TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK – Suasana haru menyelimuti halaman Masjid Jami’ Nur Ikhlas, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Selasa (10/3/2026) malam.
Di sela rangkaian Safari Ramadan Plt Gubernur Riau, dua keluarga yang ditinggalkan pencari nafkah menerima santunan jaminan kematian dari BPJS Ketenagakerjaan dengan total nilai Rp147 juta.
Penyerahan santunan dilakukan secara simbolis di hadapan jamaah dan tokoh masyarakat.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh dalam kegiatan Safari Ramadan yang dihadiri Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, bersama Bupati Siak Afni Zulkifli.
Dua ahli waris yang menerima santunan tersebut adalah Nurhayati, ibu dari almarhum Mahardiansyah Z, serta Suryah, istri almarhum Raimin.
Nurhayati tampak menahan haru saat menerima santunan Jaminan Kematian sebesar Rp42 juta untuk almarhum anaknya.
Almarhum yang semasa hidup bekerja sebagai perangkat kampung non-ASN di Kampung Pinang Sebatang, Kecamatan Tualang.
Dengan mata berkaca-kaca, perempuan paruh baya itu mengaku bersyukur karena bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarganya.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Walaupun anak saya sudah tiada, bantuan ini sangat membantu keluarga kami untuk melanjutkan hidup,” ujar Nurhayati.
Ia mengatakan santunan tersebut rencananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Saya ingin gunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Semoga ini menjadi berkah bagi keluarga kami,” tambahnya.
Rasa haru juga dirasakan Suryah, istri almarhum Raimin yang semasa hidup bekerja sebagai tenaga non-ASN di SMP Negeri 2 Tualang.
Suryah menerima santunan Jaminan Kematian Rp42 juta serta beasiswa pendidikan bagi anak sebesar Rp63 juta. Total bantuan yang diterima mencapai Rp105 juta.
Ia mengaku tidak menyangka keluarganya akan mendapatkan perhatian sebesar itu.
“Terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Ketenagakerjaan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama untuk masa depan anak-anak saya,” ungkap Suryah dengan suara bergetar.
Menurutnya, beasiswa tersebut akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memastikan pendidikan anaknya tetap berjalan meskipun sang ayah telah tiada.
“Yang paling penting bagi saya sekarang adalah pendidikan anak. Saya ingin mereka tetap sekolah sampai setinggi mungkin,” katanya.
Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Siak Mahyu Pauzi menjelaskan, penyerahan santunan tersebut merupakan bagian dari komitmen negara dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja. Termasuk pekerja non-ASN di daerah.
Ia mengatakan kegiatan simbolis ini juga menjadi bukti nyata hadirnya program jaminan sosial ketenagakerjaan bagi masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk memberikan layanan maksimal bagi para pekerja yang sudah terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Mahyu.
Ia menambahkan, perlindungan bagi pekerja tidak hanya mencakup santunan kematian. Ada berbagai program lain yang bertujuan melindungi pekerja dan keluarganya dari risiko sosial ekonomi.
“Program perlindungan ini mencakup Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). JKK melindungi pekerja sejak berangkat kerja hingga pulang, sementara JKM memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan, bahkan disertai beasiswa pendidikan bagi anak pekerja,” terangnya.
Ia menjelaskan, BPJS Ketenagakerjaan menyediakan 5 program jaminan sosial utama untuk melindungi pekerja. Kelimanya adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
“Program ini mencakup perlindungan risiko kerja, santunan tunai, hingga beasiswa pendidikan,” ujar Mahyu.
Ia juga mengingatkan masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk aktif menginformasikan program BPJS Ketenagakerjaan kepada para pekerja dan keluarganya. Ia berharap agar manfaat perlindungan tersebut dapat dirasakan secara maksimal.
Sementara itu, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menegaskan penyerahan santunan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam melindungi masyarakat, khususnya para pekerja dan keluarganya.
Menurutnya, program jaminan sosial ketenagakerjaan harus terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang terlindungi dari risiko ekonomi ketika terjadi musibah.
“Bantuan ini bukan sekadar angka, tetapi bentuk kepedulian negara kepada keluarga pekerja yang ditinggalkan. Kita ingin memastikan bahwa keluarga mereka tetap memiliki harapan dan masa depan,” ujarnya.
Ia juga menekankan, Safari Ramadan bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan sarana pemerintah untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Sekaligus memastikan berbagai program bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.
“Melalui kegiatan seperti ini kita bisa melihat langsung kondisi masyarakat, sekaligus memastikan bantuan sosial dan perlindungan bagi pekerja berjalan dengan baik,” tutupnya. (tribunpekanbaru.com/mayonal putra)