Grid.ID – Suasana penuh kemenangan menyelimuti Plaza Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ciputat Timur, Tangerang Selatan pada Jumat (20/3/2026). Ratusan jamaah memadati area kampus untuk melaksanakan ibadah Salat Idul Fitri 1447 H dengan penuh khidmat.
Berdasarkan pantauan Grid.ID di lokasi, arus jamaah mulai berdatangan sejak sekitar pukul 06.00 WIB. Meskipun terdapat perbedaan waktu penetapan 1 Syawal dengan pemerintah, antusiasme warga Muhammadiyah tetap tinggi.
Saf demi saf tersusun rapi membentang panjang di bawah langit pagi yang cerah. Sinar matahari yang hangat seolah ikut menyambut hari kemenangan, menambah kental suasana kebersamaan antar jamaah yang hadir.

Dalam pelaksanaan Salat Id tahun ini, Teguh Agus Wahyuda, S.Pd. bertindak sebagai Imam, sementara khotbah Idul Fitri disampaikan oleh Dr. Imam Addaruqutni, M.A.
Dalam wawancara usai salat, Dr. Imam Addaruqutni menanggapi bijak terkait perbedaan hari raya yang kerap terjadi di Indonesia. Menurutnya, hal ini adalah fenomena biasa yang juga terjadi di belahan dunia lain.
"Saya kira pelaksanaan ini sudah tiap tahun, ya. Soal hari pun tahun ini juga termasuk selisih hari dengan keputusan pemerintah. Tapi di dunia Islam, di Timur Tengah juga hari ini. Kemudian Australia juga hari ini, juga di negara-negara di Amerika juga hari ini juga," kata Dr. Imam Addaruqutni.
Tak hanya soal perbedaan hari, ia juga menekankan bahwa momen Idul Fitri harus menjadi waktu bagi umat Islam untuk merefleksikan kepedulian sosial, terutama terhadap mereka yang kurang beruntung.
"Ramadan harus menuntut refleksi sosial nyata. Jadi refleksi sosial itu ada getaran-getaran sosial nyata. Apakah soal misalnya zakat, itu untuk perhatian kepada fakir miskin. Kita memiliki masyarakat yang meskipun ada tingkat kemakmuran, masyarakat miskin kita masih banyak," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyelipkan doa dan pesan persatuan bagi dunia Islam, khususnya bagi warga di Palestina yang tengah menghadapi ujian berat.
"Mudah-mudahan ini apa yang terjadi di saat ini, kaum umat Islam pas Idul Fitri ini, Iran juga lagi bagian dari dunia Islam yang sedang diuji. Mudah-mudahan umat Islam tetap bersatu, juga kesatuan untuk kebaikan Palestina," ucapnya.
Sebagai informasi, Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal.
Selain itu, Muhammadiyah kini juga menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang mengusung prinsip satu hari satu tanggal secara global untuk memberikan kepastian waktu bagi umat dalam beribadah dan beraktivitas.
Di sisi lain, Pemerintah melalui Kementerian Agama baru saja menggelar sidang isbat pada 19 Maret 2026 dan menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Kendati terdapat perbedaan, Dr. Imam Addaruqutni memastikan bahwa hal tersebut tidak mengurangi kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Ia juga menyebut bahwa Muhammadiyah akan menggelar silaturahmi besar dalam waktu dekat.
"Secara resmi Muhammadiyah ini juga mengadakan silaturahmi khusus. Silaturahmi Idul Fitri ini nanti beberapa hari lagi di sini (Jakarta) dan di kantor pusat di Jogja," pungkasnya.