Tidak Ada Revisi Seruan Nyepi Idul Fitri, Sukahet Minta 5 Pecalang Berjaga Saat Takbiran 
Ida Ayu Suryantini Putri March 11, 2026 08:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet hadiri Rapat Koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama yang berlangsung di Ruang Tamu Gubernur Bali, Rabu 11 Maret 2026.

Ditemui usai Rapat, Sukahet mengatakan tidak ada revisian untuk seruan bersama Nyepi dan Idul Fitri. 

“Tidak ada revisian, ini kan Idul Fitrinya kan belum jelas. Karena nanti yang Muhammadiyah sudah jelas tanggal 20 Maret 2026, sedangkan NU kan belum,” jelas, Sukahet. 

Baca juga: Nyepi dan Idul Fitri, Awas Provokasi Medsos, Data Seluler dan Siaran Lokal Mati, WiFi Tetap Menyala

Lebih lanjutnya, Sukahet mengatakan pelaksanaan Idul Fitri masih menanti sidang isbat.

Ia juga menjelaskan bahwa tak hanya hari raya Idul Fitri yang sering berbarengan dengan Nyepi, beberapa kali perayaan lain seperti Jumatan dan hari raya umat lainnya acap kali berbarengan terjadi. 

“Ini seruan bersama, itu selalu copy-paste sejak dulu begitu. Ya, berjalan dengan sangat baik. Nyepi tidak terganggu. Ya, Idul Fitri bisa berjalan. Kalau harus takbiran, misalnya takbirannya di rumah masing-masing berjalan kaki."

Baca juga: Ratusan WBP Diusulkan Terima Remisi Hari Raya, Remisi Khusus Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri 2026

"Kalau memang kalau ada musolahnya terdekat, berjalan dia ke mushola, waktunya terbatas, 3-4 jam, terus balik lagi,” bebernya. 

Karena jumlah penduduk sentuh angka 4 juta, diakuinya pasti ada pelanggar Nyepi yang bukan hanya dilakukan oleh umat lain saja namun juga oleh umat Hindu, Bali.  

Untuk para pelanggar nanti telah disepakati, akan dibina dengan persuasif dan humanis. 

Baca juga: Kadis Kominfos Denpasar: Data Seluler dan Siaran Lokal Mati Saat Nyepi, WiFi Tetap Menyala

Takbiran saat Nyepi ditegaskan tetap diperbolehkan dengan berjalan ke mushola dan masjid yang terdekat, kalau tidak ditemukan mushola atau masjid terdekat dapat dilakukan di rumah masing-masing.

Tanpa pengeras suara, kemudian lampu ke dalam dan pada jam tertentu. 

“Yang penting sudah ada jaminan dari majelis-majelis agama. Dari NU, dari Muhammadiyah, MUI. Bahwa beliau-beliau itu, umat Islam juga merasa memiliki Bali."

Baca juga: Jaga Kekhusyukan Nyepi, Denpasar Bali Larang Petasan dan Miras, Sanksi Menunggu Bagi Pelanggar

"Merasa juga akan menjaga sakralnya Nyepi. Bagi Bali, bagi Indonesia. Dan Bali ini sudah, nyepi ini sudah dikenal dunia. Dipertahankan juga, bukan oleh kerama Bali sendiri. Seluruh umat, baik Kristen, Buddha, Konghucu, Katolik, Islam ikut menjaga itu."

"Karena keharmonisan, saling menghormati diantara kita umat Hindu ini.

Masing-masing desa adat nanti diminta mengerahkan pecalang untuk mengawal takbiran saat Nyepi sejumlah tiga hingga lima orang. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.