Mahasiswa Asal Bekasi di Iran Ceritakan Kondisi Sebenarnya di Teheran: Seperti Tidak Ada Perang
Joseph Wesly March 11, 2026 09:50 PM

 

Laporan Muhammad Azzam

TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI- Seorang mahasiswa Warga Negara Indonesia (WNI), Muhammad Jawad (26), menjadi bagian dari rombongan WNI yang dipulangkan pemerintah dari Iran ke Indonesia pada Selasa (10/3/2026) sore.

Jawad bersama istrinya, Zainab Alkubro (26), berhasil kembali ke Tanah Air setelah dievakuasi bersama 32 WNI lainnya di tengah situasi konflik yang terjadi di Iran.

Saat diwawancarai Tribun Bekasi (Warta Kota Network) melalui sambungan Zoom, Jawad menceritakan proses hingga dirinya akhirnya mengikuti program evakuasi pemerintah.

Awalnya Sudah Berencana Pulang

Ia mengungkapkan, sebenarnya dirinya dan sang istri telah merencanakan kepulangan ke Indonesia sejak jauh hari, tepatnya pada 3 Maret 2026, menuju kediamannya di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Namun rencana tersebut berubah setelah konflik pecah pada 28 Februari 2026 menyusul serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Situasi tersebut berdampak pada penutupan jalur penerbangan sehingga maskapai membatalkan perjalanan yang telah dijadwalkan.

“Jadi sebetulnya saya ikut dievakuasi bukan karena takut atau bagaimana. Memang saya dan istri sudah ada rencana pulang, tapi penerbangannya dibatalkan,” ujar Jawad.

Ikut Evakuasi Setelah Ada Informasi KBRI

Sehingga, kata Jawad, ketika adanya informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran rencana pemerintah hendak melakukan evakuasi WNI di Iran.

Akhirnya, ia dan istri mengisi formulir yang disampaikan KBRI.

"Dan alhamdulillah kemarin kami sampai di tanah air," beber dia.

Suasana di Iran Disebut Tetap Normal

Jawad juga mengungkapkan dia kuliah di Al Mustafa International University di Kota Mashhad di Iran.

Dia sudah berada di Iran sejak tahun 2017 mengambil strata 1 atau S1 jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Kuliah S1-nya juga sudah rampung dan saat ini tengah menunggu pendaftaran untuk lanjut S2.

Sedangkan, istrinya menemaninya di Iran sambil mengambil kelas bebas atau non-akademis.

Dia mengungkapkan, semenjak perang pecah tidak ada perubahan suasana di tempat tinggalnya.

Apalagi tempat tinggalnya cukup jauh dari Teheran yang merupakan daerah yang menjadi sasaran Amerika dan Israel.

"Selama di sana normal saja, sampai wafatnya Ali Khamenei pemerintah Iran umumkan libur nasional karena masa berkabung selama 7 hari," beber dia.

Adanya libur nasional tersebut membuat suasana di kota tempat tinggal sepi karena banyak pertokoan dan perkantoran tutup, termasuk kampus.

Akan tetapi, aktivitas masyarakat masih normal untuk keluar rumah membeli kebutuhan sehari-hari.

"Dan bahkan dari informasi teman saya, di Teheran yang menjadi sasaran serangan juga normal seperti biasa," ucapnya.

Perjalanan Aman hingga Teheran

Oleh karena itu, Jawad tidak secara langsung melihat serangan atau rudal-rudal yang dikirim Israel ke Iran seperti di Teheran.

Ketika perjalanan dari tempat tinggalnya di Mashhad menuju ke KBRI di Teheran menggunakan kereta api selama 10-12 jam, kondisinya aman, lancar dan tidak ada suara ledakan.

Akan tetapi, ketika berada di KBRI di Teheran saat pengarahan barulah mendengarkan suara ledakan beberapa kali.

Ledakan terjadi akibat halauan rudal Israel oleh sistem keamanan di Iran.

"Selebih itu saya tidak pernah mendengar suara ledakan, karena kondisinya normal seperti tidak ada perang," kata dia.

Salut Nasionalisme Warga Iran

Terakhir, Jawad mengaku salut atas rasa nasionalisme warga Iran, termasuk kepercayaan warga terhadap pemimpin tertingginya.

Sehingga, warga Iran disebut sangat mendukung pemerintah yang melakukan serangan balasan kepada Amerika dan Israel.

"Saya melihat dari masyarakatnya, mereka memang memiliki 100 persen kepercayaan kepada pemimpinnya, pada para militernya. Jadi apapun yang terjadi mereka selalu mendukung atas apa yang dilaksanakan oleh pejabat-pejabat negara, militer dan sebagainya," tandasnya. (MAZ)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.