Bacaan Injil Katolik Sabtu 21 Maret 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
Gordy Donovan March 20, 2026 11:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak bacaan injil katolik, Sabtu 21 Maret 2026.

Bacaan injil katolik lengkap renungan harian Katolik.

Sabtu 21 Maret 2026 merupakan hari Sabtu Pekan IV Prapaskah, Santo Noel Pinot, Martir, Santo Serapion, Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi katolik hari Sabtu 21 Maret 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Teks Misa Minggu 22 Maret 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

Bacaan Pertama Yer 11:18-20

Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku:

“Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!”

Tetapi, Tuhan semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 7:2-3.9bc-10.11-12
Ref. Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung.

Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku, dan lepaskanlah aku, supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.

Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.

Perisaiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

Bait Pengantar Injil: Luk 8:15
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Orang yang mendengarkan firman Tuhan, dan menyimpannya dalam hati yang baik, akan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Bacaan Injil Yoh 7:40-53

Sekali peristiwa Yesus mengajar di Yerusalem. Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” 

Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”

Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.

Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?”

Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya,

atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea?

Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Ketika Kebenaran Tidak Selalu Disambut"

Dalam perjalanan iman, kita sering membayangkan bahwa kebenaran akan selalu diterima dengan mudah. Kita berharap bahwa ketika seseorang menyampaikan sesuatu yang benar, semua orang akan langsung mengangguk setuju. Namun kenyataan hidup sering berbeda.

Kebenaran sering justru memunculkan perdebatan. Bahkan kebenaran yang berasal dari Tuhan pun bisa menimbulkan perpecahan di antara manusia.

Itulah yang terjadi dalam renungan Katolik hari ini yang diambil dari Injil Yohanes 7:40–53. Setelah Yesus mengajar di Yerusalem, orang banyak mulai berdebat tentang siapa Dia sebenarnya. Ada yang percaya bahwa Yesus adalah nabi, ada yang mengira Dia adalah Mesias, tetapi ada juga yang menolak-Nya.

Situasi ini menggambarkan sebuah realitas rohani yang sangat dalam: kehadiran Kristus selalu menuntut sebuah pilihan.

Tidak ada posisi netral di hadapan kebenaran.

Renungan harian Katolik ini mengajak kita untuk melihat bagaimana Sabda Tuhan bekerja di dalam hati manusia ada yang terbuka, ada yang ragu, ada pula yang menolak.

Baca juga panduan lengkap di Renungan Katolik Harian untuk memahami cara melakukan renungan setiap hari secara mendalam.

Keragaman Reaksi Manusia Terhadap Yesus
Ada yang Percaya

Injil mencatat bahwa sebagian orang berkata:

“Dia ini benar-benar nabi.”
Sebagian lainnya berkata:

“Dia ini Mesias.”
Orang-orang ini mendengarkan Yesus dengan hati terbuka. Mereka tidak langsung menolak. Mereka mencoba memahami apa yang mereka dengar dan lihat.

Dalam renungan Injil Yohanes 7:40–53, kita melihat bahwa iman sering dimulai dari keterbukaan sederhana: kemauan untuk mendengarkan.

Banyak orang datang kepada Yesus bukan dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan. Dan sering kali iman lahir dari pertanyaan yang jujur.

Dalam hidup kita pun demikian.

Sering kali Tuhan tidak menuntut kita langsung memiliki iman yang sempurna. Ia hanya meminta satu hal: hati yang mau mendengarkan.

Ada yang Meragukan
Namun tidak semua orang menerima Yesus dengan mudah.

Sebagian orang berkata:

“Mesias tidak datang dari Galilea!”
Mereka mengandalkan pengetahuan mereka tentang Kitab Suci dan tradisi. Mereka yakin bahwa Mesias harus datang dari Betlehem, dari keturunan Daud.

Secara teologis, mereka tidak sepenuhnya salah. Tetapi mereka juga tidak mau melihat kenyataan lebih dalam.

“Kesetiaan kepada Tuhan tidak bergantung pada penerimaan manusia.”
Mereka menilai Yesus hanya dari asal geografis-Nya.
Inilah salah satu bahaya dalam kehidupan rohani: kita bisa merasa sudah tahu terlalu banyak sehingga hati kita menjadi tertutup.

Dalam refleksi Sabda Tuhan hari ini kita belajar bahwa pengetahuan religius tidak selalu sama dengan iman.

Seseorang bisa mengetahui banyak ayat Kitab Suci, tetapi tetap gagal mengenali kehadiran Tuhan di depannya.

Penolakan yang Lahir dari Ketakutan
Para Pemimpin Agama yang Menolak
Bagian yang paling menarik dalam Injil ini adalah reaksi para pemimpin agama.

