Kisah di Balik Tradisi Tumbilotohe Gorontalo: Titin Dama Lanjutkan Bisnis Lampu Botol Warisan Ayah 
Fadri Kidjab March 11, 2026 09:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Deretan lampu botol tersusun rapi di sebuah lapak sederhana di Jalan Samratulangi, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. 

Botol-botol kaca yang telah dipasangi sumbu tampak berjajar di atas meja, menunggu pembeli.

Di balik lapak itu, seorang perempuan muda sibuk merapikan dagangannya. 

Ia adalah Titin Dama (26), warga Jalan Taman Surya, Kelurahan Dembe Jaya, Kecamatan Kota Utara.

Sore itu, Rabu (11/3/2026), suasana di lapaknya masih cukup lengang. Belum banyak warga yang datang membeli lampu botol, namun Titin tetap setia menjaga lapaknya sejak pagi. Ia biasanya mulai berjualan pukul 07.00 Wita hingga menjelang Magrib.

Bagi Titin, berjualan lampu botol bukan hal baru. Aktivitas ini sudah ia jalani sejak kecil.

“Dulu waktu masih kecil saya sudah ikut ayah berjualan di Pasar Sentral,” ujarnya.

Sejak usia lima tahun, ia kerap diajak sang ayah berjualan lampu botol di kawasan Pasar Sentral Gorontalo. Usaha yang kini ia jalani merupakan warisan ayahnya.

“Dulu ayah yang merakit sendiri lampu-lampu ini, kemudian mengajak saya berjualan,” katanya.

Kini, setiap Ramadan, Titin kembali membuka lapak lampu botol. 

Tahun ini ia mulai berjualan sekitar dua minggu sebelum puasa. Menurutnya, pembeli biasanya ramai menjelang tradisi Tumbilotohe, yakni kebiasaan masyarakat Gorontalo menyalakan lampu minyak pada tiga malam terakhir Ramadan.

Lampu-lampu tersebut biasanya dipasang di halaman rumah, pinggir jalan, hingga di sekitar masjid.

“Kalau sudah mendekati hari Tumbilotohe biasanya mulai ramai yang cari lampu,” jelasnya.

Di lapaknya, lampu botol dijual seharga Rp1.000 per botol. Sumbu lampu dijual Rp10.000 per ikat (isi 10 sumbu), sedangkan minyak tanah Rp15.000 untuk ukuran kecil dan Rp35.000 untuk ukuran besar.

Dalam menjalankan usaha ini, Titin sering berjualan sendirian. Namun untuk merakit lampu ia dibantu suaminya.

“Suami juga membantu merakit lampu, jadi lampu botolnya saja yang kami cari,” ujarnya.

Penjual lampu botol mulai terlihat di bahu jalan
TRADISI TUMBILOTOHE – Penjual lampu botol mulai terlihat di bahu jalan Kota Gorontalo, Rabu (11/3/2026). Titin Dama melanjutkan bisnis warisan ayah.

Di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, Titin tetap menyempatkan diri menjaga lapaknya setiap hari selama Ramadan. Usaha ini, menurutnya, cukup membantu menambah penghasilan keluarga.

“Alhamdulillah lumayan membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Cuaca sering menjadi kendala, terutama saat hujan.

“Kalau hujan harus cepat ditutup supaya lampu tidak basah, apalagi lapak saya hanya beralaskan terpal,” ujarnya.

Titin berharap tradisi menyalakan lampu botol saat Ramadan tetap dipertahankan masyarakat Gorontalo. 

Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga tradisi warisan ayahnya.

“Harapannya semoga tradisi ini tetap ada di Gorontalo supaya lampu-lampu seperti ini masih dipakai,” tuturnya.

Sore itu, Titin kembali duduk di balik lapaknya. Lampu-lampu botol yang berjajar rapi menunggu waktunya menyala, menerangi malam Ramadan sekaligus menjaga cahaya tradisi Gorontalo yang diwariskan turun-temurun. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.