TRIBUNJATIM.COM - Kebahagiaan saat Lebaran tak bisa dirasakan para nelayan di Semarang.
Bahkan ada yang menggadaikan sertifikat tanah untuk bisa merayakan Lebaran.
Sebelum Lebaran, mereka dihadapkan pada musim baratan atau cuaca ekstrem yang berlangsung sejak Januari 2026.
"Iya, sejak Januari sampai Lebaran ini musim baratan sehingga tidak bisa melaut, akhirnya terpaksa gadaikan sertifikat (tanah) demi beli bisa baju baru untuk anak," ujar nelayan Tambaklorok, Semarang Utara, Sodikin (55), Kamis (19/3/2026).
Baca juga: Bawa Bekal Cilok yang Tak Laku, Asep Mudik Jalan Kaki dari Bandung ke Ciamis dan Berharap Tumpangan
Sodikin terpaksa menggadaikan barang berharga miliknya tersebut untuk kebutuhan Hari Raya Idul Fitri.
Ia sebelumnya harus libur panjang melaut karena cuaca ekstrem.
"Anak-anak nangis minta baju baru, ya terpaksa melakukan itu, penting anak tidak menangis," katanya, melansir dari TribunJateng.
Hasil uang gadai tersebut digunakan pula oleh Sodikin sebagai modal untuk tidak melaut.
Ia rencanya libur melaut sampai 10 hari. Ia libur selama itu karena cuaca laut masih belum ramah untuk melaut.
Selain itu, pergi melaut saat Lebaran juga terasa percuma, karena Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pasar banyak yang libur.
"Misal maksa melaut jual ikannya bingung ke mana," bebernya.
Baginya, selama Lebaran wajib untuk tidak melaut sebagai bentuk menghormati hari raya Idulfitri.
"Ya kami rayakan hari raya dulu sambil perbaiki alat tangkap sehingga lebih siap melaut saat cuaca nanti sudah cerah," jelasnya.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Mitra Bahari Tambaklorok, Semarang Utara, Kota Semarang, Mashur (52) mengatakan, jumlah nelayan di pesisir Tambaklorok sebanyak 700 hingga 800 orang.
Selama lebaran, mereka memilih meliburkan diri dengan memarkirkan 600 perahunya di dermaga Tambaklorok, Banjir Kanal Mati, dan Sungai Kalibanger.
"Ya kami memilih libur setidaknya satu minggu karena Lebaran dan cuaca juga masih belum bersahabat," katanya.
Ia menyebut, cuaca di laut belum terlalu ramah bagi nelayan sejak Januari lalu. Cuaca sempat membaik pada dua minggu terakhir. Namun, beberapa kali tiba-tiba cuaca kembali buruk.
"Ya dalam dua minggu terakhir saya melaut bisa dihitung jari, sehari berangkat, liburnya bisa empat hari," jelas nelayan kerang hijau itu.
Atas kondisi itu, Mashur memutar otak agar bisa mencukupi kebutuhan Lebaran. Ia pun sempat menjadi kuli bangunan.
Ia mengharapkan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dari tengkulak ikan.
"Ya tidak banyak (nilai THR), tapi berharap untuk bisa mencukupi kebutuhan lain," tuturnya.
Sejumlah pemudik harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan demi bisa pulang kampung saat Lebaran 2026.
Hal itu dirasakan Karsini (51), warga Ancol, Jakarta Utara, yang mudik ke Purwokerto bersama keluarga melalui Terminal Bus Tanjung Priok.
Karsini mengatakan, dengan penghasilan yang terbatas, ia dan keluarganya harus menabung jauh-jauh hari agar dapat membeli tiket bus untuk pulang ke kampung halaman.
"Kalau mahal ya kesulitan, pastilah namanya kita kan orang kerjanya pemasukan kecil ya. Nyisih-nyisihin duit buat beli tiket, kalau ada lebih ya tabung dikit-dikit," kata Karsini saat ditemui di Terminal Tanjung Priok, Minggu (15/3/2026) malam.
Ia berangkat mudik bersama suami dan tiga cucunya.
Total ada lima orang dalam rombongan keluarga tersebut yang berangkat menuju Purwokerto, Jawa Tengah.
Baca juga: Bawa Uang Saku Rp 40 Ribu, Edi Pedagang Siomay Mudik Jalan Kaki 130 Km Sambil Dorong Gerobak
Menurut Karsini, harga tiket bus pada masa arus mudik tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan hari biasa.
Untuk perjalanan ke Purwokerto, ia menyebut harga tiket berkisar antara Rp 310 ribu hingga Rp 320 ribu per orang dengan menaiki bus Sinar Jaya.
"Lumayan mahal sih ya sekarang soalnya sudah dekat mau Lebaran. Biasanya sekitar Rp 250 ribuan," ujarnya.
Meski demikian, Karsini tetap memilih berangkat lebih awal sebelum puncak arus mudik Lebaran.
Ia menilai jika berangkat mendekati hari raya, kondisi terminal maupun jalanan akan jauh lebih padat.
"Kalau mendekati Lebaran biasanya padat banget, jadi lebih baik berangkat sekarang saja. Kebetulan sekolah anak-anak juga sudah libur," kata dia.
Rencananya, Karsini dan keluarganya akan berada di kampung halaman selama kurang lebih dua minggu.
Ia harus kembali ke Jakarta sebelum cucunya kembali masuk sekolah pada akhir Maret.
Selain bersilaturahmi dengan keluarga besar, Karsini juga sudah menyiapkan sedikit uang untuk dibagikan kepada keponakan-keponakannya saat Lebaran nanti.
"Walaupun sedikit-sedikit ya demi ponakan, biasanya begitu kalau Lebaran," pungkasnya.