Daftar 10 Lapangan Tempat Shalat Ied di Manado, Sabtu 21 Maret 2026, Total 163 Lokasi
Rizali Posumah March 20, 2026 08:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Umat Muslim di Manado akan merayakan hari raya Idul Fitri pada Sabtu (21/3/2026). 

Rilis Kemenag Sulawesi Utara menyebut terdapat 163 lokasi Shalat Ied di Manado yang terdiri dari 151 masjid, 2 musala, dan 10 lapangan.

Adapun 10 lapangan tersebut adalah:

1 Lapangan Sparta Tikala

2. Halaman Kantor Gubernur Sulut

3 Halaman Mapolda Sulut

4. Halaman Pomdam XIII/Merdeka

5. Halaman Makolantamal VIII/Manado

6. Halaman Kodim Manado

7. Halaman parkir Mantos 3 Manado

8. Halaman Brimobda Sulut

9. Halaman Terminal Trans Sulawesi

10. Halaman Tenis Perum PLN Bahu

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri Jatuh pada Hari Sabtu 21 Maret 2026

Sidang isbat secara nasional yang dipimpin oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (19/3/2025) telah mencapai titik kesimpulan, bahwa 1 Syawal 1447H/2025 M jatuh pada Sabtu (21/3/2026). 

“Dari pengamatan hilal tidak terlihat. Disepakatidari sidang isbat, maka pemerintah secara menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu 21 Maret 2026,” terang Menag Nasaruddin Umar kepada awak media usai Sidang Isbat 1 Syawal 1446 H Kamis (19/3/2026), dikutip dari Tribunnews

Sidang isbat berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, kantor pusat Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin No. 6,di Jakarta, Kamis (19/3/2025).

Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menjelaskan, berbagai daerah di Indonesia telah menyelenggarakan pengamatan hilal.

"Laporan-laporan Rukyatul Hilal ini kemudian telah dibawa ke dalam Sidang Isbat dan telah dimusyawarakan oleh para alim ulama tokoh-tokoh ormas Islam dan para pakar serta para tokoh masyarakat lainnya," ujar dia. 

Ia juga menjelaskan bahwa dalam menentukan awal bulan hijriah, pihak Kementerian Agama RI menggunakan metode yang telah disepakati oleh MABIMS atau kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dirinya mengatakan, bahwa petugas rukyat dari berbagai daerah di wilayah Indonesia telah melaporkan bahwa hilal Kamis 19 Maret 2025 tidak terlihat. 

Dan tim rukyat pusat juga telah mengonfirmasi bahwa hilal tidak terlihat. 

"Berdasarkan hasil hisab, maka telah disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu 21 Maret 2026," pungkasnya. 

Sebelumnya, Cecep Nurwendaya, M.Si, pakar astronomi dan anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) yang rutin memaparkan posisi hilal dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan/Syawal menjabarkan posiis hilal. 

Ada beberapa poin yang disampaikan yakni pertama jika berdasar kriteria MABIMS (3-6,4) pada 29 Ramadan 1447H atau Kamis (19/3/2026) telah memenuhi parameter hilal minimum3 derajat seperti kriteria MABIMS.

Namun, posisi hilal ini tidak memenuhi parameter elongasi minimum 6,4 derajat sehingga 1 Syawal secara hisab bertepatan dengan Sabtu Pahing 21 Maret 2026 Masehi. 

Pada saat rukyatul hilal dilakukan pada hari yang sama, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 52 detik, serta sudut elongasi berkisar antara 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik.

Oleh karenanya, hilal menjelang awal Syawal 1447 H pada hari rukyat ini secara teoritis diprediksi tidak mungkin dapat dirukyat karena posisinya berada di bawah kriteria Visabilitas Hilal pada saat Matahari terbenam. 

Namun, demi verifikasi data tersebut, Kementerian Agama bersama berbagai pihak melaksanakan rukyatul hilal di berbagai titik pemantauan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. 

Pelaksanaan rukyat melibatkan kantor wilayah Kementerian Agama, Kementerian Agama kabupaten/kota, peradilan agama, organisasi kemasyarakatan Islam, serta instansi terkait di daerah.

Hasil rukyatul hilal dari seluruh wilayah Indonesia bersama data hisab posisi hilal inilah yang dimusyawarahkan dalam Sidang Isbat untuk ditetapkan awal Syawal 1447 H. 

Sidang Isbat 1 Syawal 1446 H ini digelar langsung dan dihadiri perwakilan ormas Islam, perwakilan Duta Besar negara sahabat, Tim Hisab Rukyat Kemenag, serta para pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama.

"Secara hisab, data hilal pada hari ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS," imbuhnya.

Artinya, secara hisab posisi hilal di Indonesia saat sidang isbat awal Syawal 1447 H, tidak ada yang memenuhi kriteria baru yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). 

