Tribunlampung.co.id, Sukoharjo - Di tengah suka cita menyambut Lebaran 2026, warga di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, dibuat kaget atas kabar pembubaran salat Idulfitri.
Bahkan, kabar pembubaran salat Id tersebut sampai viral di media sosial.
Kabar pembubaran salat Id tersebut beredar cepat di berbagai platform media sosial pada Jumat (20/3/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kabar tersebut bukan pembubaran melainkan pembatalan.
Panitia atau pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Kedungwinong sendiri yang dikabarkan membatalkan salat Id pada Jumat.
Baca juga: Salat Id Muhammadiyah di Lampung Tengah Aman, Sinergi Aparat dan Warga Jadi Kunci
Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunSolo.com, Kapolsek Nguter, Iptu Maryadi membenarkan kabar tersebut.
Menurutnya, tidak ada orang atau pihak manapun yang membubarkan ibadah sunah tersebut.
"Jadi isu salat Id dibubarkan itu tidak benar. Jadi berinisiatif membatalkan. Jadi sebelum subuh diumumkan pelaksanaannya dibatalkan," kata Kapolsek Nguter, Iptu Maryadi dihubungi TribunSolo pada Jumat (20/3/2026).
Pihaknya memastikan tak ada pembubaran salat Id seperti yang beredar di media sosial tersebut.
Karena memang belum ada salat Id di Desa Kedungwinong.
Kapolsek bersama anggota juga langsung mendatangi Desa Kedungwinong setelah beredarnya isu tersebut.
Pengurus Muhammadiyah, pemerintah desa, dan ulama setempat kemudian duduk bersama untuk musyawarah.
Dalam musyawarah, masing-masing pihak berjiwa besar dan mengakui kesalahannya.
Camat Nguter, Sukatman, menambahkan kesalahpahaman ini bermula dari kesepakatan bersama Lembaga Pembinaan Pengamalan Agama (LP2A) Kedungwinong saat pertengahan puasa lalu.
Dalam musyawarah itu disepakati salat Id di Desa Kedungwinong hanya satu kali sesuai keputusan pemerintah.
Namun, jelang akhir Ramadan, aspirasi masyarakat muncul untuk penyelenggaraan salat Id sesuai penetapan Muhammadiyah.
Pengurus Ranting Muhammadiyah kemudian meminta izin ke kepala desa.
"Kades pun tak mengizinkan, tapi juga tidak melarang (salat Id)," ujarnya.
PRM yang tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya membatalkan rencana salat Id di satu masjid.
Warga yang ingin salat Id pada hari Jumat, mengikuti salat di desa tetangga.