Jeritan Pedagang Daging di Sorong: Sudah Stok Langka, Terhimpit Penjual Online
Petrus Bolly Lamak March 19, 2026 01:31 PM

TRIBUNSORONG.COM, SORONG - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, para pedagang daging sapi di Pasar Sentral Remu, Kota Sorong, Papua Barat Daya, mulai mengeluhkan kondisi pasar yang kian sulit.

Selain pasokan sapi yang menipis, mereka kini harus berhadapan dengan gempuran penjual daging daring (online) yang dianggap merusak harga pasar.

Baca juga: Arus Mudik Membludak, 18 Ribu Penumpang Tinggalkan Sorong via Bandara Internasional DEO Sorong

Salah satu pedagang di Pasar Remu mengungkapkan bahwa pasokan sapi dari wilayah Seram yang biasanya menjadi tumpuan stok Lebaran saat ini mengalami kekosongan.

Jika pun tersedia, harga beli dari tingkat peternak sudah melonjak tajam.

"Biasanya menjelang Lebaran pasokan dari Seram itu melimpah, tapi sekarang kosong. Kalaupun ada, harganya sudah tinggi, sehingga otomatis harga jual daging di pasar ikut naik," ujarnya kepada TribunSorong.com, Rabu (18/3/2026).

Saat ini, harga daging sapi di Pasar Remu rata-rata dibanderol Rp150 ribu per kilogram.

Melambungnya harga ini dipicu oleh rantai biaya operasional yang panjang.

Pedagang harus merogoh kocek untuk transportasi sapi sebesar Rp250 ribu per ekor, biaya pemotongan Rp80.000, hingga biaya distribusi sekitar Rp100 ribu belum termasuk pajak dan retribusi pasar.

Baca juga: Pemkab Sorong Selatan Gelontorkan 300 Paket Sembako Gratis Jelang Lebaran

Persaingan dengan penjual online selain masalah stok, pedagang pasar merasa terjepit oleh maraknya penjualan daging via media sosial.

Mereka menilai penjual online memiliki keuntungan yang tidak adil karena tidak terbebani biaya retribusi pasar maupun pajak resmi.

“Kami jualan resmi dan bayar retribusi. Sementara yang online itu tidak jelas (regulasinya), tapi bisa jual lebih murah. Ini yang membuat kami sulit bersaing,” keluhnya.

Ia juga menyoroti masalah keamanan pangan dan legalitas asal daging tersebut.

Mengingat maraknya kasus pencurian ternak, pedagang berharap pemerintah melalui instansi terkait segera melakukan penertiban.

"Kita tidak tahu asal dagingnya dari mana. Sering ada kejadian sapi hilang, tahu-tahu tinggal kepalanya saja. Ini perlu diawasi supaya konsumen aman dan persaingan tetap sehat," pungkasnya. (tribunsorong.com/ismail saleh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.