Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Gema takbir berkumandang syahdu dari pengeras suara diiringi tabuhan bedug di Masjid Besar Al-Muhajirin Kepaon, Denpasar, Bali pada Jumat 20 Maret 2026 malam.
Namun, ada yang berbeda dalam perayaan Idul Fitri tahun ini, jalanan di wilayah Pemogan hingga Taman Pancing yang biasanya padat oleh ratusan peserta pawai obor.
Kini tampak lengang tanpa iring-iringan kreativitas peserta pawai dan pembawa obor.
Pengurus Masjid Besar Al-Muhajirin memutuskan untuk meniadakan tradisi pawai takbir keliling yang biasanya digelar meriah.
Baca juga: Mudik 2026: Keberangkatan Ribuan Penumpang di Terminal Mengwi Sempat Ditunda, Ini Alasannya
Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan dan toleransi karena waktu Idulfitri tahun ini berada dalam rangkaian hari raya Nyepi umat Hindu.
Bendahara Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (BAZIS) Masjid Besar Al-Muhajirin, Haji Syamsuddin, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk nyata moderasi beragama di Bali.
Menurutnya, keberadaan ogoh-ogoh yang masih terparkir di pinggir jalan pasca Nyepi menjadi pertimbangan utama demi menjaga keharmonisan antarumat.
"Berawal dari toleransi kita dengan sesama umat beragama. Karena umat Hindu mengadakan Nyepi kemarin, itu salah satu penyebab tidak ada pawai keliling," kata Haji Syamsuddin saat dijumpai Tribun Bali.
Baca juga: Antrian Gilimanuk Tembus 30 KM, Ketua MTI Bali Sebut Skema Gagal: Jadikan Ini Sebagai Pembelajaran
"Biasanya ogoh-ogoh itu masih di pinggir jalan. Takutnya kalau kita mengadakan pawai keliling, nanti supaya tidak terganggu atau anak-anak usil tangan, bisa jadi masalah. Maka kita hindari itu," sambungnya.
Ia menambahkan, jika biasanya pawai obor bisa berlangsung hingga pukul 10 malam dan melibatkan ratusan warga, tahun ini kemeriahan dialihkan sepenuhnya ke dalam area masjid.
Meskipun ada rasa rindu akan keramaian di jalanan, terutama di kalangan anak-anak, pihak pengurus tetap memberikan pengertian bahwa kerukunan adalah prioritas utama.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana masjid tetap hidup meski tanpa pawai. Di gerbang masjid yang dihiasi lampu neon merah, warga tampak hilir mudik dengan tertib.
Baca juga: Jawaban My Initial Understanding, Soal Bahasa Inggris Kelas 11 SMA Tingkat Lanjut Halaman 42 43
Di area teras, sejumlah warga duduk bersila di atas karpet bermotif hijau, sibuk melakukan pendaftaran dan penyetoran zakat di meja-meja kayu panjang yang telah disediakan.
Di dalam ruang utama masjid, jamaah laki-laki berpakaian muslim dan sarung tampak khusyuk melantunkan takbir.
Suasana hangat terlihat dari anak-anak yang berlarian kecil di area serambi, sementara para orang tua menyelesaikan kewajiban zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat Id keesokan harinya.
"Memaknai Nyepi yang berbarengan dengan Idulfitri ini adalah sebuah makna untuk memperlihatkan bahwa toleransi antarumat beragama kita semakin kuat," pungkas Haji Syamsuddin. (*)