TRIBUNKALTIM.CO - Masa depan salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola modern, Pep Guardiola, kini berada di persimpangan krusial.
Setelah satu dekade penuh kejayaan bersama Manchester City, situasi yang dihadapi pelatih asal Spanyol itu berubah drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Rentetan hasil buruk membuat posisi Pep Guardiola mulai dipertanyakan.
Tidak hanya gagal meraih kemenangan dalam dua pertandingan terakhir Liga Inggris, performa Manchester City di kompetisi Eropa juga berakhir mengecewakan.
Mereka tersingkir dari Liga Champions setelah dihajar Real Madrid dengan agregat telak 5-1.
Kondisi ini menempatkan Pep Guardiola dalam tekanan besar menjelang laga final Carabao Cup melawan Arsenal.
Pertandingan yang akan digelar di Wembley Stadium ini bukan sekadar perebutan trofi, tetapi juga menjadi momen penentu arah masa depan sang pelatih.
Baca juga: Prediksi Skor Arsenal vs Manchester City di Final Carabao Cup, H2H, Susunan Pemain
Langkah Manchester City di Liga Champions harus terhenti setelah menghadapi dominasi Real Madrid.
Dalam dua leg pertandingan, City tidak mampu mengimbangi kekuatan Los Blancos, julukan Real Madrid yang dikenal sebagai “Raja Eropa” karena dominasi mereka di kompetisi ini.
Pada leg kedua di Etihad Stadium, City kembali tumbang dengan skor 2-1. Pemain bintang Madrid, Vinicius Junior, menjadi mimpi buruk bagi tuan rumah dengan mencetak dua gol.
Situasi semakin sulit bagi City setelah Bernardo Silva menerima kartu merah akibat handball di babak pertama, yang membuat tim harus bermain dengan 10 pemain.
Kekalahan ini memastikan agregat 5-1 untuk kemenangan Real Madrid.
Kegagalan tersebut memperpanjang catatan buruk Guardiola saat menghadapi Real Madrid.
Dalam tujuh pertemuan terakhir sejak April 2023, ia hanya mampu meraih satu kemenangan atas klub raksasa Spanyol tersebut.
Tren Negatif yang Mengkhawatirkan
Kekalahan di Liga Champions bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Manchester City.
Dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi, performa mereka menurun drastis.
Tim hanya mampu meraih satu kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan.
Di Liga Inggris, posisi Manchester City juga tidak aman. Mereka saat ini berada di peringkat kedua klasemen dan tertinggal tujuh poin dari Arsenal, yang tampil konsisten sepanjang musim.
Kondisi ini membuat Guardiola menyadari bahwa timnya tidak lagi berada di level yang sama seperti beberapa musim sebelumnya.
Bahkan, ia secara terbuka menyebut City sebagai underdog menjelang final Carabao Cup.
Final Carabao Cup: Laga Penentuan
Pertandingan final Carabao Cup melawan Arsenal menjadi titik balik yang sangat penting. Laga ini dijadwalkan berlangsung di Wembley Stadium pada Minggu (22/3/2026) pukul 23.30 WIB.
Bagi Manchester City, trofi ini bisa menjadi pelipur lara setelah kegagalan di Liga Champions.
Namun lebih dari itu, pertandingan ini juga berpotensi menjadi “hari penghakiman” bagi Guardiola.
Ia sendiri mencoba meredam ekspektasi publik dengan menekankan bahwa Arsenal adalah tim terbaik saat ini.
"Kami akan menantang tim terbaik di Inggris sejauh ini, tim terbaik di Eropa karena lihat hasil mereka di fase grup, dan hanya kalah tiga atau empat pertandingan sepanjang musim," jelas Pep Guardiola.
Ia juga menambahkan bahwa satu pertandingan tidak menentukan segalanya, namun tetap penting sebagai refleksi tim.
"Saya sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa satu pertandingan sepak bola bukanlah kebahagiaan terbesar atau kekalahan bukanlah akhir dunia, itu hanya sebuah permainan."
Kontrak Menipis, Masa Depan Dipertanyakan
Situasi Pep Guardiola semakin kompleks karena kontraknya bersama Manchester City kini memasuki fase akhir.
