Kronologis Kader PDIP Diteror 2 Paket COD, Rumah Dilempar Bangkai Kepala Anjing
Noval Andriansyah March 20, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Deli Serdang - Kronologis kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Palti Hutabarat menerima diduga terima teror 2 paket cash on delivery (COD) hingga paket berupa bangkai kepala anjing.

Insiden teror tersebut terjadi tepatnya di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (18/3/2026).

Wiradarma Harefa dari Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat (BBHAR) PDIP membenarkan kejadian tak wajar tersebut. 

"Menurut kesaksian Saudara Palti, sekitar pukul 10-12 malam lebih, ada benda yang dilemparkan ke depan rumahnya. Pada pagi harinya jam 7 dicek ternyata bangkai kepala anjing," ujar Wiradarma, Kamis (19/3/2026) malam, sebagaimana dilansir Tribunnews.com.

Wiradarma menyampaikan kronologis yang dialami Palti tersebut. Bermula dari teror pengiriman dua paket COD sebelumnya, hingga kemudian ada pelemparan bangkai kepala anjing di kediaman korban.

Baca juga: Aktivis KontaS Disiram Air Keras, Tommy Gunawan: Bentuk Teror Bagi Pembela HAM

Pada Rabu (11/3/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, satpam kompleks perumahan mengabarkan kepada keluarga Palti bahwa ada dua orang laki-laki bersepeda motor yang bertanya mengenai penghuni rumahnya. 

"Apa rumah nomor xx tidak ada penghuninya? Saya telepon dan panggil-panggil, orangnya tidak keluar," kata Wiradarma menirukan orang tak dikenal (OTK) itu. 

"Ada, tapi orangnya sering keluar," jawab satpam kepada OTK disampaikan Wiradarma. 

1. Paket COD Pertama

Selanjutnya pada Jumat (13/3/2026) sore, paket COD pertama datang. 

Berhubung keluarga Palti tidak pernah memesan, mereka menolak paket tersebut. 

Terlebih, setelah mengonfirmasi ke Palti langsung, kader PDIP itu juga tidak pernah mengirim paket ke rumah orangtuanya. 

2. Paket COD Kedua

Keesokan harinya, Sabtu (14/3/2026), datang paket COD kedua. 

Hanya saja, yang menimbulkan kecurigaan adalah paket tersebut dikirim dengan nama almarhum ayah Palti dari alamat lama di Jakarta. 

"Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa mengirimkan paket? Seperti paket sebelumnya, paket tidak dibuka dan langsung dikembalikan," jelas Wiradarma. 

Pada hari-hari berikutnya, keluarga Palti tidak menerima paket misterius lagi. 

Wiradarma menduga sudah tidak ada lagi teror lanjutan terhadap mereka. 

3. Bangkai Kepala Anjing

Namun pada Rabu (18/3/2026), rumah orangtua Palti tiba-tiba dilempar bangkai kepala anjing. 

Pada saat yang sama, menurut Wiradarma, Palti juga menerima kiriman sejumlah meme intimidatif melalui WhatsApp. 

Atas dasar itu, Wiradarma mendesak kepada aparat untuk segera menangkap pelaku yang mengirim bangkai kepala anjing kepada Palti Hutabarat. 

"Kami mengutuk aksi teror ini, tindakan biadab dan pengecut apalagi dengan kepala anjing. Juga terjadi di bulan suci Ramadhan."

"Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap kasus ini dan menangkap pelakunya," kata Wiradarma. 

"Juga pada kasus-kasus intimidasi dan teror sebelumnya misalnya pada Risman Lase yang mobilnya dilempar bom molotov di Sibolga, Sumatera Utara, juga penyiraman air keras pada Andrie Yunus KontraS, pada DJ Donny, Virdian, Sherly, Tiyo Ardianto, Bocor Alus Tempo dan kasus-kasus lain yang belum diungkap," tegasnya.

Reaksi Palti Hutabarat

Palti Hutabarat aktif di media sosial dengan akun @paltiwest. 

Melalui postingan di akun miliknya yang diikuti 23,7 ribu pengikut, ia aktif menyoroti isu politik, termasuk mengkritisi pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto. 

Kader PDI Perjuangan (PDIP) ini sempat ditangkap Bareskrim Polri pada Januari 2024 terkait kasus hoaks.

Amatan Tribunnews.com, Palti Hutabarat juga memposting perihal teror yang diterima itu di instagram miliknya paltiwest.

Postingan itu berupa tiga gambar anjing pertama kepalanya, kedua anjing tertidur dan ketiga anjing yang sama berwarna coklat muda.

"Saya coba rekonstruksi anjing yang kepalanya dipenggal hanya untuk alat teror..,"

"Sadis sekali memang kalian memakai binatang untuk melakukan teror!!!," tulisnya.

"Rakyat Indonesia tidak perlu takut bersuara dan mengkritik pemerintah yang menggunakan uang pajak kita,"

"Meskipun diteror kita tidak boleh tinggal diam demi anak cucu dan demi INDONESIA RAYA..," tulisnya lagi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.