TRIBUN-TIMUR.COM - Puluhan tahun lalu, komunitas Toraja Muslim berjuang mendapatkan keamanan dan eksistensi kala hijrah ke Kota Makassar.
Jejak perjuangan komunitas Toraja Muslim di Makassar ini bisa dijejaki melalui Masjid Hajjah Siti Saerah.
Tampak sekilas Masjid Hajjah Siti Saerah yang terletak di Jl Dg Sirua No 348 Kecamatan Manggala, Makassar biasa saja.
Terletak di pinggiran kanal, masjid ini seperti layaknya masjid umum lainnya yang didirikan oleh masyarakat.
Namun setelah menelisik sejarah keberadaan Masjid yang memiliki luas bangunan 500 meter persegi ini, tersimpan nilai perjuangan.
Terutama perjuangan keberadaan komunitas Toraja Muslim.
Ditarik dari garis sejarah awal, komunitas Toraja Muslim berkembang pada tahun 1958.
Berpusat di kota Rantepao, Ibukota Kabupaten Toraja Utara.
Namun pada tahun-tahun itu terjadi gejolak pemberontak sejumlah kelompok.
Kelompok yang dimaksud yakni DI-TII serta tentara kota yang melakukan pemberontakan di Toraja.
Baca juga: Sebaran 492 Masjid Ramah Pemudik di Sulsel: Maros Terbanyak, Toraja Utara 4
Komunitas Toraja Muslim yang termasuk golongan minoritas merasa terancam ketentramannya.
Mereka akhirnya bermigrasi ke berbagai kabupaten tetangga, seperti Luwu dan Enrekang.
Berbagai kelompok terpelajar, pegawai dan pekerja komunitas Toraja Muslim juga berbondong-bondong ke kota Makassar.
Tepatnya pada tahun 1963, yang kemudian menginisiasi terbentuknya Kerukunan Keluarga Islam Toraja (KKIT).
"Seiring berjalannya waktu, komunitas ini mendapatkan lahan di sini kemudian bersepakat mendirikan pilar Toraja-Muslim yang juga ditandai perkembangan dengan hadirnya sekitar 400 Taman Pendidikan Agama (TPA) yang dikelola keluarga Toraja Muslim dan mendatangkan berbagai guru atau pengajar," ujar Ketua Pengurus Mesjid Hajjah Siti Saerah, Ustadz Jamal, kepada Tribun-Timur.com, Jumat (2/6).
Pada tahun 1999 berbagai tokoh atau sesepuh Toraja Muslim, diantaranya KH Muhammad Ahmad, KH Muhammad Na'im, dan KH Nasaruddin Razak berinisitif mendirikan mesjid.
Niat ini kemudian bersambut baik setelah melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan Prof Beddu Amang, yang merupakan mantan Kepala Bulog era Suharto.
"Kebetulan Prof Beddu Amang saat itu telah berdomisili di Makassar karena melanjutkan pendidikan di Unhas, terjadilah pertemuan dan disepakati membangun mesjid," papar Ustad Jamal.
Awalnya mesjid tersebut bernama Al-Jihad saat disepakati dilakukan peletakan batu pertama pada tahun 1999 lalu.
Penamaan tersebut sesuai dengan latar belakang perjuangan komunitas Toraja-Muslim.
Namun kemudian berganti nama menjadi Hajjah Siti Saerah yang tak lain merupakan Ibu dari Prof Beddu Amang.
"Atas dasar adanya wasiat orangtua dari Prof Beddu Amang sebelum meninggal, maka ada perubahan dan itu kita sambut baik sebab beliaulah yang banyak membantu," lanjutnya.
Mesjid Hajjah Siti Saerah pada masa itu diresmikan pada Agustus 2001 oleh Prof Beddu Amang dan dihadiri pula Wali Kota Makassar masa itu yakni Amiruddin Malua.
Arsitektur mesjid menggabungkan antara bentuk Kraton dan khas Kairo Kuno.
Boleh disebut Masjid Hajjah Siti Saerah merupakan salah satu mesjid termegah pada masa itu.
Interior mesjid cukup megah diantaranya yakni marmer impor, penggunaan batu alam dari Surabaya serta pintu dari Kayu Jati Sulawesi Tenggara.
Kini Masjid Hajjah Siti Saerah menjadi tempat ibadah yang terbuka bagi masyarakat muslim secara umum.
Tak hanya warga atau komunitas Toraja-Muslim saja, bahkan saat ini lebih banyak dihadiri oleh jamaah umum.
"Tapi nilai-nilai tetap kita peradakan, seperti tradisi pengajian tiap Kamis dan jumat malam yang diisi oleh para sesepuh Toraja-Muslim yang kini bermukim di Makassar," kata Ustad Jamal.
Bahkan di bulan Ramadan ini, 50 persen Muballiq atau penceramah Tarwih adalah Ustad keturunan Toraja-Muslim.
"Kedepan karena kita masih memiliki sekitar 1200 meter persegi lahan kosong akan dibuat gedung pertemuan, Workshop dan lainnya untuk meningkatkan lagi kegiatan yang diperuntukan bagi komunitas," tutup Jamal.(*)