Ia masih memiliki sisa 18 bulan dari perpanjangan kontrak dua tahun yang ditandatangani pada 2024.
Namun, laporan dari media Inggris menyebutkan bahwa Guardiola bisa saja mengambil keputusan mengejutkan setelah final Carabao Cup.
Bahkan, disebutkan bahwa ia akan mengevaluasi masa depannya hanya beberapa jam setelah pertandingan melawan Arsenal.
Keraguan ini tidak hanya datang dari pihak luar, tetapi juga dari dalam dirinya sendiri yang mulai mempertimbangkan langkah berikutnya dalam kariernya.
Muncul Kandidat Pengganti
Di tengah ketidakpastian tersebut, manajemen Manchester City mulai bersiap dengan berbagai kemungkinan.
Nama Enzo Maresca, mantan manajer Chelsea, muncul sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan Guardiola.
Direktur olahraga City, Hugo Viana, dikabarkan telah menjajaki beberapa opsi dan melakukan diskusi awal dengan calon pengganti.
Langkah ini menunjukkan bahwa klub tidak ingin mengambil risiko jika Guardiola benar-benar memutuskan untuk hengkang dalam waktu dekat.
Arsenal di Puncak Performa
Sementara itu, Arsenal justru datang ke final dengan kepercayaan diri tinggi. Di bawah asuhan Mikel Arteta, mereka tampil konsisten di berbagai kompetisi dan menjadi kandidat kuat peraih trofi musim ini.
Performa solid Arsenal membuat mereka difavoritkan dalam pertandingan ini. Kondisi ini semakin menambah tekanan bagi Manchester City yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukan.
Guardiola sendiri menyadari bahwa laga ini juga bisa menjadi gambaran untuk pertemuan berikutnya di Liga Inggris.
"Setelah satu atau dua minggu, kita bermain melawan mereka di Liga Inggris dan itu adalah cermin yang baik untuk melihat apa yang harus kita lakukan untuk mencapai seperti mereka," bebernya.
Final Carabao Cup kali ini bukan sekadar perebutan trofi, tetapi juga menjadi penentu arah masa depan Manchester City dan Pep Guardiola.
Dalam situasi penuh tekanan, laga melawan Arsenal akan menjadi ujian terbesar bagi sang pelatih.
Apakah Guardiola mampu membawa City kembali ke jalur kemenangan dan memperpanjang masa baktinya? Ataukah ini menjadi awal dari akhir perjalanan panjangnya di Etihad Stadium?
Jawabannya akan segera terungkap di Wembley, dalam laga yang bukan hanya menentukan juara, tetapi juga masa depan salah satu pelatih terbaik dunia.
Daftar 4 Calon Kandidat Pelatih Baru Man City
1.Luis Enrique
Sebuah tema muncul di antara para kandidat utama untuk posisi pelatih City—para kandidat harus mengenal City atau Guardiola secara intim.
Luis Enrique, yang saat ini bekerja dengan gemilang di Paris Saint-Germain , tentu memenuhi kriteria tersebut karena pernah bermain bersama Guardiola di Barcelona dan kemudian menggantikan bos City tersebut sebagai manajer Barcelona B pada tahun 2008.
Enrique telah keluar dari bayang-bayang Guardiola selama dekade terakhir untuk menjadi salah satu pelatih paling dihormati di planet ini, periode sukses bersama Barcelona, Spanyol, dan PSG telah membawanya ke level yang lebih tinggi.
Prestasi Enrique bersama PSG musim lalu sangat luar biasa, membimbing raksasa Prancis itu meraih gelar Liga Champions dan membentuk mereka menjadi tim terbaik di Eropa.
Serangan mereka yang memukau terbukti terlalu sulit untuk ditaklukkan oleh para pesaing di benua Eropa, dibantu oleh PSG yang menjauh dari model transfer 'galacticos' mereka.
Apakah Enrique akan meninggalkan apa yang telah ia bangun di Paris untuk posisi di City masih belum jelas, tetapi ia pasti akan menjadi salah satu kandidat untuk menggantikan Guardiola.
