Renungan Kristen 21 Maret 2026 - Hidup Berbuah Kasih
Bacaan ayat: Yohanes 13:35 (TB) "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."
Oleh Pdt Feri Nugroho
Mengapa ada orang yang mengaku Kristen, namun melakukan kejahatan dan tidak hidup dalam kasih? Jujur, ini pertanyaan yang mengganggu! Jawaban diplomatisnya, "Itu oknum saja!"
Benarkah demikian?
Lalu bagaimana dengan beberapa negara yang mayoritas penduduknya orang Kristen, ternyata kedapatan penjara penuh sesak dengan orang-orang yang mentatto tubuhnya dengan simbol salib?
Jika hanya oknum, mengapa jumlahnya tidak sedikit?
Atau coba pejamkan mata sejenak saat hendak beribadah.
Tempat yang paling sakral karena hendak berjumpa dengan Tuhan.
Coba putar slide wajah yang di kenal dalam persekutuan, mengapa ada satu, atau dua, atau tiga, bahkan ada sepuluh wajah yang tidak ingin ditampilkan karena berbagai sakit hati yang masih tersimpan. Ironis bukan?
Bahkan disaat hendak menyembah Tuhan pun, masih tersimpan kebencian yang memporak-porandakan kehidupan.
Sementara menyebut diri sebagai orang Kristen, berarti menyatakan diri sebagai para murid Yesus Kristus.
Yesus sadar, bahwa kebencian menjadi benih yang bisa mematikan kehidupan. Ia tahu bahwa Yudas Iskariot akan berkhianat dan menjualnya dengan tiga puluh keping perak.
Ada pergulatan batin yang tidak ringan; bagaimana mungkin seorang murid akan sanggup menjual Gurunya hanya demi keuntungan semata.
Tidak bisa dihindari bahwa pengkhianatan akan menciptakan luka mendalam yang tidak berdarah. Peristiwanya akan dikenang di sepanjang sejarah dan lukanya akan membekas seumur hidup.
Dengan kuasa-Nya, bisa saja Yesus membuat Yudas Iskariot membatalkan niatnya. Namun itu tidak dilakukan-Nya. Ia menghormati pilihan Yudas Iskariot.
Dalam luka yang masih menganga karena tahu akan dikhianati, justru mengalir deras pengajaran bagaimana seharusnya kasih itu dipraktekkan.
Dalam hal ini, fokus Yesus justru pada karya penyelamatan yang sedang berlangsung. Ia mengajak para murid untuk fokus kepada Allah yang telah bertindak untuk mengasihi.
Dalam hal ini, Yesus hendak mengajak para murid yang lain untuk paham bahwa dalam perjalanan kehidupan akan ada banyak Yudas lain yang melakukan tindakan yang sama.
Para murid akan dilukai, dikhianati, dibenci, dianiaya dan segala tuduhan jahat bisa mampir kapan saja. Inilah klimaksnya; jika dunia akan bereaksi secara alamiah dengan kebencian, namun para murid tidak boleh demikian.
Para murid justru diperintahkan untuk tetap mengasihi. Ini adalah tanda yang paling terlihat bahwa seseorang adalah murid Yesus.
Kasih menjadi pilihan sadar sebagai respon atas kejahatan yang dilakukan orang lain. Kasih menjadi pilihan utama saat harus disakiti oleh sesama.
Kasih tersebut perlu diperlihatkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan. Beberapa diantaranya ialah pengendalian diri.
Dalam hal ini menjaga hati dan pikiran untuk tetap dalam pembaharuan yang telah Allah lakukan dalam Yesus Kristus.
Kendalikan pikiran; tidak perlu overthinking. Jaga hati agar tidak diracuni dengan kebencian. Terus berfikir baik, meskipun ada luka yang tidak berdarah.
Dalam hal ini, mengasihi itu tentang membangun relasi yang akrab, dekat dan intim dengan Sang Kasih yaitu Allah sendiri.
Benar, bahwa jika fokus pada kekuatan diri maka akan sangat berat. Maka fokuslah pada Roh Kudus yang akan memampukan.
Jika mengandalkan diri, akan terasa mustahil dilakukan; maka andalkan Tuhan yang akan menolong.
Dengan tegas Yesus berkata, "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."
Jika masih mengaku sebagai orang Kristen, yaitu para murid Yesus, maka perkataan Yesus ini tegas tanpa kompromi. Amin
Renungan Kristen oelh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang