Idul Fitri 1447 H, Muhammadiyah Lampung Tekankan Perkuat Ketakwaan dan Ekonomi
Kiki Novilia March 20, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Bendahara Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung, Prof. Warsito, berpesan kepada warga Muhammadiyah yang melaksanakan salat Idul Fitri 1447 H di tengah gejolak global.

“Warga Muhammadiyah diharapkan meningkatkan ketakwaan dan kemandirian di tengah gejolak global,” kata Prof. Warsito di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Langkapura, Kota Bandar Lampung, Jumat (20/3/2026).

Dalam khutbahnya, Warsito mengawali dengan rasa syukur.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan hari kemenangan, hari Idul Fitri, setelah kita menjalani ibadah Ramadan 1447 Hijriah,” ujarnya.

Warsito yang juga bertindak sebagai khatib salat Idul Fitri mengingatkan pentingnya memedomani ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. 

Baca juga: Muhammadiyah Pesawaran Gelar Salat Id di Puluhan Titik, PDM Tekankan Persatuan Umat

Menurutnya, ketakwaan bukan hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap, cara berpikir, serta kesiapan menghadapi kehidupan.

“Allah SWT berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa’ (QS Ali Imran: 102),” ucapnya.

Mantan Dekan FMIPA Universitas Lampung ini menjelaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk kembali kepada fitrah, yakni sebagai hamba Allah yang bersih hati, lurus pikiran, dan siap melangkah menghadapi kehidupan dengan iman dan ketakwaan.

Menurutnya, Ramadan telah mendidik umat untuk menahan diri, melatih kesabaran, dan mengendalikan hawa nafsu. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berlaku selama satu bulan, tetapi juga menjadi bekal menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.

“Kita hidup di zaman yang penuh dinamika global. Saat ini dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik,” ujarnya.

Ia menyinggung konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak 28 Februari lalu. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada politik internasional, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Warsito menjelaskan, ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi energi dunia dapat berdampak luas. Sekitar 27 persen perdagangan minyak mentah dan 20 persen LNG dunia melewati selat tersebut.

“Setiap hari lebih dari 125 kapal tanker melewatinya. Kini, lebih dari 700 kapal tanker antre akibat penutupan jalur tersebut,” jelasnya.

Dampaknya, lanjut Warsito, akan dirasakan oleh seluruh negara, termasuk Indonesia, seperti kenaikan harga bahan bakar, naiknya harga kebutuhan pokok, serta tekanan pada ekonomi rumah tangga.

“Ujian ini adalah bagian dari kehidupan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya,” katanya.

Ia menekankan tiga sikap utama yang harus dimiliki seorang Muslim dalam menghadapi kondisi tersebut, yakni sabar dan tawakal, ikhtiar dan kesiapan, serta hidup sederhana dan tidak boros.

“Semua ini mengajarkan bahwa kita harus merencanakan, bekerja, dan mempersiapkan diri,” ujarnya.

Warsito juga menegaskan pentingnya menjaga gaya hidup hemat, terutama di tengah potensi tekanan ekonomi.

“Ramadan telah melatih kita untuk hidup sederhana. Setelah Ramadan, jangan kembali pada gaya hidup berlebihan,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kemandirian ekonomi umat.

“Islam mengajarkan kemandirian ekonomi. Kita harus menjadi umat yang memberi, bukan bergantung,” tegasnya.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat memperkuat ekonomi keluarga, membangun usaha produktif, serta saling membantu dalam komunitas guna mewujudkan kemandirian ekonomi umat.

Di akhir khutbahnya, Warsito mengajak jamaah menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat ketakwaan dan ketahanan keluarga.

“Marilah kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk memperkuat ketakwaan dan memperkuat keluarga,” tutupnya.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.