Para penjaga Bait Allah kembali tanpa menangkap Yesus. Ketika mereka ditanya mengapa, mereka menjawab:

“Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu.”
Jawaban ini menunjukkan bahwa bahkan para penjaga yang diutus untuk menangkap Yesus pun tersentuh oleh kata-kata-Nya.

Namun para pemimpin agama langsung menolak:

“Adakah seorang dari pemimpin yang percaya kepada-Nya?”
Bagi mereka, ukuran kebenaran adalah status sosial dan otoritas.

Jika para pemimpin tidak percaya, maka menurut mereka Yesus pasti salah.

Inilah bentuk kesombongan rohani yang sering muncul dalam sejarah iman manusia.

Suara Keadilan dari Nikodemus
Di tengah suasana tegang itu, muncul satu suara yang berbeda: Nikodemus.

Nikodemus berkata:

“Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah diperbuat-Nya?”
Ini adalah suara keadilan.

Nikodemus tidak langsung menyatakan iman kepada Yesus, tetapi ia berani membela prinsip kebenaran.

Dalam renungan Katolik hari ini, Nikodemus menjadi contoh penting bagi kita.

Kadang Tuhan tidak langsung meminta kita menjadi pahlawan iman yang besar. Kadang Ia hanya meminta kita melakukan hal sederhana: berkata benar ketika semua orang diam.

Yesus Selalu Membagi Pendapat
Kebenaran Tidak Pernah Netral
Sepanjang sejarah, Yesus selalu menimbulkan dua reaksi yang berbeda.

Ada yang mengikuti-Nya dengan penuh cinta.

Ada yang menolak-Nya dengan keras.

Hal ini terjadi bukan karena Yesus ingin menciptakan konflik.

Tetapi karena terang selalu memisahkan diri dari kegelapan.

Dalam Injil Yohanes kita membaca:

“Terang datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan.”
Yesus tidak pernah memaksa siapa pun untuk percaya kepada-Nya. Tetapi kehadiran-Nya selalu menuntut keputusan.

Pilihan Iman Kita Hari Ini

Pertanyaan penting dalam renungan harian Katolik ini bukanlah:

“Siapa yang benar pada zaman Yesus?”

Pertanyaannya adalah:

Di pihak mana kita berdiri hari ini?

Apakah kita seperti orang banyak yang terbuka?

Apakah kita seperti para pemimpin yang menolak karena takut kehilangan posisi?

Atau kita seperti Nikodemus yang perlahan mulai berani membela kebenaran?

Iman bukan hanya tentang apa yang kita ketahui tentang Tuhan.

Iman adalah tentang bagaimana kita menanggapi Tuhan ketika Ia hadir dalam hidup kita.

Refleksi Sabda Tuhan untuk Hidup Kita
Renungan Injil hari ini mengajak kita melakukan beberapa refleksi sederhana namun mendalam.

1. Apakah aku benar-benar mendengarkan Sabda Tuhan?

Kadang kita membaca Kitab Suci hanya sebagai rutinitas.

Namun Sabda Tuhan seharusnya menjadi suara yang hidup yang menantang hati kita.

2. Apakah aku menilai Yesus dengan prasangka?

Banyak orang pada zaman Yesus menolak-Nya karena mereka sudah memiliki gambaran sendiri tentang Mesias.

Sering kali kita pun melakukan hal yang sama.

Kita ingin Tuhan bertindak sesuai keinginan kita.

Ketika Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda, kita menjadi ragu.

3. Apakah aku berani membela kebenaran?

Nikodemus mengingatkan kita bahwa iman juga berarti keberanian moral.

Kadang keberanian iman tidak selalu besar dan spektakuler.

Kadang iman hanya berarti satu kalimat sederhana:

“Mari kita dengarkan dulu.”

Penutup: Pilihan yang Menentukan Hidup

Dalam Injil Yohanes 7:40–53 kita melihat satu kenyataan yang sangat manusiawi.

Yesus tidak hanya mengajar.

Yesus memanggil setiap orang untuk memilih.

Dan pilihan itu masih terjadi sampai hari ini.

Setiap kali kita membaca Injil, setiap kali kita merenungkan Sabda Tuhan, kita sedang dihadapkan pada pertanyaan yang sama:

Apakah aku akan membuka hati kepada Kristus?

Semoga melalui renungan Katolik hari ini, Sabda Tuhan semakin menuntun kita untuk berani memilih terang, meskipun dunia kadang memilih kegelapan.

Ditulis oleh Andreas Leman, penggiat konten refleksi iman Katolik dan spiritualitas harian.  (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.