TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Hasil interogasi kepolisian terhadap AG (56), pria asal Banjarmasin dan pemilik koper berisikan sabu 785,71 gara ini nekat jadi kurir sabu karena terlilit utang ratusan juta rupiah akibat usaha kambing miliknya bangkrut.
“Yang bersangkutan (pemilik koper) ini bekerja swasta, dan dari keterangannya juga berwirausaha. Namun usaha ternak kambing yang dijalankan mengalami kegagalan total,” ungkap Kasat Resnarkoba Polres Tarakan, AKP Tegar Wida Saputra.
Bahkan, jumlah kerugian yang dialami tidak sedikit. Sekitar 1.200 ekor kambing miliknya dilaporkan setiap hari mati.
“Kurang lebih ada 1.200 ekor kambing yang mati, bahkan hampir setiap hari ada yang mati. Dari situ utangnya menumpuk hingga sekitar Rp300 juta,” jelas AKP Tegar Wida Saputra.
Baca juga: Pemilik Koper Sabu 785,71 Gram Terancam 20 Tahun Penjara, Kapolres Tarakan: 3.928 Jiwa Diselamatkan
Tekanan ekonomi itulah yang membuat AG nekat menerima pekerjaan sebagai kurir sabu, meski ia mengaku tidak mengenal jaringan narkoba yang merekrutnya.
Saat ini, AG telah resmi berstatus tersangka dan ditahan di Mako Polres Tarakan. Penyidik masih terus melakukan pengembangan terhadap jaringan di balik kasus tersebut.
“Untuk yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Kami masih melakukan pengembangan, termasuk menelusuri pihak yang menghubungi melalui nomor handphone,” tambahnya.
Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui pelaku hanya berkomunikasi dengan seseorang melalui telepon tanpa mengetahui identitas jelas.
Barang haram tersebut disembunyikan dengan rapi di dalam koper, termasuk dimasukkan ke dalam lapisan karet polkanisir serta ada juga disamarkan di dalam bungkus makanan ringan.
Baca juga: Terekam CCTV, Pemilik Koper Berisikan Sabu 785 Gram yang Diselundupkan dari Malaysia Terungkap
Tiga paket sabu tersebut dikemas. Pertama,berisi 172,75 gram, kedua berisi 308,61 gram dan paket ketiga berisi sabu 304,35 gram.
Kemudian modusnya, koper diisi lapisan bernama karet polkanisir. Karet polkanisir ini dijadikan alas untuk pakaian.
Namun di dalamnya ada sela.
Di dalam itulah disimpan barang bukti sabu 172,75 gram. Kemudian dua paket lainnya, dikemas di dalam snack. Sehingga posisi koper diisi lapisan karet polkanisir. Kemudian ditimpa pakaian kotor dan di atasnya ada snack. Snack berbungkus kemasan warna ungu dan di dalam dua snack berisi dua paket lainnya.
" Itu dicurigai pertama oleh Bea Cukai Tarakan. Kenapa di dalam koper harus ada karet jadi pelapis. Kemudian ada selanya berwarna merah dan dicek," ujarnya.
Kemudian lanjutnya penjelasan AG, sama sekali tidak tahu isi koper. AG membuka hanya memasukkan baju kotor
“Posisinya di dalam koper ada pakaian, kemudian di bagian bawah ada karet, dan di dalam karet itu disimpan sabu. Ada juga yang dimasukkan dalam bungkus snack,” bebernya.
Menariknya, pelaku mengaku tidak mengetahui isi koper tersebut. Ia hanya diminta mengambil koper di wilayah Tawau dan memasukkan pakaannya ke dalam koper tersebut.
“Dia mengaku hanya disuruh ambil koper di dekat hotel tempat dia menginap, lalu diminta memasukkan baju kotor saja ke dalam koper,” jelasnya.
Diketahui, perjalanan pelaku cukup panjang. Ia berangkat dari Banjarmasin menuju Kuala Lumpur, lalu ke Kota Kinabalu, dan akhirnya ke Tawau sebelum menuju Tarakan.
“Pelaku standby di Tawau sejak 11 Maret dan baru berangkat ke Tarakan 13 Maret,” ujarnya.
Namun saat tiba di Tarakan, pelaku justru meninggalkan koper tersebut karena merasa curiga.
“Pengakuannya, karena perasaannya tidak enak, jadi koper itu sengaja ditinggalkan saat masuk pemeriksaan X-ray,” katanya.
Padahal, sebelumnya pelaku sudah dibelikan tiket tujuan Jakarta oleh jaringan. Namun karena merasa tidak nyaman, ia justru membeli tiket sendiri untuk melanjutkan perjalanan.
Bahkan, dari Tarakan pelaku diketahui telah membeli tiket lanjutan ke Balikpapan.
“Dia rencananya akan melanjutkan perjalanan ke Balikpapan sambil menunggu instruksi berikutnya,” tambahnya.
Kasus ini juga mengungkap bahwa aksi tersebut diduga bukan yang pertama kali dilakukan pelaku.
“Menurut pengakuannya, ini sudah yang ketiga kali. Sebelumnya dia selalu bersama temannya, namun kali ini berangkat sendiri,” jelasnya.
Hingga kini, polisi masih mendalami jaringan yang terlibat, termasuk asal barang dari Tawau serta tujuan akhir peredaran narkotika tersebut.
Sementara untuk memastikan kandungan barang bukti, sabu tersebut akan kembali diuji di laboratorium forensik.
“Kami akan bawa ke lab untuk memastikan kandungannya, meskipun sebelumnya sudah diuji dan positif mengandung metamfetamin,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah