dialami murid-murid Yesus di taman Getsemani seperti yang dinarasikan dalam Injil Markus 14:32-42.

Tetapi juga sangat tepat untuk mengingatkan kita dalam tanggungjawab yang kita perankan, sebab bukankah kita juga ingin menjadi isteri yang sabar, ibu yang tekun berdoa, tapi karena lelah, kita sering "tertidur" secara rohani, kita menjadi cepat marah, kurang sabar, atau lupa berdoa dan berjaga-jaga ? Getsemani adalah tempat pemerasan minyak zaitun.

Di tempat ini, Yesus merasa sangat gentar dan gemetar, karena tekanan derita yang ditanggung-Nya. 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. tinggallah di sini dan berjaga-jagalah" (ay.32-34). 

Yesus pun maju sedikit, merebahkan diri dan berdoa, supaya sekiranya saat itu lalu dari pada-Nya.

Yesus memanggil Allah dengan sapaan: "Abba, ya Bapa" dan dengan jujur berkata: bahwa Ia ingin cawan itu lalu dari pada-Nya, tapi menutupnya dengan sebuah kalimat yang menggambarkan ketaatan sang anak yaitu: "tetapijanganlah apa yang 
 Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki" (ay.35-36). 

 Sebuah doa yang jujur dan pasrah pada kehendak Bapa-Nya, sebab bagi Yesus keselamatan dunia tidak ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi melalui ketundukan mutlak pada kehendak Allah Bapa.

Dari peristiwa ini mengajarkan kita bahwa dalam gumul apapun yang kita alami, kita sebenarnya butuh orang lain yang mendukung dan saling menguatkan dalam doa.

Berdoa bukan untuk memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita, tapi untuk menyelaraskan hati kita dengan kehendak Tuhan.

Ketika Yesus selesai bergumul dalam doa, la menjumpai para murid-Nya, dan didapati Petrus, Yakobus, dan Yohanes tertidur.

Yesus pun menegur mereka: - tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam?" lalu dilanjutkan dengan kalimat yang sangat terkenal, sebagaimana tema kita yaitu: "Berjaga-jagalah dan Berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan, roh memang penurut, tetapi daging lemah" (ay.37-41).

Sebuah peringatan teologis tentang realitas kerapuhan manusia, bahwa manusia tidak bisa menang melawan pencobaan hanya dengan niat baik atau roh yang penurut, tetapi butuh keterhubungan terus menerus dengan Allah melalui doa.

Yesus mengerti bahwa para murid tidak punya niat jahat; mereka hanya lelah.

Namun, Yesus mengingatkan bahwa kelelahan fisik dalam hal ini "daging yang lemah", bisa menjadi pintu masuk bagi pencobaan jika tidak dibentengi dengan doa, sebagai bentuk kedekatan spiritual yang intim dengan Bapa.

Wanita/Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, 

Belajar dari Firman Tuhan saat ini, kita diingatkan bahwa setiap ibu punya Getsemani atau beban gumul masing-masing.

Jangan hadapi itu dengan kekuatan sendiri, tetapi carilah Dia, sampaikan keluh kesahmu, dan mintalah kekuatan untuk berkata: "KehendakMulah yang jadi".

Memang patutlah diakui bahwa pencobaan yang dialami ibu-ibu Kristen seringkali rnuncul saat kita sedang lelah.

Saat lelah, kita mudah terpancing emosi, mudah menghakimi orang lain, atau rnulai meragukan kasih Tuhan. Itulah mengapa Yesus mengatakan "Betjaga-jagalah!".

Artinya, kita harus peka terhadap kondisi diri sendiri.

Jika ibu merasa lelah secara mental, segeralah datang ke kaki Tuhan sebelum kelelahan itu berubah menjadi dosa atau kemarahan. 

Dalam rangka memaknai minggu sengsara ini, kita terajak untuk mendisiplinkan diri.

Jika biasanya kita menghabiskan banyak waktu di depan layar HP, maka Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk 
gunakan waktu dengan "betjaga-jaga" dalam doa.

Mari kita hargai pengorbanan Yesus yang sudah berjaga-jaga bagi kita di Getsemani dengan cara kita setia menjaga kekudusan hidup kita.

Ketika murid-murid lelah dan tertidur, Yesus tidak memarahl mereka, tapi mengingatkan mereka agar tidak terlelap saat musuh datang.

Hal sama juga untuk kita. Mari kita bangun dari "tidur rohani" dan menggunakan minggu-minggu sengsara ini untuk lebih tekun berdoa. 

Biarlah di tengah kedagingan kita yang lemah, Roh Kudus memberikan kekuatan agar kita rnenang rnelawan setiap pencobaan dalam rumah tangga, pekerjaan, dan pelayanan kita.

Percayalah bahwa Tuhan Yesus, adalah Sang Penjaga yang tidak pernah terlelap akan memberkati ibu-ibu sekalian. Amin. 

Pertanyaan Untuk Diskusi: 

1. Apa pernahaman yang diperoleh dari lnjil Markus 14:32-42 tentang tema "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu 
 jangan jatuh ke dalam pencobaan" ? 

2. Bagaimana bentuk penerapannya dalam kehidupan wanita kaum ibu saat ini?

Sumber: Komisi W/KI Sinode GMIM edisi Maret 2026

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.