Tiga Masjid Besar di Semarang Siap Gelar Salat Idulfitri 1447, Ini Jadwalnya
rika irawati March 20, 2026 06:07 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Tiga masjid besar di Kota Semarang, Jawa Tengah, akan menjadi lokasi pelaksanaan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H atau Idulfitri 2026, Sabtu (21/3/2026).

Ketiga masjid itu adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Masjid Agung Semarang Kauman, dan Masjid Raya Baiturrahman.

Sekretaris Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Multazam Ahmad mengatakan, pelaksana salat Idulfitri 2026 digelar menyesuaikan hasil sidang isbat yang sudah diumumkan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Kamis (19/3/2026).

Baca juga: Kata BMKG Soal Cuaca Jateng saat Salat Idulfitri 2026: Aman

Pihaknya juga telah mengatur jadwal salat Idulfitri di tiga masjid besar di Ibu Kota Jawa Tengah itu, sebagai berikut:

1. Salat Idulfitri di Masjid Agung Semarang akan dimulai pukul 06.00 WIB. 

  • Imam: KH Hanief Ismail, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhatul Qur'an Annasimiyyah.
  • Khatib: Imam Taufiq, Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

2. Salat Idulfitri di Masjid Baiturahman Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang akan dimulai pukul 06.15 WIB.

  • Imam: KH Zaenuri Ahmad, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qur'ani Kabupaten Semarang.
  • Khatib: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Jawa Tengah Saiful Mujab.

3. Salat Idulfitri di MAJT Jalan Gajah Raya Semarang akan dimulai pukul 06.30 WIB.

  • Imam: KH M Ulil Abshor.
  • Khatib: KH Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"Masjid Agung Semarang, Masjid Raya Baiturahman, dan Masjid Agung Jawa Tengah akan menggelar secara serentak salat Idulfitri besok."

"Di Semarang sendiri ada sekitar 3.000 masjid," ujarnya saat dikonfirmasi.

Baca juga: Potensi Hujan di Pantura hingga Jalur Selatan, BMKG Sarankan Pemudik Lewati Jateng saat Pagi

Pihaknya mengimbau masyarakat saling menghargai satu sama lain terkait perbedaan pelaksanaan salat Idulfitri 1447 Hijriah antara pemerintah dengan Muhammadiyah. 

Hal ini terjadi karena perbedaan perhitungan yang digunakan.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab murni, sedangkan hisab disertai rukyatul hilal oleh Nahdlatul Ulama dan Pemerintah.

"Jangan sampai ada gesekan, tujuannya kita itu baik. Termasuk dalam takbiran."

"Tetapi kadang kala ada yang memanfaatkan situasi untuk tidak kondusif."

"Saya sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk bisa menertibkan apabila ada hal yang tidak diinginkan," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.