Oleh: GUNAWAN, Guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhoksumawe dan Anggota FAMe Chapter Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
RAMADHAN selalu memiliki denyut yang berbeda di Bumi Aceh. Sejak dahulu, Serambi Makkah ini dikenal sebagai wilayah yang memuliakan Al-Qur’an dan menjadikan syariat sebagai napas kehidupan masyarakatnya.
Siang hari dan malam suasana terasa tenang, segala aktivitas terhenti sejenak demi menghargai shalat Isya dan Tarawih yang dilaksanakan setiap malamnya. Kemudian, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema merdu di masjid dan meunasah.
Dalam jejak sejarah Aceh, masa Kesultanan Iskandar Muda, ulama dari berbagai wilayah seperti Arab, Persia, dan India datang ke Aceh untuk mengajar.
Di bulan Ramadhan biasanya diadakan majelis ilmu, tafsir Al-Qur’an, dan diskusi keagamaan di masjid, meunasah, dan dayah (pesantren). Aceh bahkan dikenal sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara (Danys Lombard).
Semangat itulah yang hari ini terus dihidupkan dalam ruang-ruang kelas SD Sukma Bangsa Lhokseumawe.
Selama bulan Ramadhan, aktivitas belajar para murid tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada penanaman rasa cinta terhadap Al-Qur’an, penguatan moral, dan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan merupakan bagian dari perintah Allah Swt.
Ramadhan menjadi momentum pendidikan ruhani sekaligus intelektual.
Setiap pagi, sebelum pembelajaran reguler dimulai, 30 menit pertama menjadi waktu yang istimewa bagi murid kelas 1 hingga kelas 6. Mereka duduk rapi di kelas, mendengarkan materi yang disampaikan wali kelas dengan metode berkisah dan video interaktif. Tema yang dibahas mencakup Nuzulul Qur’an, tafsir Surah Al-Mujadallah ayat 11, kemuliaan Al-Qur’an pada malam Lailatulqadar, adab terhadap Al-Qur’an, serta kisah-kisah hikmah dalam ayat-ayat suci.
Dalam pembahasan Surah Al-Mujadallah ayat 11, anak-anak diajak memahami bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Pesan ini menjadi fondasi penting bahwa menuntut ilmu adalah jalan kemuliaan. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali, ilmu dan adab tidak boleh dipisahkan. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu akan kehilangan arah.
Materi tentang Lailatulqadar juga membekas dalam hati siswa. Mereka memahami bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dengan bahasa sederhana, guru menanamkan rasa takzim terhadap kitab suci dan mendorong anak-anak untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, memahami, maupun mengamalkannya.
Guru dan sisiwa bersama-sama membacakan Surah Al-Alaq dan memahami maknanya.
Yang menjadi kekhasan pembelajaran di SD Sukma Bangsa adalah integrasi dalil Al-Qur’an dalam setiap mata pelajaran. Tidak hanya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), tetapi seluruh guru mata pelajaran pun diwajibkan mencantumkan ayat yang relevan dengan materi ajar.
Yang menarik, sebelum guru memulai pelajaran reguler seperti matematika, IPA, IPS,
maupun bahasa Indonesia, selalu diawali dengan penyampaian satu dalil Al-Qur’an yang dikaitkan dengan materi yang akan diajarkan. Jika belajar tentang alam dan sains, guru mengaitkannya dengan ayat-ayat tentang penciptaan langit dan Bumi. Jika belajar tentang disiplin dan tanggung jawab, dikaitkan dengan ayat tentang amanah dan kejujuran. Jika belajar tentang kerja keras dan proses, guru menghubungkannya dengan ayat tentang sunnatullah dalam kehidupan.
Pendekatan ini memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa setiap ilmu pengetahuan dan sains memiliki keterkaitan dengan Al-Qur’an.
Perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan kemajuan ilmu hakikatnya mengikuti prinsip-prinsip yang telah Allah jelaskan dalam kitab-Nya. Al-Qur’an bukan hanya pedoman ibadah, tetapi juga sumber inspirasi ilmu pengetahuan. Karena segala bentuk macam perubahan globalisasi saat ini semuanya sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, tetapi sayangnya sangat sedikit dari kita yang mendalami kitab suci tersebut.
Sebagaimana disampaikan oleh Buya Hamka, Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk berpikir, meneliti, dan mengambil pelajaran dari alam. Ayat-ayat tentang penciptaan, peredaran matahari dan bulan, serta pergantian siang dan malam adalah isyarat agar manusia menggunakan akal dan ilmunya.
Dengan cara inilah anak-anak dibentuk untuk melihat bahwa belajar sains bukanlah sesuatu yang terpisah dari iman, melainkan keseimbangan hidup serta bagian dari penghambaan kepada Allah.
Puncak kegiatan Ramadhan di SD kami dikemas dalam kegiatan “Ramadhan Village.” Siswa dibagi dalam kelompok halakah untuk memperdalam ilmu fikih, khususnya praktik ibadah. Mereka belajar kembali tentang tata cara wudu, rukun, dan sunah shalat, serta adab berpuasa.
Pada hari berikutnya, diadakan lomba praktik shalat berjamaah, azan sebagai bentuk pembiasaan dan evaluasi. Anak-anak tampil penuh percaya diri, memperagakan gerakan dan bacaa dengan khusyuk.
Kegiatan ditutup dengan tausiah “Nuzulul Qur’an” dan penyaluran santunan kepada yatim piatu serta keluarga kurang mampu. Dana santunan berasal dari infak seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 yang dikumpulkan setiap hari Jumat sebelum Ramadhan, mulai dari semester satu dan dua.
Anak-anak belajar bahwa berbagi adalah bagian dari iman dan bukti nyata dari pemahaman mereka terhadap ajaran Al-Qur’an.
Tradisi mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan ini memiliki akar sejarah
kuat di Aceh. Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan. Selain memperkuat armada dan ekonomi, beliau juga menjadikan pendidikan sebagai prioritas.
Ulama-ulama besar dihadirkan ke Aceh dan pusat-pusat pendidikan berkembang pesat. Masjid Raya Baiturrahman pada masa itu bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kajian tafsir, fikih, astronomi, dan ilmu falak.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu, Aceh menjadi salah satu pusat studi Islam terkemuka di Asia Tenggara. Ilmu agama dan ilmu rasional (seperti matematika dan astronomi) dipelajari berdampingan. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, Aceh memahami bahwa kemajuan peradaban harus dibangun di atas fondasi Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.
Semangat itulah yang kini terasa kembali dalam suasana Ramadhan di SD Sukma
Bangsa Lhokseumawe. Sekolah tidak hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga dibiasakan untuk santun, disiplin, peduli, dan mencintai Al-Qur’an.
Ramadhan di sekolah ini menjadi gambaran kecil tentang harapan besar bagi Aceh. Dari kelas-kelas yang sederhana, lahir generasi yang memahami bahwa iman dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Bahwa setiap pelajaran memiliki nilai ketauhidan. Bahwa setiap perkembangan zaman telah Allah isyaratkan dalam firman-Nya.
Jika pada masa lalu Aceh melahirkan generasi emas di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, maka hari ini harapan itu kembali ditanam melalui pendidikan yang qurani.
Semoga dari tangan-tangan kecil yang gemar membaca Al-Qur’an, dari hati yang lembut karena terbiasa berbagi, dan dari akal yang diasah dengan ilmu pengetahuan, akan lahir generasi Aceh yang berilmu, beradab, dan siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berpegang teguh pada Al-Qur’an. (*)