Warga Muhammadiyah Khusyuk Laksanakan Salat Id di Masjid At Taqwa Unimus Semarang
Rustam Aji March 20, 2026 09:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Muhammadiyah Kota Semarang melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026).

Pantauan Tribun Jateng di Masjid At Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah, yang terletak di komplek Universitas Muhammadiyah Semarang, jalan Kedungmundu Raya sejak pukul 06.00 WIB, jemaah datang berbondong-bondong, baik dengan berjalan kaki, sepeda motor, maupun mobil yang terparkir di tepi jalan.

Area masjid hingga ruas jalan di sekitarnya tampak dipenuhi jemaah yang menggelar tikar.

Salat Id dimulai pukul 06.27 WIB dan berlangsung khusyuk. Jemaah mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib, larut dalam momen kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.

Bertindak sebagai imam dan khatib, Dr H Kamadi Hasan bersama dr S Adjie Prayogo menyampaikan khutbah yang menekankan pentingnya sikap rendah hati dalam kehidupan. Mengutip hadis riwayat Muslim, khatib menyampaikan bahwa siapa yang memaafkan akan ditambah kemuliaannya oleh Allah, dan orang yang rendah hati akan ditinggikan derajatnya.

Selain itu, khutbah juga mengingatkan pentingnya menjaga tutur kata yang baik serta memberi maaf dengan tulus. Sikap tersebut dinilai lebih utama, mengingat Allah Maha Kaya dan Maha Mengetahui setiap amal manusia.

Dalam konteks kekinian, khatib turut menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang memudahkan arus informasi, namun juga berpotensi menghadirkan manipulasi. Jemaah diimbau untuk bersikap kritis dan melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima, sejalan dengan ajaran Al-Qur’an tentang tabayyun.

Baca juga: BREAKING NEWS - Ledakan Maut Guncang Tambakrejo Semarang: Bocah SD Tewas, Dua Penghuni Luka-luka

Di sisi itu, isu etika akademik juga menjadi perhatian, khususnya terkait orisinalitas karya di tengah kemajuan teknologi. Khatib menegaskan jika idealisme dan kejujuran harus tetap dijaga, dengan tujuan utama kehidupan adalah meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Di bidang pendidikan, khutbah menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pembentukan moral dan akhlak. Nilai-nilai tersebut dinilai penting dalam membangun generasi yang berintegritas di tengah tantangan zaman.

Pelaksanaan Salat Id di Masjid At Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah berlangsung lancar dan khidmat. Pelaksanaan salat id tahun menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat keimanan sekaligus refleksi diri.

Satu di antara jemaah, Ratna Kumalasari (34), warga Sendangmulyo, Kota Semarang mengaku datang bersama keluarga untuk menunaikan Salat Id. Ia hadir bersama suami dan anaknya sebagai bagian dari tradisi tahunan keluarga.

"Ini sudah menjadi rutinitas setiap tahun. Kami selalu berusaha melaksanakan Salat Id bersama keluarga," ungkap Ratna seusai menjalankan salat Id.

Ratna memaknai Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk kembali ke fitrah dan memperbaiki diri ke depan. Ia berharap dapat kembali dipertemukan dengan Ramadan di masa mendatang dalam kondisi yang lebih baik.

"Semoga Idul Fitri tahun ini membawa berkah bagi semua umat muslim Indonesia dan seluruh Indonesia," ucapnya.

Ratna menambahkan, usai melaksanakan salat, ia dan keluarga memiliki sejumlah tradisi yang rutin dilakukan. Ia mengungkapkan, momen sungkeman menjadi hal yang paling penting untuk saling memaafkan antaranggota keluarga.

"Biasanya setelah pulang, kami sungkeman, lalu foto bersama. Setelah itu dilanjutkan halal bihalal dengan mengunjungi keluarga," tuturnya.

Sementara momen yang paling dinantikan saat Idul Fitri, menurutnya adalah berkumpul bersama keluarga besar.

"Yang paling ditunggu tentu bisa berkumpul dengan keluarga besar," imbuhnya semringah.

Antusiasme warga juga terlihat dari kehadiran mereka di kawasan masjid, termasuk yang tidak mengikuti salat. Laras (22), warga Semarang, mengaku tetap datang untuk mengantar keluarganya sekaligus merasakan suasana Idul Fitri.

Baca juga: Hadirkan Khatib PP Muhammadiyah, PCM Baturraden Laksanakan Salat Id Idul Fitri 2026 di Desa Rempoah

"Alhamdulillah, walaupun (penetapan) antara pemerintah dan Muhammadiyah agak beda ya, cuma kan memang vibes-nya itu kembali lagi ya. Setiap lebaran kita pasti punya momen sendiri, bareng keluarga, kumpul, mudik, ribetnya dan lain sebagainya itu menyenangkan," ucapnya.

Ia mengatakan, dinamika selama Ramadan hingga Lebaran menjadi pengalaman yang selalu dirindukan, mulai dari ibadah bersama hingga aktivitas yang padat namun memberikan banyak makna.

Laras mengaku pada Idul Fitri tahun ini dirinya tidak melaksanakan salat, namun tetap turut serta mengantar keluarga ke lokasi. Ia datang bersama tiga anggota keluarganya.

"Biasanya memang kami sekeluarga salat di sini sejak beberapa tahun terakhir, terutama sejak masa pandemi. Jadi sudah seperti kebiasaan ikut Salat Id Muhammadiyah di kawasan Unimus," jelasnya.

Menurut Laras, makna Idul Fitri lebih terasa pada momen kebersamaan yang terjalin. Ia menilai, hari raya menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan, baik dengan keluarga maupun lingkungan sekitar.

Ia mengungkapkan, sebagian keluarganya merantau di Semarang. Tradisi Lebaran biasanya diawali dengan bersilaturahmi ke tetangga dan teman terdekat sebelum melaksanakan mudik.

"Kebetulan saya dan keluarga di sini merantau ya, jadi keluarga sendiri tidak ada yang saudara sedarah di daerah Semarang. Jadi kami fokus ke tetangga-tetangga dulu, ke tetangga dekat, teman-teman dan lain sebagainya. Kemudian langsung nanti mudiknya setelah lebaran dulu setelah keliling-keliling," imbuhnya. (idy)

Baca juga: PDM Cilacap Gelar Salat Idul Fitri 1447 H di 109 Lokasi

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.