Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) mengerahkan 100 truk untuk mengatasi tumpukan sampah di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Grogol Petamburan dan tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) Jembatan Lima dan Jembatan Besi, Tambora, Sabtu.

Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah mengatakan, tumpukan sampah itu terjadi akibat kendala teknis serta perubahan jadwal pembuangan di Tempat Pembuangan (TPA) Bantar Gebang.

"Kemarin ada hambatan teknis pengiriman ke Bantar Gebang sehingga terjadi tumpukan sampah yang luar biasa. Namun, berkat kebijakan Dinas dan Sudin, hari ini ada 100 truk yang dikerahkan untuk menyelesaikan persoalan sampah yang tertunda tersebut," kata Iin saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Selain menyelesaikan masalah tumpukan sampah, Pemkot juga berupaya menangani saluran air yang mengalami pendangkalan parah akibat sedimen lumpur dan sampah.

Iin mengatakan, menyusul kawasan tersebut rawan banjir luapan Kali Angke, maka pihaknya berencana menggelar kerja bakti massal terpadu setelah Hari Raya Idul Fitri.

"Tadi saya tes menggunakan bambu, salurannya sangat dangkal. Setelah Lebaran, kami akan lakukan kerja bakti terpadu dengan tim teknis untuk normalisasi," tambah Iin.

Sebagai langkah jangka panjang, pihaknya juga bakal melakukan optimalisasi pemilahan sampah organik dari sumbernya, salah satunya melalui lubang biopori di jalur-jalur taman agar sampah daun tidak perlu lagi dibuang ke Bantar Gebang, melainkan diolah menjadi kompos dan membantu resapan air.

"Sampah daun jangan lagi dibuang ke Bantar Gebang. Kita akan buat lubang resapan biopori di jalur taman. Sampah daun dicacah dan dimasukkan ke sana agar menjadi pupuk hara sekaligus membantu resapan air saat musim hujan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Kasudin LH) Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Satpel LH Tambora untuk menerapkan strategi "gempur" guna mempercepat pembersihan.

"Kebijakan kita sekarang adalah mengedepankan prioritas pada titik dengan volume sampah yang tinggi. Kita gempur secara bersama-sama. Jadi tidak ada lagi truk yang berpencar satu-satu di tiap kelurahan, tapi kita fokus tuntaskan satu tempat baru bergerak ke tempat lain agar hasilnya tuntas," jelas Achmad Hariadi.

Ia menambahkan, strategi ini diambil untuk menyiasati keterbatasan armada. Meski melakukan penggempuran di titik krusial seperti wilayah Tambora dan Jelambar Baru, ia memastikan layanan rutin di jalur protokol tetap berjalan.

Terkait penumpukan di Jelambar Baru, Achmad menegaskan telah memberikan teguran kepada pengawas di lapangan agar kejadian serupa tidak terulang, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur lintasan utama.

"Jelambar Baru itu titik lintasan yang seharusnya prioritas. Saya dan Bu Wali Kota sudah menegur Kasatpel serta pengawasnya agar tidak mengulangi lagi dan untuk memastikan masyarakat kembali nyaman," imbuhnya.