Diketahui, bahwa Menteri Agama anggota MABIMS menyepakati kriteria baru yaitu tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Dengan posisi demikian  maka secara astronomis atau hisab, hilal tidak dimungkinkan untuk dilihat. Hal ini selanjutnya terkonfirmasi oleh pernyataan para perukyah yang diturunkan Kemenag.

Pemantauan hilal tahun ini di 117 titik lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kita mendengar laporan dari sejumlah perukyah hilal yang bekerja di bawah sumpah, mulai dari Aceh hingga Papua. Di jumlah titik tersebut, tidak ada satu pun perukyah dapat melihat hilal," ujar Menag.

Karena dua alasan tersebut, Sidang Isbat menyepakati untuk mengistikmalkan (menyempurnakan) bulan Ramadan menjadi 30 hari sehingga 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. 

Pemantauan Hilal di Manado

Pemantauan hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah telah dilaksanakan di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Berdasarkan pengamatan langsung dari rooftop Mega Trade Center (MTC) Kawasan Megamas pada Kamis (19/3/2026) petang, bulan baru Syawal dilaporkan tidak terlihat.

Proses rukyatul hilal ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting lintas organisasi.

Di antaranya Kakanwil Kemenag Sulut sekaligus Ketua PW NU Sulawesi Utara, H. Ulyas Taha; Ketua PW Muhammadiyah Sulut, Masrur Mustamat; tim BMKG Stasiun Manado, serta jajaran kepala kantor Kemenag kabupaten/kota se-Sulut.

Kakanwil Kemenag Sulut, H. Ulyas Taha, menjelaskan bahwa meskipun tim telah menggunakan metode hisab dan bantuan teleskop canggih, titik hilal tetap tidak tertangkap oleh mata maupun lensa.

"Tadi kita sudah melakukan pengamatan, hasilnya memang hilal tidak terlihat. Hasil Rukyatul Hilal ini kita sampaikan ke Kementerian Agama RI," ujar Ulyas di lokasi pemantauan.

Hasil pemantauan di Manado ini telah disahkan secara hukum oleh Hakim Tunggal Pengadilan Agama Manado, Masita Olii, SHi, dengan didampingi Panitera, Lisrina Hakim.

Data ini akan menjadi salah satu rujukan utama dalam Sidang Isbat nasional Kamis malam ini.

Ketetapan Muhammadiyah

Di sisi lain, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Utara telah memastikan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.

Ketua PWM Sulut, H. Drs. Masrur Mustamat, ME, menegaskan bahwa penentuan ini merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem ini menggunakan parameter astronomi global dengan kriteria elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat saat matahari terbenam sebelum pukul 24.00 UTC.

"Oleh karena itu, 1 Syawal 1447 H berlaku secara global sebagai bentuk penyatuan kalender Hijriah di seluruh dunia," ungkap Masrur.

Langkah ini diperkuat melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Muhammadiyah memandang penggunaan KHGT sebagai sebuah kemajuan ijtihad untuk menjawab kebutuhan umat Islam di era globalisasi guna mewujudkan kesatuan penanggalan internasional.

"Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kekuatan untuk menunaikan ibadah Ramadan, dan semoga kita dipertemukan dengan hari kemenangan, Idulfitri 1447 Hijriah," tambah Masrur.

Menutup keterangannya, beliau menyampaikan pesan perdamaian bagi seluruh umat Islam yang akan merayakan hari kemenangan.

"Kami mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin Taqobbalallahu minna wa minkum," pungkasnya.

Perbedaan Hisab dan Rukyat

Hisab dan rukyat adalah dua metode utama dalam Islam untuk menentukan awal bulan Hijriah, seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Hisab menggunakan perhitungan matematis dan astronomis untuk memprediksi posisi bulan, sementara rukyat adalah pengamatan langsung penampakan hilal (bulan sabit muda) di ufuk barat setelah matahari terbenam

Perbedaan utamanya terletak pada cara menetapkan awal bulan.

Rukyatul hilal adalah metode observasi lapangan dengan melihat langsung kemunculan bulan sabit muda (hilal) sesaat setelah matahari terbenam.

Jika mata telanjang atau teleskop tidak berhasil melihat bulan karena posisi yang terlalu rendah atau faktor cuaca, maka jumlah hari dalam bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari.

Metode ini mengutamakan bukti fisik yang terlihat secara nyata pada hari ke-29.

Di sisi lain, hisab adalah metode penentuan posisi bulan melalui perhitungan matematis dan astronomis yang akurat.

Dengan metode ini, posisi hilal sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari bahkan hingga bertahun-tahun ke depan tanpa perlu menunggu pengamatan visual di lapangan.

Perbedaan pandangan biasanya muncul jika posisi hilal menurut hitungan sudah berada di atas ufuk, namun secara fisik belum bisa terlihat oleh mata atau kamera.

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.