Hanya sedikit yang dapat membantah bahwa ia adalah manajer terbaik dunia selama dua tahun terakhir.
2.Xabi Alonso
Tujuh bulan yang kurang memuaskan bersama Real Madrid telah memengaruhi reputasi Xabi Alonso yang sebelumnya cemerlang, tetapi tidak ada salahnya menyerah pada tekanan yang seringkali tak tertahankan yang datang dengan kursi panas di Santiago Bernabéu.
Kesuksesan transformatif Alonso bersama Bayer Leverkusen tetap menjadi ukuran yang lebih baik dari bakatnya dan musim 2023–24 yang luar biasa itu masih membuatnya terkenal sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Eropa.
Ada perbedaan gaya antara Alonso dan Guardiola, terutama penggunaan formasi 3-4-2-1 yang lebih disukai Alonso, tetapi keduanya menuntut sepak bola yang presisi dan estetis.
Dia juga mendapat pujian atas sikapnya yang tenang, terutama dalam menangani media—keterampilan yang diperlukan untuk manajer Liga Premier.
Alonso telah mengambil inspirasi dari Guardiola dalam karier manajerialnya, bekerja di bawah rekan senegaranya selama masa bermainnya di Bayern Munich.
Juga akrab dengan kerasnya Liga Premier dari waktunya di Liverpool, dia memahami persis apa yang dibutuhkan di Inggris.
3.Vincent Kompany
Sedikit orang yang memahami seluk-beluk City lebih baik daripada Vincent Kompany.
Mantan kapten klub ini menghabiskan lebih dari satu dekade di Manchester, memenangkan empat gelar Premier League di Etihad—dua di antaranya diraih selama era Guardiola—dan berkembang menjadi sosok legendaris.
Ada harapan bahwa Kompany akan kembali ke City suatu saat nanti dan mungkin tidak ada waktu yang lebih tepat selain sekarang.
Setelah sukses di Bayern Munich setelah masa naik turun bersama Burnley, pelatih asal Belgia ini telah membuktikan bahwa ia mampu menangani tekanan yang datang dengan mengelola salah satu klub elit Eropa.
Kompany telah mengembangkan skuad yang lengkap di Bayern yang dipenuhi superstar.
Gaya permainan mereka menarik, dinamis, dan berorientasi menyerang, itulah sebabnya mereka telah mengalahkan semua lawan di Bundesliga musim ini dan menjadi salah satu favorit untuk memenangkan Liga Champions.
Kedatangan Kompany tentu akan disambut meriah oleh para pendukung City, dan mereka akan berada di tangan yang aman di bawah kepemimpinan pelatih berusia 39 tahun ini.
4.Enzo Maresca
Salah satu alasan Chelsea berpisah dengan Enzo Maresca dilaporkan karena pelatih asal Italia itu melakukan pembicaraan dengan mantan klubnya, City, tentang kemungkinan menggantikan Guardiola suatu hari nanti.
Setelah bekerja dengan Elite Development Squad City dan kemudian sebagai asisten Pep Guardiola, ia tetap sangat dihargai oleh mereka yang berada di Stadion Etihad.
Maresca jelas merupakan murid Guardiola, memprioritaskan pendekatan penguasaan bola yang menuntut kontrol, dan ia akan menjadi penerus alami mentornya sebelumnya meskipun kepergiannya dari Stamford Bridge tidak begitu terhormat.
Dengan Maresca saat ini berada di bursa transfer dan hampir pasti ingin mengambil posisi kosong apa pun di City, negosiasi persyaratan akan mudah. Kesamaan taktik dengan Guardiola akan membantu proses transisi, begitu pula pengalamannya yang signifikan di Premier League.
Mudah untuk melupakan bahwa Maresca memenangkan dua gelar dengan skuad Chelsea yang masih muda dalam keadaan yang menantang, termasuk kampanye Piala Dunia Klub yang mengesankan musim panas lalu.
Pria berusia 46 tahun ini masih memiliki masa depan yang cerah di level elit dan City bisa menjadi rumah yang sempurna baginya.