TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah tekanan global akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik, pemerintah mulai melirik kembali pola kerja fleksibel sebagai solusi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa skema kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) kini tengah dikaji untuk diterapkan secara terbatas.
Langkah ini bukan sekadar penyesuaian gaya kerja, tetapi bagian dari strategi besar untuk menekan konsumsi energi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Baca juga: Prabowo Kaji WFH demi Hemat BBM, Bobby Nasution Pastikan Layanan Publik Tetap Normal
Usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa skema yang sedang dipertimbangkan adalah WFH satu hari dalam lima hari kerja.
“Ada penghematan dari segi penggunaan mobilitas dari bensin penghematannya cukup signifikan, seperlima dari apa yang biasa kita keluarkan,” ungkap Airlangga.
Artinya, hanya dengan mengurangi satu hari mobilitas kerja, konsumsi bahan bakar bisa ditekan hingga sekitar 20 persen angka yang cukup besar jika diterapkan secara nasional.
Kebijakan ini nantinya tidak hanya menyasar aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga diharapkan bisa diikuti oleh sektor swasta dan pemerintah daerah.
Dengan pendekatan yang lebih luas, pemerintah ingin menciptakan dampak kolektif terhadap:
Namun, implementasinya tetap akan mempertimbangkan karakteristik masing-masing sektor pekerjaan.
Meski sudah dalam tahap kajian serius, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan ini belum akan langsung diterapkan dalam waktu dekat.
Rencana pelaksanaan disebut-sebut akan dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri 2026, dengan tetap melihat perkembangan situasi global.
“Nanti kita lihat situasinya. Situasi harga minyak, situasi perang. Kita ikuti situasi yang berkembang,” ujarnya.
Baca juga: 3 Strategi Pemerintah Kurangi Penggunaan BBM: WFH Bagi ASN, Bakal Potong Gaji Menteri & Anggota DPR?
Selain WFH, pemerintah juga tengah menjalankan berbagai langkah untuk menjaga ketahanan fiskal. Airlangga Hartarto memastikan defisit anggaran tetap dijaga di bawah 3 persen melalui efisiensi belanja kementerian dan lembaga.
Langkah ini sejalan dengan arahan Prabowo Subianto yang sebelumnya menekankan pentingnya penghematan anggaran dan penghapusan belanja tidak produktif.
Tak hanya dari sisi konsumsi, pemerintah juga menyiapkan strategi dari sisi produksi dan kebijakan energi, antara lain:
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada energi berbasis minyak yang harganya fluktuatif.
Baca juga: Presiden Prabowo Siapkan Skenario WFH dan Pangkas Hari Kerja demi Selamatkan BBM Nasional
Kebijakan WFH yang kembali dikaji menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengadopsi pendekatan fleksibel dalam menghadapi dinamika global.
Dari efisiensi energi hingga penguatan fiskal, langkah-langkah ini mencerminkan upaya untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional.
Jika diterapkan, WFH bukan lagi sekadar warisan era pandemi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang menghadapi krisis energi dan perubahan dunia kerja.
***
(TribunTrends/Kompas)