Catatan Seorang Jurnalis: Kembali pada Fitrah
Rizali Posumah March 20, 2026 08:22 PM

 

Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.

Dosanya memang sulit termaafkan. Ali divonis mengotaki pembunuhan anak dan istrinya. Peristiwa itu terjadi 2008 silam. 

Kala Ali masih berstatus polisi. 

Saat istri dan anaknya ditemukan tewas, Ali sempat bikin seisi Sulut berduka ; saat ia menangis tersedu - sedu di pelukan Kapolda Sulut kala itu.

Semua di Sulut prihatin pada Ali. Bahkan, meminjam istilah Permesta, batu, pasir dan daun pun berpihak pada Ali. 

Ini berubah setelah polisi menangkap Rojak. Dari mulut Rojak keluar pengakuan mengejutkan. Otak pembunuhan itu ternyata Ali.

Order pembunuhan datang dari Ali. Imbalannya segepok uang, yang kata Ali untuk modal usaha Rojak. Publik berbalik memusuhi Ali.

Ia dikutuk beramai - ramai. Hukuman seumur hidup belum memuaskan rasa keadilan publik.

Mereka minta Ali dihukum mati dengan cara tersadis.

Nah 2017 lalu, saya meliput pemberian remisi Lebaran di Lapas Tewaan Bitung.

Saat tengah foto - foto, seseorang yang tak bisa saya sebut namanya, mengajak saya ke suatu ruangan.

"Ada orang mau ketemu," katanya. 

Ternyata orang itu Ali. Saya terkejut.

Agak merinding berhadapan dengan seorang pembantai anak bini sendiri. Ali mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah foto.

"Ini foto istri dan anak saya," kata dia sambil meneteskan air mata. 

"Setiap Lebaran saya selalu terkenang mereka, biasanya saat lebaran kami makan bersama,".

Rasanya saya ingin menonjok dia. Mereka dulu kau bunuh, kini kau rindu. 

Mungkin Ali membaca pikiran saya. 

Ia memperjelas duduk perkara.

"Saya ini korban peradilan sesat," kata Ali dengan suara bergetar, bercampur tangis dan amarah.

Ali kemudian bercerita tentang rekayasa yang ia alami.

Semua berbau plot. Banyak teori konspirasi. Tidak meyakinkan. 

Tapi kata - katanya kemudian membuatku menimbang.

"Saya dijebak, pembunuhnya sudah pernah mengakui itu, Komnas HAM pun sudah memberi rekomendasi, namun proses terhadap saya berjalan terus, saya prihatin," kata dia.

Ali terus curhat. Saya terus menimbang.

"Kalau saya pembunuhnya mengapa keluarga istri saya rutin menjenguk saya kala lebaran, mereka meminta saya tabah," kata dia.

Ali bertekad mencari keadilan. Dia akan melakukan segala sesuatu yang mungkin, termasuk menyurat ke Presiden.

"Kalau memang saya pembunuhnya, dihukum seperti ini saya pasti sudah terima, tapi ini bukan saya pelakunya, saya akan terus berjuang hingga keadilan datang," kata dia.

Kisah Sengkon Karta menjadi inspirasinya.

Sengkon Karta adalah dua orang yang divonis bersalah melakukan pembunuhan dan telah menjalani hukuman, hingga pembunuh sebenarnya mengaku.

Kasus Sengkon Karta menandai kelahiran upaya hukum peninjauan kembali.

"Mungkin saja ada PK dengan mempertimbangkan faktor bahwa pembunuhnya sudah mengaku," kata dia.

Lebaran adalah hari Ali menyatu dengan kenangan sekaligus berpisahnya ia dengan para sahabat.

Setiap lebaran, ada saja rekannya yang bebas karena remisi. Pun saat Natal.

Sedang Ali dipastikan mati di penjara, mungkin juga dikuburkan di penjara. 

Namun Ali tidak mengutuk kegelapan. 

Ia justru coba menyalakan cahaya. Di Lapas, Ali terlibat dalam usaha batako yang kini menggeliat di Lapas.

Ia juga aktif membangun Mesjid Lapas serta tempat jenguk keluarga.

"Saya ingin berbuat baik untuk membuktikan saya tidak bersalah," kata dia. 

Ada kejujuran dalam kata kata Ali ini. Atau entahlah, mungkin ia hanya bersandiwara.

Hanya Tuhan yang tahu. Saya hanya menunaikan tugas sebagai wartawan. 

Saya menulis apa adanya. Saya percaya hukum. Hukum adalah bayangan sorga.

Tapi saya tak percaya pada manusia yang mengaku tahu hukum lebih dari siapapun.

Merekalah pelanggar hukum itu, yang pintar berakrobat untuk lolos jerat hukum, maupun membuat pasal untuk menjerat lawan politik. 

Idul Fitri hendaknya membuat kita kembali pada fitrah.

Hukum sesuai fitrahnya adalah menegakkan kehendak Allah di atas bumi. Bukan untuk menegakkan kehendak manusia untuk menguasai manusia lainnya. (Arthur Rompis)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.