TRIBUNNEWS.COM - Beragam hidangan khas Lebaran memang menggugah selera, namun masyarakat diingatkan untuk tetap waspada terhadap risiko gangguan pencernaan setelah sebulan berpuasa.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Ari Fahrial Syam, menegaskan sistem pencernaan memerlukan proses adaptasi pasca-Ramadan.
“Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan,” ujarnya dikutip dari keterangannya di Jakarta, Jumat (20/3).
Menurutnya, pola makan perlu disesuaikan secara bertahap, baik dari sisi jumlah, waktu, maupun jenis makanan.
Hidangan bersantan, berlemak, dan tinggi gula sering memicu keluhan seperti perut kembung, begah, hingga nyeri ulu hati.
Prof. Ari menyarankan masyarakat membatasi konsumsi makanan berlemak, pedas, asam, serta minuman bersoda dan kopi.
Bagi penderita penyakit kronis seperti lambung, hipertensi, atau diabetes, kewaspadaan harus ditingkatkan karena pola makan tidak terkontrol bisa memicu komplikasi.
Ia juga menekankan pentingnya menyeimbangkan makanan tinggi kalori dengan buah dan sayuran.
Kandungan serat dapat membantu mengurangi penyerapan gula dan lemak, sehingga asupan kalori lebih terkendali.
Dalam kondisi darurat ringan seperti mual atau nyeri ulu hati, langkah awal adalah beristirahat, menghindari makanan pemicu, dan mengonsumsi obat penetral asam lambung.
Disiplin minum obat rutin juga penting bagi penderita penyakit kronis.
“Lebaran adalah momen bahagia, namun kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Kuncinya menjaga keseimbangan: boleh menikmati hidangan, tetapi tetap terkontrol,” tutupnya.