Viral Fenomena Daun Tak Bergerak saat Salat Idul Fitri, Ternyata Begini Penjelasan Ilmiah dan Pandangan Islam
Fidiah Nuzul Aini March 21, 2026 12:35 AM

Grid.ID - Fenomena daun tak bergerak saat salat Idul Fitri kini sedang menjadi sorotan. Ternyata begini penjelasan ilmiah dan pandangan islam.

Fenomena daun yang terlihat diam saat sholat Idul Fitri sering menjadi perbincangan di masyarakat dan kerap dikaitkan dengan keyakinan bahwa alam turut bertasbih kepada Tuhan. Banyak orang merasakan suasana yang lebih tenang saat pelaksanaan sholat Id, sehingga lingkungan sekitar tampak lebih hening dibandingkan hari biasa.

Kini tengah viral fenomena daun tak bergerak saat salat Idul Fitri. Ternyata begini penjelasan ilmiah dan pandangan islam.

Melansir dari Kompas.com, kondisi tersebut membuat sebagian orang menganggap bahwa pohon dan daun seolah ikut “hening” sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah yang sedang berlangsung.

Namun, benarkah daun benar-benar berhenti bergerak? Secara ilmiah, fenomena daun yang tampak diam tidak bisa dibuktikan sebagai kejadian khusus yang hanya terjadi saat salat Idulfitri. Berdasarkan jurnal The Diversity of Chemical Substances Controlling The Nyctinastic Leaf-Movement in Plants (2000) oleh Minoru Ueda dan tim, pergerakan daun dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama kecepatan angin di dekat permukaan tanah yang berubah sepanjang hari.

Pada pagi hari, termasuk saat pelaksanaan salat Idulfitri, kondisi udara cenderung lebih stabil karena pemanasan matahari belum maksimal. Akibatnya, angin bertiup lebih lemah dibandingkan siang hari.

Minimnya hembusan angin ini membuat daun terlihat lebih tenang atau hampir tidak bergerak, khususnya di area yang terlindung dari aliran udara langsung. Selain itu, tingkat kelembapan yang relatif tinggi di pagi hari juga mengurangi gejolak udara, sehingga gerakan daun menjadi lebih halus dan kurang terlihat.

Dari sisi persepsi manusia, suasana yang hening dan khusyuk saat ibadah turut memengaruhi cara otak dalam menangkap kondisi sekitar. Ketika seseorang berada dalam kondisi fokus dan tenang, perhatian terhadap suara maupun gerakan di sekitarnya cenderung berkurang, sehingga lingkungan terasa lebih sunyi dan stabil.

Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai selective attention, yakni kemampuan otak untuk memusatkan perhatian pada satu aktivitas utama dan mengabaikan rangsangan lain. Akibatnya, gerakan kecil pada daun yang sebenarnya tetap terjadi bisa terasa seolah tidak ada.

Dari perspektif Islam, seluruh makhluk di langit dan bumi diyakini senantiasa bertasbih kepada Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 44. Ayat tersebut menyatakan bahwa semua ciptaan memuji Tuhan, meskipun manusia tidak memahami bagaimana caranya.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa seluruh makhluk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan melalui keberadaannya. Setiap ciptaan, termasuk tumbuhan dan alam semesta, tunduk pada aturan-Nya sebagai bagian dari tanda keagungan-Nya.

Pandangan ini juga berkaitan dengan konsep tauhid rububiyah, yang menegaskan bahwa Tuhan adalah pencipta sekaligus pengatur seluruh alam.

Meski demikian, tidak ada dalil khusus yang menyebutkan bahwa daun berhenti bergerak saat salat Idulfitri. Fenomena tersebut lebih merupakan interpretasi manusia terhadap kondisi alam yang terasa lebih tenang saat ibadah berlangsung.

Pemahaman ini penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam membedakan antara keyakinan spiritual dan penjelasan ilmiah.

Fenomena ini dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam yang sama-sama tunduk pada kehendak Tuhan. Suasana tenang saat salat Id juga menjadi momen refleksi untuk meningkatkan kekhusyukan dan kesadaran spiritual.

Ketenangan alam yang dirasakan dapat membantu manusia lebih fokus dalam beribadah serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dengan demikian, fenomena daun yang terlihat diam saat salat Idulfitri merupakan perpaduan antara kondisi alam yang tenang dan persepsi manusia, sekaligus mengingatkan bahwa seluruh makhluk hidup berada dalam keteraturan di bawah kehendak Tuhan.

Di sisi lain, Pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi jatuh pada 21 Maret 2026. Keputusan tersebut diambil melalui sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Jakarta pada Kamis (19/3/2026).

Sidang isbat tersebut berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Pusat Kementerian Agama yang berlokasi di Jalan MH Thamrin No. 6, Jakarta.

“Dari pengamatan hilal tidak terlihat. Disepakatidari sidang isbat, maka pemerintah secara menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu 21 Maret 2026,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam konferensi pers yang digelar usai Sidang Isbat 1 Syawal 1446 H, dikutip dari Tribunnews.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.