TRIBUNGORONTALO.COM -- Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran mulai mengguncang industri perjalanan dan pariwisata global.
Analisis terbaru dari World Travel & Tourism Council (WTTC) menyebut konflik tersebut telah menyebabkan kerugian sekitar 600 juta dolar AS per hari dari belanja wisatawan internasional.
Gangguan pada sektor penerbangan, turunnya kepercayaan wisatawan, serta perubahan operasi maskapai membuat arus perjalanan internasional di Timur Tengah dan sekitarnya mulai terganggu.
Peringatan ini muncul ketika maskapai dunia mulai membatalkan penerbangan, pemerintah mengeluarkan peringatan perjalanan, dan jaringan penerbangan internasional harus mengalihkan rute pesawat dari wilayah udara yang dinilai tidak aman di sekitar Iran dan kawasan Teluk.
Berdasarkan laporan analis penerbangan global dan media seperti Financial Times, situasi ini berpotensi menjadi salah satu gangguan geopolitik terbesar terhadap perjalanan internasional sejak pandemi COVID-19.
Timur Tengah memiliki posisi strategis dalam jaringan penerbangan global karena menjadi penghubung utama antara Eropa, Asia, Afrika, dan Australia.
Data WTTC menunjukkan kawasan ini menyumbang sekitar 5 persen kedatangan wisatawan internasional dunia serta 14 persen lalu lintas transit global.
Bandara besar seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Bahrain melayani sekitar 526 ribu penumpang setiap hari, menghubungkan ratusan rute jarak jauh di seluruh dunia.
Namun meningkatnya konflik Iran membuat sejumlah wilayah udara ditutup sementara atau dibatasi karena alasan keamanan. Akibatnya, banyak penerbangan harus memutar rute untuk menghindari zona konflik.
Beberapa penerbangan antara Eropa dan Asia bahkan harus menempuh perjalanan beberapa jam lebih lama dari biasanya.
Sejumlah maskapai internasional mulai menangguhkan atau mengurangi layanan penerbangan ke kawasan Timur Tengah.
Maskapai besar Eropa seperti Lufthansa, Air France, dan British Airways dilaporkan membatalkan atau mengurangi jadwal penerbangan ke beberapa destinasi di kawasan tersebut.
Sementara maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways terpaksa mengalihkan rute pesawat untuk menghindari wilayah udara sensitif.
Gangguan ini juga berdampak pada rute jarak jauh antara Eropa dan Australia yang biasanya menggunakan bandara hub di kawasan Teluk sebagai titik transit utama.
Maskapai melaporkan berbagai dampak operasional seperti:
Efek domino dari gangguan ini juga dirasakan oleh bandara, jadwal pesawat, rotasi kru, hingga perjalanan penumpang di seluruh dunia.
Sebelum konflik meningkat, WTTC memprediksi tahun 2026 akan menjadi tahun yang kuat bagi pariwisata Timur Tengah.
Belanja wisatawan internasional di kawasan ini diperkirakan mencapai sekitar 207 miliar dolar AS.
Namun dengan kerugian yang kini mencapai sekitar 600 juta dolar per hari, gangguan singkat saja bisa menghapus miliaran dolar aktivitas ekonomi.
Kerugian ini tidak hanya dirasakan maskapai, tetapi juga seluruh ekosistem pariwisata, termasuk:
Bagi destinasi yang sangat bergantung pada wisatawan internasional, kondisi ini bisa berdampak langsung pada lapangan kerja dan stabilitas ekonomi.
Presiden dan CEO WTTC, Gloria Guevara, mengatakan sektor pariwisata memang biasanya menjadi industri pertama yang merasakan dampak dari ketegangan geopolitik.
“Pariwisata sering menjadi sektor pertama yang terdampak konflik geopolitik, tetapi juga salah satu yang paling tangguh untuk pulih,” kata Guevara.
Ia menjelaskan bahwa belanja wisatawan internasional di Timur Tengah rata-rata mencapai 600 juta dolar per hari, sehingga gangguan singkat sekalipun bisa segera menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi destinasi, pelaku usaha, dan pekerja di sektor tersebut.
Meski demikian, ia menilai industri perjalanan global memiliki kemampuan kuat untuk pulih setelah krisis keamanan.
Gangguan penerbangan ini juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasar energi global.
Ketegangan di sekitar Strait of Hormuz menjadi perhatian utama karena sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melewati jalur laut tersebut.
Jika jalur ini terganggu, harga minyak global berpotensi melonjak. Bagi maskapai penerbangan, kenaikan harga bahan bakar merupakan salah satu faktor biaya terbesar.
Dampaknya bisa berupa:
Selain gangguan operasional, konflik juga mulai memengaruhi kepercayaan wisatawan.
Data awal pemesanan perjalanan menunjukkan beberapa destinasi di kawasan Teluk mulai mengalami penurunan pemesanan hotel dan tiket perjalanan.
Bagi negara yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, bahkan periode ketidakpastian yang singkat bisa berdampak signifikan pada jumlah kunjungan wisatawan.
(*)