- Drone yang diduga milik Iran menghantam sedikitnya tiga kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu malam, melanjutkan rangkaian serangan yang telah melumpuhkan lalu lintas di jalur pelayaran vital dunia itu.
Serangan terjadi meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran.
Pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada CBS News bahwa Iran kemungkinan sedang bersiap menyebarkan ranjau laut di Selat Hormuz.
Pentagon juga menyatakan bahwa militer AS telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau di dekat jalur laut strategis tersebut.
Sementara itu, drone menghantam Bandara Dubai pada malam hari dan melukai empat orang, menurut keterangan pemerintah setempat.
Meski demikian, bandara yang menjadi salah satu pusat penerbangan terbesar dunia itu dilaporkan masih tetap beroperasi.
Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat drone dan rudal Iran, sementara Teheran memperingatkan bahwa mereka akan mulai menargetkan bank-bank di Timur Tengah yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat.
Pentagon pada Selasa menyebutkan sekitar 140 personel militer AS terluka dalam 10 hari pertama perang dengan Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Amerika Serikat bersama Israel sedang “memenangi perang” dan dengan cepat mencapai tujuan militernya.
UEA Klaim Cegat Serangan Baru Rudal dan Drone Iran
Uni Emirat Arab mengatakan pihaknya kembali mencegat gelombang baru rudal dan drone Iran pada Rabu pagi.
“Pertahanan udara UEA saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone yang berasal dari Iran,” kata Kementerian Pertahanan negara itu melalui unggahan di media sosial.
Ledakan yang terdengar di berbagai wilayah negara tersebut disebut sebagai hasil pencegatan rudal balistik oleh sistem pertahanan udara serta intersepsi drone oleh jet tempur.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, UEA telah berulang kali dihantam serangan drone dan rudal Iran.
Sejumlah sumber juga mengatakan kepada CBS News bahwa Gedung Putih menyadari sekutu Amerika di Teluk mulai kehabisan rudal pencegat, sehingga mereka terpaksa memilih objek mana yang harus ditembak jatuh dan mana yang tidak.
Pada 5 Maret, CBS News melaporkan bahwa negara-negara Teluk meminta Amerika Serikat mempercepat pengiriman stok rudal pencegat karena persediaan mereka semakin menipis.
Washington disebut telah membentuk satuan tugas untuk memasok kembali persenjataan tersebut, namun prosesnya dinilai belum cukup cepat.
(*)
# iran # Selat Hormuz # dubai # amerika serikat # donald trump