Cerita Mahasiswa Saat Evakuasi di Iran: Dengar Ledakan Saat Briefing di KBRI, Internet Putus
Muhamad Syarif Abdussalam March 11, 2026 06:44 PM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Karawang, Cikwan Suwandi

KARAWANG, TRIBUNJABAR.ID – Seorang mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Iran, Muhammad Jawad (26), menceritakan pengalaman saat proses evakuasi warga negara Indonesia (WNI) di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Israel.

Jawad merupakan mahasiswa di Al Mustafa International University di Kota Mashhad, Iran. Ia sudah tinggal di negara tersebut sejak 2017 untuk menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

“Perkenalkan, nama saya Muhammad Jawad. Saya mahasiswa di Al Mustafa International University di Kota Masyhad. Saya sudah berada di Iran sejak tahun 2017,” kata Jawad.

Ia menjelaskan, selama konflik berlangsung, kondisi di Kota Masyhad relatif aman karena bukan menjadi target serangan.

Masyhad sendiri berjarak sekitar 10–12 jam perjalanan darat dari ibu kota Iran, Teheran.

“Karena Masyhad jauh dari ibu kota dan bukan menjadi target serangan, suasananya masih bisa dibilang aman-aman saja,” ujarnya.

Namun situasi berbeda dirasakan ketika ia tiba di Teheran untuk mengikuti proses evakuasi yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Saat mengikuti pengarahan sebelum keberangkatan evakuasi, Jawad sempat mendengar suara ledakan.

“Ketika briefing di KBRI Teheran, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Kami yang berasal dari Mashhad kaget karena sebelumnya tidak pernah mendengar suara seperti itu,” katanya.

Setelah dikonfirmasi, suara tersebut ternyata berasal dari sistem pertahanan udara Iran yang aktif untuk menangkal serangan.

Menurut Jawad, sejak serangan pertama pada 28 Februari 2026, pemerintah Iran juga memutus akses internet internasional seperti WhatsApp, Telegram, dan Instagram.

Meski demikian, komunikasi antar WNI tetap bisa dilakukan melalui aplikasi dalam negeri Iran.

“Internet internasional diputus, tapi aplikasi dalam negeri masih bisa digunakan. Kami tetap bisa berkomunikasi dengan sesama WNI dan pihak KBRI,” katanya.

Beberapa hari setelah serangan, KBRI Teheran mengeluarkan surat edaran bagi WNI yang ingin dievakuasi untuk mengisi formulir terlebih dahulu.

Jawad bersama istrinya kemudian berangkat dari Mashhad menuju Teheran menggunakan kereta dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 12 jam.

“Alhamdulillah perjalanan lancar. Tidak ada suara ledakan atau kejadian apa pun selama perjalanan,” ujarnya.

Dalam gelombang pertama evakuasi, sekitar 32 WNI dipulangkan ke Indonesia dari berbagai kota di Iran.

Jawad mengatakan keputusannya ikut evakuasi bukan semata karena takut dengan perang, melainkan karena memang sudah memiliki rencana pulang ke Indonesia.

Ia sebelumnya telah memesan tiket penerbangan pulang pada 3 Maret 2026. Namun seluruh penerbangan ditutup setelah konflik pecah sehingga tiketnya dibatalkan.

“Memang sudah ada rencana pulang tanggal 3 Maret. Tapi sejak serangan pertama, seluruh bandara ditutup dan tiket kami dibatalkan,” katanya.

Jawad menambahkan, kehidupan masyarakat di Iran sebenarnya tetap berjalan normal meski konflik berlangsung.

Toko-toko masih buka dan aktivitas warga tetap berjalan, meskipun suasana sedikit lebih sepi karena pemerintah menetapkan libur nasional setelah pemimpin tertinggi Iran diumumkan wafat.

“Secara umum kehidupan masyarakat berjalan seperti biasa. Mereka tetap beraktivitas, hanya saja suasananya lebih sepi karena libur nasional,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Iran juga menunjukkan rasa nasionalisme yang tinggi dan mendukung penuh keputusan pemerintah serta militer negara mereka.

“Saya melihat masyarakat di sana memiliki kepercayaan penuh kepada pemimpin dan militernya untuk menghadapi situasi yang terjadi,” katanya.

Saat ini Jawad telah menyelesaikan pendidikan S1 dan berencana melanjutkan studi ke jenjang S2 di Iran setelah proses ujian dibuka kembali.

Namun untuk sementara waktu, ia memilih pulang ke Indonesia sambil menunggu jadwal lanjutan studi tersebut.

Jawad sendiri merupakan warga Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.