TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Langit Kota Jambi masih lembut, Jumat (20/3/2026) pagi. Takbir berkumandang, bersahutan dari masjid ke masjid, mengantar umat menyambut Hari Raya Idulfitri 2026.
Di sudut Perumahan Guru kawasan Mayang, seorang lelaki renta bersiap dengan caranya sendiri. Bukan dengan mobil, bukan pula dengan ojek. Sepeda roda tiga kesayangannya telah ada di depan rumah..
Namanya Ahmad Swardi. Usianya genap 80 tahun, tepat pada 7 Februari lalu.
Tubuhnya tak lagi tegap, jantungnya pun tak lagi sekuat dulu. Namun, semangatnya pagi itu seolah menolak tunduk pada usia.
Pukul 07.10 WIB, Ahmad Swardi mulai mengayuh pedal.
Perjalanan menuju halaman SMP Ahmad Dahlan, tempat Salat Idulfitri digelar, bukanlah perkara ringan.
Jarak yang ditempuh memakan waktu hampir satu jam. Pada usia senja, itu bukan sekadar perjalanan, perjuangan.
Sepeda roda tiga yang dikayuh kayuh Ahmad tampak sederhana. Satu roda di depan, dua di belakang, dengan keranjang di kedua sisi.
Biasanya, keranjang itu berisi dagangan. Ada keripik, nasi bakar, yang dijajakan Ahmad ke sekolah-sekolah.
Pagi itu, yang dibawanya bukan sekadar barang, melainkan tekad.
Di beberapa titik, jalanan menanjak memaksanya turun. Napasnya tersengal. Tangannya menggenggam erat setang sepeda, mendorong perlahan.
"Kalau menanjak, saya dorong. Sudah tidak kuat lagi kalau dipaksa," katanya, dengan senyum yang tak pernah lepas. Jumat (20/3/2026).
Saat mendekati lokasi Salat Id, seorang polisi menghampiri dan membantu mendorong sepeda Ahmad. Bantuan sederhana, namun terasa begitu berarti di tengah perjuangan panjang lelaki renta itu.
Ketika akhirnya tiba di lokasi, Salat Id telah memasuki rakaat kedua. Ahmad Swardi menjadi makmum masbuk, tertiggal satu rakaat.
Namun, itu tak mengurangi kekhusyukannya. Ia tetap berdiri, mengikuti imam dengan tenang, seolah perjalanan panjang tadi telah terbayar lunas.
Perjalanan pagi itu bukan yang pertama baginya. Sejak lama, sepeda telah menjadi bagian dari hidup Ahmad Swardi.
Ia pernah menjadi seorang guru, mengabdi mencerdaskan anak bangsa.
Sejak sakit jantung menggerogoti, hidupnya berubah.
Pada 2016, setelah keluar dari rumah sakit seusai perawatan jantung, dia memilih satu cara untuk bangkit, belajar kembali mengayuh sepeda.
Itu bukan tanpa risiko.
Dalam sepuluh hari pertama mencoba kembali, dia sempat terkena serangan jantung.
Banyak orang mungkin akan berhenti di titik itu. Tapi tidak dengan Ahmad Swardi.
Dia memilih tetap melanjutkan, dengan satu syarat, tidak memaksakan diri.
"Sekarang santai saja. Tidak cepat, tidak dipaksa," ujarnya ringan.
Sepeda itu, kini bukan hanya alat transportasi, tetapi juga teman hidup.
Dia gunakan untuk berdagang, berkeliling dari sekolah ke sekolah. Bahkan, pernah ia kayuh hingga ke kawasan Pijoan, Kabupaten Muaro Jambi, jarak yang tak bisa dibilang dekat bagi pria seusianya.
"Naik sepeda itu menyenangkan,” katanya sambil tertawa kecil.
Wajahnya selalu dihiasi senyum. Cara bicaranya lugas, hangat, dan mudah dicerna.
Ahmad Swadi tipe orang yang membuat percakapan terasa ringan, bahkan ketika topiknya berat seperti sakit yang ia derita.
Bagi Ahmad Swardi, mengayuh sepeda bukan sekadar tuntutan keadaan. Itu adalah cara bertahan, cara menjaga harga diri, sekaligus cara menikmati hidup yang tersisa.
Pagi Idulfitri itu, ia mungkin datang terlambat satu rakaat. Namun dalam perjalanan menuju sana, ia telah lebih dulu menuntaskan sesuatu yang jauh lebih besar, mengalahkan batas tubuhnya sendiri.
Di tengah hiruk pikuk kendaraan dan kesibukan kota, kisahnya berjalan pelan, nyaris tak terdengar. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Seorang kakek 80 tahun, dengan jantung yang tak lagi sempurna, tetap mengayuh sejauh satu jam demi menunaikan salat Id.
Bukan soal cepat atau lambat. Melainkan tentang tekad yang terus hidup, bahkan ketika usia mencoba meredupkannya. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)
Baca juga: Jadwal Bus Rute Jambi-Bandung 21 Maret 2026, Termurah Rp500 Ribu
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumsel Riau Sumbar Siang Ini, Pemudik Keluar Jambi Hati-hati