Laporan Wartawan TribunJatim.com, Misbahul Munir
TRIBUNJATIM.COM, BOJONEGORO - Parade Oklik Ramadan 2026 kembali digelar Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk menyemarakkan bulan yang suci sekaligus melestarikan budaya lokal.
Kegiatan tersebut berlangsung meriah di Alun-alun Bojonegoro, Kamis (19/3/2026) malam, dan menyedot perhatian masyarakat.
Baca juga: Pesan dari Mimbar Salat Id Muhammadiyah Jombang: Menjaga Alam adalah Bentuk Ibadah
Sebanyak 24 grup oklik ambil bagian dalam parade tahunan ini.
Denting ritmis alat musik bambu khas Bojonegoro tersebut menggema menyemarakkan malam 29 Ramadhan.
Kemeriahan semakin terasa dengan keterlibatan para siswa dari sekitar 50 lembaga pendidikan.
Mereka ikut dalam arak-arakan sambil membawa obor, berjalan mengelilingi pusat kota.
Tak kurang dari 1.100 obor dinyalakan dalam Pawai Obor Sewu.
Cahaya obor yang berkelap-kelip menciptakan pemandangan indah di sepanjang jalanan kota.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono mengatakan, Parade Oklik merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Menurut dia, oklik menjadi salah satu warisan budaya daerah selain thengul dan karawitan yang perlu terus dilestarikan.
"Parade oklik selalu kita adakan setiap tahun karena kita ingin memperkenalkan budaya daerah, terutama kepada generasi muda yang saat ini mulai banyak yang belum mengenal warisan budaya Bojonegoro," ujar Wahono.
Wahono menilai, oklik memiliki potensi besar untuk menjadi ikon budaya Bojonegoro di masa depan.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa hingga kecamatan, untuk turut aktif menjaga dan mengembangkan kesenian tersebut.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap tradisi oklik tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin dikenal luas dan menjadi kebanggaan daerah.
Sebagai informasi, oklik merupakan kesenian musik tradisional khas Bojonegoro yang berasal dari Desa Sobontoro, Kecamatan Balen.
Alat musik ini terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul, menghasilkan bunyi ritmis khas 'klik, klok, klik, klik, klok'.
Dalam perkembangannya, oklik kerap dipadukan dengan alat musik lain untuk memperkaya aransemen.
Secara historis, kesenian oklik bermula dari tradisi masyarakat yang digunakan untuk mengusir pagebluk atau wabah penyakit pada masa penjajahan Belanda.
Seiring waktu, oklik berkembang menjadi kesenian rakyat yang populer.
Oklik kerap ditampilkan dalam berbagai perayaan, seperti festival Ramadan, peringatan kemerdekaan, hingga agenda kebudayaan lainnya.
Kesenian ini juga telah diakui sebagai Kekayaan Intelektual Komunal berupa Ekspresi Budaya Tradisional oleh Kementerian Hukum dan HAM pada Agustus 2021.