Warga Muhammadiyah Sikka Shalat Idul Fitri di Masjid Jami Darussalam Waioti
Gordy Donovan March 20, 2026 09:39 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Cristin Adal

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Ratusan umat Muslim warga Muhammadiyah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Jami' Darussalam Waioti, Jumat (20/3/2026) pagi.

Pantauan di lokasi, suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan shalat yang dimulai sekitar pukul 07.00 WITA. 

Cuaca di wilayah Waioti terpantau cukup bersahabat, langit mendung tipis memayungi para jamaah yang  berada pelataran masjid.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sikka, Moh. Ihsan Wahab, yang bertindak sebagai khatib, mengusung tema "Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa" dalam khutbahnya.

Baca juga: Masjid Al Mujahidin Geliting Sikka Pawai Obor Sambut Idul Fitri

Lawan Korupsi

Dalam khutbahnya, Ihsan mengingatkan jamaah bahwa puasa adalah madrasah untuk melawan "gravitasi" materialisme yang seringkali menjerumuskan manusia pada perilaku tidak terpuji.

Ia secara tegas mengaitkan nilai puasa dengan jihad melawan korupsi dan krisis moral. Menurutnya, orang yang sukses berpuasa adalah mereka yang mampu menahan diri dari harta yang batil.

"Tindakan korup pasti merusak kesucian jiwa dan menghancurkan peradaban. Jihad kita saat ini adalah memperjuangkan kejujuran dan keadilan di tengah masyarakat," tegasnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.

Pesan Empati dan Kebersamaan

Di akhir pesannya, Ihsan mengajak warga untuk menjadikan kelembutan hati sebagai modal sosial membangun bangsa. Ia berharap Idul Fitri menjadi momentum untuk memperkuat keberpihakan kepada kaum yang lemah (mustad'afin).

"Jangan saling menzalimi, jangan ada lagi praktik 'menggunting dalam lipatan'. Mari kita jaga kebersamaan ini agar martabat bangsa tetap tinggi," pungkasnya.

Menghargai Perbedaan Metode

Ketua MUI Kabupaten Sikka ini juga menjelaskan bahwa perbedaan waktu perayaan Idul Fitri tahun ini semata-mata karena perbedaan metode penghitungan (hisab).

Meski demikian, ia menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak boleh mengurangi nilai ibadah dan persaudaraan antarumat Islam.

"Perayaan hari ini karena metode penghitungan, namun esensi dan tujuannya tetap sama. Kami juga mengajak seluruh umat yang merayakan hari ini untuk tetap menghargai saudara-saudara Muslim lainnya yang saat ini masih menjalankan ibadah puasa," ujar Ihsan usai pelaksanaan shalat Id, Jumat.

Pantauan di lokasi, usai shalat Id, warga tampak saling bermaaf-maafan dengan tertib. Suasana sejuk tanpa terik matahari menambah kehangatan silaturahmi warga di wilayah Waioti pagi ini. (TAN)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.